Satu Hari Untuk Selamanya

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2016
Satu Hari Untuk Selamanya

Hening di mata itu sejenak berhenti. Diganti dengan polusi udara dan juga mungkin, polusi hati. Detik waktu terasa ikut mati. Membeku dalam pikiran mereka yang senyap dan sunyi. Kota besar dan kemacetan adalah hal wajar. Mobil kecil mereka berdua juga tidak luput dan harus sabar. Terdesaklah mereka dalam antrian puluhan mobil lainnya. Suara Michael Jakson yang berasal dari radio di mobil, tetap tidak mampu mencuri perhatian mereka berdua. Ujung senja yang berarak, yang sebentar lagi dibunuh petang buta, ternyata lebih memanja mata. Dua sejoli dalam satu mobil seakan dipisah samudera.

Empat puluh lima menit. Cukup empat puluh lima menit. Durasi perjalanan dari rumah sakit sebelum terjebak di kemacetan ini adalah hitungannya. Durasi waktu yang bahkan tidak sampai satu jam itu sudah cukup untuk mengaratkan esensi dari rentang hubungan tujuh tahun. Membuat cinta yang dulu berapi-api menjadi dingin dan siap mati. Pria itu masih memegang setir dengan tangan licin dan keringat dingin. Sedangkan wanita disebelahnya terus sibuk memenjarakan lamunan sembari membuang mata ke laut yang asin. Meski sesekali matanya melirik ke arah pria itu. Mencuri pandang dan memeriksa masihkah ada cinta yang tersisa di matanya.

Kini, mata itu begitu sunyi. Waktu telah berubah menjadi hakim yang menjatuhkan eksekusi mati. Kisah cinta mereka akan menjadi terdakwa sekaligus saksi. Tubuh itu hanya berjarak beberapa senti. Cinta masih merambat hangat di kulit dan hati. Namun, mata pria itu tetap masih sunyi. Seperti ada jurang disana yang dia gali. Membuat jiwa perempuan itu terjungkal dalam kehampaan. Padahal beberapa jam yang lalu, mata itu masih hangat. Cinta masih deras ditransfer dari kulit dan hatinya sekaligus. Perempuan itu sempat yakin bahwa hidup bahagia selama-lamanya bukan hanya di akhir buku dongeng namun juga di dunia nyata, di hangat matanya.

Namun itu dulu, beberapa jam yang lalu. Sebelum mereka berdua mengetahui kenyataan yang akhirnya menggali jurang gelap di dalam matanya. Empat puluh lima menit yang mengubah segalanya. Cincin melingkar agung di jari manis mereka berdua. Dengan masing-masing nama pasangan yang terukir. Sebagai penanda bahwa mereka pernah dimabuk cinta dan bergelimpang bahagia. Sebelum empat puluh lima menit yang mengoyak semua. Perempuan itu mulai berandai. Seandainya saja masih banyak tumpukan baju kotor, seandainya saja genteng rumah bocor, seandainya saja kucing peliharaan mati, seandainya saja mobil belum dicuci, seandainya saja cuaca mendadak hujan, seandainya saja ada acara Crayon Shinchan, seandainya saja mendadak ada arisan. Tentu dia punya banyak alasan untuk menolak permintaan dari pria yang sudah tujuh tahun berstatus sebagai suaminya itu. Namun waktu dan semesta seakan mendukung untuk empat puluh lima menit itu hadir dan menusuk mereka.

Akhirnya perempuan itu tak bisa mengelak, mengambil hasil pemeriksaan ke dokter kandungan telah menjadi agenda wajib yang tak bisa lagi ia hindari. Detik itu berubah beku. Membuat jemarinya berubah kaku. Meski sang dokter berkumis sudah berusaha memberi tahu dengan kalimat santun dan manis. Namun kenyataan sadis tak bisa secuilpun dikikis. Ruangan serba putih mendadak berubah sempit dan menyesakkan dadanya. Perempuan itu melirik ke arah suaminya dan melihat hangat matanya telah mencair kemudian berubah dingin. Mungkinkah cinta itu begitu saja dibawa angin. Dia tidak lagi mengenali tatapan yang telah berubah asing. ”Kemandulan” adalah palu eksekusi yang dihantam keras untuk perempuan itu. Membuatnya hatinya hancur dan bangunan harapannya runtuh seketika. Bangunan impian yang susah payah mereka berdua bangun. Sejak masih pacaran kemudian bertunangan hingga akhirnya melingkarlah cincin itu di jari masing-masing. Semenjak malam pertama hingga ratusan malam yang telah dilewati. Mereka telah sepakat, akan punya lima anak. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Dengan urutan pertama adalah laki-laki, yang kedua laki-laki lagi kemudian dilanjutkan perempuan lalu perempuan sekali lagi dan yang terakhir anak laki-laki yang dijadikan bungsu. Mereka selalu berkeyakinan bahwa anak laki-laki lebih bisa melindungi keluarga. Sedangkan urutan itu sudah mereka sesuaikan dengan jarak usia mereka yang tidak boleh terlalu jauh. Dua kakak laki-laki akan dijadikan kebanggaan sedangkan dua adik perempuan dijadikan penyeimbang lalu si bungsu dijadikan pemanis ketika sang abang dan adik sudah tidak pantas lagi untuk sekedar dipeluk atau dicium.

