Obrolan Alam Rahim

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Juli 2016
Obrolan Alam Rahim

Hanya tinggal menunggu tiga puluh menit lagi sebelum semesta kita bersatu. Semesta dunia yang kupunya dan semesta rahim yang masih kau rengkuh. Kadang, aku masih suka tidak percaya bahwa kau telah memilihku. Di dunia sebelum ini, kita berdua pernah bertemu. Bukan dalam wujud seperti yang kita kenal sekarang. Namun kita telah berdua telah bersepakat dan berjanji bahwa kehidupan di dunia nantinya kita akan saling bersisian. Menggarisi takdir hidup masing-masing dalam kedekatan yang sudah direncanakan. Nantinya di dunia, mereka akan lebih mengenalmu sebagai anakku. Namun kita berdua tahu bahwa kita adalah sepasang jiwa yang satu dalam kehidupan sebelumnya dan dilahirkan dalam dua tubuh yang berbeda di kehidupan yang sekarang. Kita sudah saling memilih satu sama lain. Aku telah memilihmu begitupula kau yang telah memilihku.

Kau memilih tubuhku untuk menjadi pintumu mengenal dunia. Kau memilih jiwaku untuk bersemayamnya hati mungilmu yang berdenyut dalam nadiku. Kau memilih rahimku untuk tempat berlindungmu selama Sembilan bulan. Membuat kita berdua saling terikat, saling membelit antara satu sama lain. Jiwaku berpegangan pada keutuhanmu, kehadiranmu berpegangan pada keberanianku, keberadaanmu berpegangan pada rasa cintaku dan kebahagiaanku berpegangan pada tangismu nanti.

Nak, ternyata kehidupan manusia diawali dengan sebuah tangisan. Percayakah kau itu? Jadi nanti ketika kau tumbuh kelak, jangan terlalu percaya dengan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa tangisan adalah tanda kelemahan. Percayalah, tangisan juga bentuk lain dari sebuah kekuatan. Kekuatan yang berasal dari daya tahan jiwa yang selama ini tetap berdiri tegak menghadapi bertubi masalah. Karena tiap butir air mata yang jatuh nyatanya adalah kristalisai dari kesabaran, ketabahan dan kekuatan. Tangisan adalah cara manusia untuk merayakan kehidupannya. Merayakan bahwa dia masih memiliki hati yang masih bisa merasa. Bukan sebongkah batu yang tidak akan merasa apapun ketika masalah menerjang dan kesulitan hidup menimpa. Jadi ketika masalah datang maupun kesulitan menyapa maka menangislah Nak, tidak apa-apa. Menangislah untuk merayakan kehidupanmu. Menangislah untuk merayakan Tuhan yang masih peduli dan tersenyum kepadamu. Menangislah untuk merayakan bahwa kau masih memiliki hati yang merasa bukan sebongkah batu.

Tinggal dua puluh menit lagi sebelum semesta kita bersatu. Bahkan aku sudah mulai bisa mendengar detak jantungmu di perutku. Detak jantungmu ternyata adalah melodi terindah di alam semesta ini. Sungguh, aku ingin segera merengkuhmu dan mendekatkan denyut jantungmu langsung ke telingaku. Membiarkan melodi terindah di alam semesta tersebut menjadi milikku sepenuhnya. Namun aku tahu Nak, bukan hal yang mudah untuk melakukan hal tersebut. Sebelum berada di ruangan penuh cat pucat ini, terlebih dahulu aku memenuhi kepalaku dengan berbagai riset. Mulai dari membaca buku kesehatan, membaca tabloid khusus ibu dan anak, membaca artikel tentang melahirkan hingga bertanya langsung pada mereka yang telah merasakannya langsung. Dan dari semua hal tersebut memiliki satu hal yang sama: RASA SAKIT! Entah seperti apa sensasinya. Namun mereka semua berkata bahwa ketika seorang wanita melahirkan maka rasanya seperti dua puluh tulang dalam tubuh remuk dalam waktu yang bersamaan. Saling berhimpitan hanya untuk menghancurkan tubuhmu. Tidak berhenti sampai disitu saja, Tubuh juga akan kehilangan darah sebanyak 500 ml. Dan semua hal tersebut akan berpadu untuk membuat sang wanita yang tengah melahirkan akan merasakan sakit hingga skala 57 Del.