Mereka tak pernah memusingkan dengan anggaran keuangan. Selain berpegang teguh dengan petuah lama ‘banyak anak banyak rejeki’. Si pria juga adalah seorang manajer di salah satu perusahaan besar sedangkan si perempuan masih berstatus karyawan tetap di sebuah majalah. Harapan itu sering membuat mereka berdebat. Tentang cat kamar, poster, mainan, baju, dan hal remeh temeh lainnya tentang anak pertama. Si laki-laki tetap kekeh dengan Tin-Tin sedangkan si perempuan tak mau berpaling dari Hello kitty. Warna pink atau warna ungu. Redup atau terang. Sepatu atau kaos kaki. Bunga atau matahari. Bersama atau sendiri. Susu formula atau ASI. Baru kali ini perbedaan pendapat terasa begitu indah. Mereka melambung dalam langit harapan dengan awan-awan putih yang menggantung. Tapi lima anak itu masih tinggal benak mereka, menggantung di bintang yang tiap malam mereka tunjuk sebagai doa yang tak kunjung terkabul.

Saat tahun pertama pernikahan, doa itu belum terlalu gencar diucap karena semua maklum. Tahun kedua, mulailah mereka bergerilya dari kasur sampai hitungan masa subur. Tahun ketiga, mulailah berseliweran pertanyaan menjengkelkan ‘kapan punya anak?’ dari mertua sampai ipar-ipar. Mereka hanya bisa menjawab sekena dan sebisanya. Tahun keempat sampai kelima, mulailah keadaan menjadi genting. Test pack tak kunjung menunjukan hasil yang mereka berdua inginkan, positif. Segala cara telah mereka usahakan. Mulai dari makan tauge, senam kesuburan, minum jamu, minum multivitamin, fitnes, yoga, menghapal sistem kalender kesuburan sampai baca buku kamasutra dan mengikuti anjuran posisi bercinta. Semua masih nihil. Tahun keenam dan ketujuh adalah puncaknya. Mertua dan ipar-ipar bukan lagi gencar menanyakan pertanyaan yang menjengkelkan tapi juga sudah mulai meringsek ke urusan pribadi mereka. Mulai dari menawarkan obat, menawarkan dokter langganan hingga disuruh ke orang pintar. Dengan jaminan bahwa orang yang pernah kesana, bahkan sekarang sudah punya cucu. Mereka berdua sama-sama merasa jengkel. Kenapa pernikahan ini lebih mirip lomba balap karung. Siapa cepat dia dapat.

Apa salahnya dengan pernikahan tujuh tahun tanpa anak? Mengapa mereka tidak dibiarkan untuk berjalan pelan dan tenang untuk menikmati cinta bukan malah untuk mengikuti lomba? Tak bisakah cinta saja untuk membuat mereka bertahan? Sebelum cinta jadi angan, perjalanan jadi ratapan, getaran jadi harapan, dan tujuh tahun jadi abu kenangan. Padahal tujuh tahun terasa sedebur ombak. Menguatkan denyut-denyut cinta bukan lewat drama satu babak. Perempuan itu mencintai laki-laki itu dengan sepenuhnya. Tubuh, mata, telinga, kepala, kaki, hati, jiwa, rasa dan segalanya. Dalam hening, riuh, ramai, sunyi, sepi, senyap tanpa perlu lenyap. Tak peduli hujan, kemarau, pancaroba, atau salju sekalipun. Dengan getar, debar, denyut, hanyut masih sama seperti dulu.