Tahukah kau Nak, manusia biasa hanya mampu menahan sakit sampai batas skala 45 Del? Lalu darimanakah sumber kekuatan para wanita yang mampu menahan rasa sakit di luar nalar manusia normal tersebut agar bisa melihat malaikat kecil mereka? Sungguh, aku percaya kekuatan tersebut berasal dari kesabaran dan keteguhan hati mereka yang kukuh. Dua hal yang mampu menginjeksikan jutaan semangat kepada otot-otot mereka yang tengah ringkih, pada tulang-tulang mereka yang tengah remuk dan pada tubuh mereka yang terus berteriak untuk menyerah.

Sungguh Nak, aku berharap nantinya aku memiliki dua hal tersebut. Tapi aku juga harus mengakui kepadamu bahwa aku takut, sangat takut malah. Bayangan tentang rasa sakit yang tak terperi terus membayangi. Tentang dua puluh tulang yang remuk secara bersaman. Tentang darah yang terkuras habis dari tubuh. Namun yang paling kutakutkan adalah aku tidak mampu bertahan dari itu semua. Aku tidak mampu mendengar denyut jantungmu secara langsung. Tidak mampu mendengar tangisanmu yang merdu itu. Kalah oleh rasa sakit yang merajaiku hingga nafas terakhir.

Nak, aku harus mengakhiri obrolan ini. Sebentar lagi akan ada suster atau dokter yang akan membawaku ke ruang persalinan. Disanalah aku akan membuktikan segalanya. Keteguhanku, kesabaranku bahkan ketakutanku. Namun sesakit apapun, senyeri apapun atau semenggoda apapun rasa untuk menyerah, aku ingin kau tahu satu hal Nak; aku akan bertahan! Karena nantinya aku juga ingin kau melakukan hal yang sama untuk hidupmu. Hidup memang bukan sekantung penuh gulali, Nak. Bukan hanya masa manis dan indah yang akan kau kecap namun juga masa-masa pahit, getir maupun sakit yang harus kau jalani. Kelak:

Ketika kau merasa disakiti ….                        Bertahanlah.

Ketika kau merasa dikhianati ….                    Bertahanlah.

Ketika kau dipandang sebelah mata            Bertahanlah.

Ketika kau dipandang hina …..                      Bertahanlah.

Ketika kau merasa sendiri …..                        Bertahanlah.

Ketika kau merasa kalah …..                          Bertahanlah.

Ketika mimpimu tak kunjung kau raih            Bertahanlah.

Ketika semua cintamu kandas   ….                Bertahanlah.

Ketika semua harapan indahmu berubah menjadi debu …. Bertahanlah.

Ketika hidupmu terasa berada dalam jurang yang tak berujung dan masalah terus menguras kebahagiaanmu, aku hanya minta satu hal: Bertahanlah!

Bukankah malam akan semakin pekat sebelum fajar datang? Bukanlah pelangi akan terasa digdaya ketika hujan deras terlihat seperti tak akan pernah reda? Percayalah Nak, hidupmu bukan berasal dari kesia-siaan. Hidupmu berasal dari rasa cinta dan perjuangan yang begitu besar. Bahkan hidupmu mempertaruhkan nafas dan nyawa untuk mewujud ke dunia. Jadi jangan pernah percaya kata-kata orang yang nantinya meremehkan atau merendahkanmu. Karena kau lebih berharga dari itu semua. Banyak orang yang beranggapan bahwa manusia yang paling beruntung di muka bumi ini adalah manusia yang tidak pernah terlahirkan. Karena bagi mereka tempat teraman di alam semesta ini adalah di dalam rahim ibu. Batas antara ketenangan dan ketersiksaan ternyata hanya setipis dinding perut ibu dengan dunia diluar sana. Barangkali mereka ada benarnya. Namun aku tidak ingin kau menjadi seperti mereka. Aku ingin kau menjadi manusia yang mengalami. Mengalami bahagia, sedih, tertawa maupun terluka. Agar kau percaya bahwa Tuhan itu memang Maha Ada. Agar kau menghargai perasaanmu sendiri dan perasaan orang-orang yang mencintaimu.

Maaf Nak, aku harus pergi. Sudah ada dua suster yang menjemputku. Padahal masih banyak yang ingin kubicarakan padamu. Tapi aku yakin aku akan melanjutkan obrolan ini lagi. Tentunya denganmu di dunia nyata sembari mendengar denyut jantungmu.

Nak, kita akan segera bertemu saat semesta kita berpadu. Memenuhi janji yang telah sama-sama kita sepakati di kehidupan sebelum dunia.

 

  • view 478