Seperti tujuh tahun yang lalu. Mereka tak pernah kekurangan apapun. Sebelum kenyataan bahwa tendangan halus di dinding perut perempuan itu tak kunjung hadir. Sebelum semua takdir mereka berdua berubah getir. Mereka berdua sering berdebat. Berselisih dalam hal kecil namun jarang sepakat. Lebih baik Joy atau Delon. Sophia Latjuba atau Luna Maya. Anggun atau Agnes Monica. Noah atau Peterpan. Prabowo atau Jokowi. Aerosmith atau Bon Jovi. Tulus atau Payung Teduh. J.K Rowling atau Stephenie Meyer. Titanic atau Ada Apa Dengan Cinta. Menghabiskan sore dengan minuh teh atau kopi. Belanja bulanan di pasar atau Pondok Indah Mall. Memilih hadiah ulang tahun berlian atau makan malam. Sarapan dengan roti atau bubur ayam. Menghabiskan malam minggu di rumah atau Twenty One. Nonton Crayon Shinchan atau Sports One. Memelihara kucing atau ikan. Mereka jarang sepakat.

Namun disana hati tak perlu lagi dibebat. Namun waktu kembali menyempit. Membuat detik serasa berdecit. Mobil kecil itu masih menunggu macet yang tak kunjung terurai. Kesunyian itu membuat perempuan itu sekuat tenaga menahan air mata yang ingin berderai. Sudah tiga puluh menit mereka begini. Melebur dalam hening dingin yang hampir membuatnya mati. Perempuan itu tak pernah menginginkan jadinya seperti ini.

Empat puluh lima menit telah berubah menjadi tujuh puluh lima menit yang terpaksa dia masukan dalam rekening sakit hati. Cinta telah berubah hambar. Dua jiwa dengan keterpautan jarak yang mendadak melebar. Hati tak lagi menyimpan memori. Hati telah dijadikan sarana untuk perpisahan yang tinggal menghitung hari. Senja telah di ujung penghabisan. Pekatnya malam telah mengetuk pintu. Namun mata mereka tak kunjung bertemu.

Perempuan itu merasa lelah sekaligus kalah. Dia ingin tiarap kemudian menyerah. Keluar lalu kabur dari penjara ini. Mengejar burung gereja di awan. Mencari kura-kura di lautan. Merampok bank dan kabur di jalanan. Mencuri bintang kejora. Membeli novel asmara. Memancing di kolam. Atau pergi ke pantai lalu menyelam. Apa saja. Asal jangan disini.Rasa sunyi itu makin mengintimidasi. Mata laki-laki itu masih sepi. Akhirnya perempuan itu tak tahan jua. Refleks, perempuan itu merengkuh tubuh laki-laki di sampingnya. Terasa dua debur jantung yang bertemu. Tubuh yang bersatu. Tangannya terus erat memeluk tubuh itu. Suhu tubuh mereka lantas berpadu. Mencairkan kerak-kerak es yang selama tujuh puluh lima menit mereka pelihara untuk membeku. Hancurlah titik pilu. Tubuh perempuan itu sampai terguncang-guncang menahan air mata yang deras berjatuhan.

“ Maaf..” adalah kata pertama yang meluncur keluar dari perempuan itu setelah tujuh puluh lima menit keadaan membeku.

Laki-laki itu masih terdiam.

“ Bertahanlah..” tubuh perempuan itu masih terguncang menahan sesenggukan.

“ Bertahanlah...bertahanlah.” ulang perempuan itu seperti tengah merapal mantra.

Akhirnya mata mereka bertemu. Tapi kini lain, mata itu tak lagi sunyi. Dingin juga telah melumer. Mata hangat itulah yang sudah dikenalnya sejak tujuh tahun yang lalu. Pria itu telah kembali. Kemudian pria itulah yang berbalik merengkuh kencang perempuan itu. Melenturkan otot-otot yang sedari tadi mengencang. Menautkan kembali jiwa yang tadi merenggang.

Kemudian pria itu berbisik lirih. “ Aku punya kamu..” pria itu memberi jeda. “ Kamu punya aku..” “ Apa lagi yang kurang?” tak tahan pilu itu juga ikut hancur.

Pelukan itu kembali mengerat. Sisa cahaya senja masuk indah di kaca mobil mereka. Menghangatkan kulit dan hati. Menasbihkan cinta yang telah kembali. Akhirnya kemacetan itu perlahan mengurai. Setelah air mata berderai. Mereka saling menggenggam tangan erat. Menghancurkan segala sekat. Karena jiwa itu telah lahir baru dan melunturkan segala penat.

Mobil kecil itu melaju. Menjemput hidup dan nasib yang selalu maju. Mereka berdua ingin selalu begitu.

 

Sebelum cinta jadi angan, perjalanan jadi ratapan, getaran jadi harapan, dan tujuh tahun jadi abu kenangan.