Seribu Tahun

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Januari 2016
Seribu Tahun

Mata hitammu tampak menyatu dengan langit malam. Cahaya bulan dan beberapa kunang-kunang menyatu indah menyelimutimu. Kilau matamu yang sanggup menyapu gelap malam sepekat apapun, apalagi cuma aku yang hanya menyimpan sebongkah hati.

?

?Sudah berapa lama kamu mencintai aku?? kilau itu kini menantang mataku.

?

?3 tahun, 5 bulan, 2 minggu, 4 hari.? Jelasku yakin.

?

Kau sedikit tergelak, kombinasi antara geli dan simpati. Sebentar, aku melihat arloji di tangan kananku.

?

?Sekarang sudah pukul delapan lebih, jadi ditambah 16 jam 20 menit 14 detik. Selama itulah aku mencintaimu.?

?

Tak tahan, akhirnya kau mau malah terbahak. Kilau mata itu jadi makin bersinar. Rembulan pun pasti iri padamu, cahaya darimu sanggup menelan apapun. Apalagi cuma sebongkah hati yang kumiliki.

?

?Kamu sudah gila, akurasimu tentang kapan jatuh cinta benar-benar mencengangkan. Mungkin hanya kamu satu-satunya manusia di dunia ini yang terus menghitungnya.?

?

Gila? Itu belum seberapa. Aku belum menghitung beberapa detak jantung yang berdebar karena kamu, aku belum sempat menghitung berapa banyak aku merapal namamu bagai mantra, aku belum menghitung desah nafas yang berdesah sembunyi-sembunyi karena kamu. Meskipun aku belum sempat menghitungnya, aku yakin jumlahnya menyentuh angka miliaran malah tidak menutup kemungkinan triliunan. Sudah kubilang bukan? itu belum seberapa.

?

?Dan sepertinya, hitungan itu akan terus bertambah bukan??

?

?Ya,?

?

Semenjak getaran pertama yang kau beri di hari kedua bulan Februari, persis dua hari sebelum ulang tahunmu. Entah kenapa aku yakin, rasa ini tidak akan pernah mati. Berkembang biak bagai sel terus yang dipelihara. Menggelembung, memecah untuk terus bertambah banyak. Hingga tak menyisakan lagi rongga untuk sakit hati. Aku menyimpan cinta sekaligus menyimpan luka. Aku menyimpan mawar sekaligus menyimpan cuka. Sesuatu yang membuatku bahagia sekaligus terdera. Hitunganku juga belum ditambah dengan berapa banyak detik yang kuhabiskan untuk melamunkanmu, untuk meraupkan duka yang sama, untuk kembali merutuki sesuatu yang selalu di luar jangkauanku. Jangankan untuk menghitungnya, untuk kembali mengingatnya saja sudah begitu melelahkan.

?

Maka sebenarnya, aku bukan hanya menghitung sudah berapa lama aku jatuh cinta. Dalam 3 tahun, 5 bulan, 2 minggu, 4 hari 16 jam 20 menit dan sekian detik itu juga termasuk waktu yang kuhitung dimana kamu tidak pernah jadi milikku. Hanya menjadi bintang inspirasi yang sinarnya selalu membuatku terjaga di malam hari, membangunkanku kala pagi untuk siap kembali lagi dalam rutinitas menunggu. Kamu telah menjadi bintang yang dirangkai oleh orang lain, seorang pria yang amat beruntung bukan aku tentunya. Porsiku adalah mengamatimu, menjagamu dan kembali menghitung berapa waktu yang kuhabiskan untuk itu semua.

?

?Berapa banyak puisi yang kau buatkan untukku?? mata itu kembali menantang ke arahku.

?

?32. 20 puisi sudah kau baca, 10 puisi lainnya membuatmu tertawa dan 2 lainnya belum sempat kau baca.?

?

Kau kembali tergelak, ?Lama-lama kamu bisa jadi pujangga.?

?

?Atau malah jadi orang gila??

?

Gelak tawa itu makin menjadi-jadi, dingin malam tersapu oleh tawamu yang riang. Meski kau tidak pernah tahu dalam tiap tawamu ada deraku yang kau remas perlahan. Sakit tapi menyenangkan. Betapa cinta memang tidak pernah bisa berpadu dengan logika. Cinta seakan punya ranah sendiri. Ranah dimana pengorbanan tak ubahnya mainan dan luka tak ubahnya gulali warna-warni. Ranah dimana kau rela berikan segalanya termasuk logika milikmu sendiri.

?

Perlahan, derai tawa itu berhenti. Suasana berubah hening. Langit makin pekat sehingga cahaya bulan terasa begitu dekat dan seperti menyatu dengan lampu taman. Tiba-tiba kau sandarkan kepala mungilmu di bahuku. Terdengar beberapa kali desah nafas berat. Jemarimu meraih jemariku.

?

?Kenapa kamu terus bertahan?? sela suara yang keluar dari bibirmu.

?

Aku menatap langit, dan seperti itulah jawabanku. Gelap. Aku sendiri tidak tahu kekuatan macam apa hingga sampai sekarang aku masih disini. Menunggu sesuatu yang jelas-jelas tidak pernah jadi milikku. Menghitung sesuatu yang pasti hanya akan menambah rekening sakit hatiku saja. Atau aku mencintaimu dengan berbagai cara, termasuk dengan cara tidak memilikimu.

?

?Entahlah,? jawabku lirih.

?

Kau makin erat meremas tanganku. Seakan sedang mencoba bersimpati dengan apa yang kualami.

?

?Pasti sakit ya? Mencintai tanpa pernah memiliki?? desau angin membawa lari suaramu.

?

?Iya dan tidak.?

?

?Maksudnya??

?

Aku menarik nafas sebentar, menguak kembali timbunan luka yang selama ini tersimpan ternyata menyakitkan juga. Di titik itulah selama ini aku bangun benteng pertahanan terakhirku. Tak peduli sebanyak apapun ombak dera yang menyerang, aku pasti bertahan.

?

?Iya, karena aku merasa begitu bodoh. Bodoh karena diluar sana masih ada ribuan wanita yang bisa kujadikan opsi ketimbang terus menunggu satu hati yang tak yang pernah melirikku. Tidak, karena aku merasa kamu begitu berharga. Rasa sakit ini tidak artinya ketimbang sesuatu yang selalu kamu beri. Yaitu pengalaman untuk menjadikanku manusia seutuhnya.?

?

?Maaf.? Terdengar nada suaramu yang bergetar. Dadamu naik turun perlahan menandakan kau tengah menahan tangis. Jangan, kumohon jangan menangis. Kamu tidak pernah salah. Kamu mencintai orang yang sanggup menambatkan hatimu dan teori apapun yang kugunakan untuk menyangkalnya, kamu tidak salah. Kamu mencintai dia yang kau cinta, aku mencintai kamu yang tidak pernah mencintaiku, segalanya tidak ada yang salah. Hati tak bisa dipaksakan. Biarkan saja ia mengalir kemana ia mau. Penyesalan dan tidak penerimaan hanya akan membuat aliran itu terbendung, membuat hati kita jadi pampat. Aku yakin, aliran ini akan bermuara meski itu entah dimana. Di ranah bahagia atau malah ranah dera. Biarkan saja, kita tak punya hak untuk mengaturnya. Sakit, luka, bahagia atau tawa adalah riak yang harus kita alami untuk sampai ke tujuan. Aku hanya bisa berharap aliran ini akan membawa kita ke tujuan yang kita inginkan masing-masing. Meskipun itu berarti tidak disatukan dalam satu aliran yang sama.

?

Aku membasuh pilu yang mengalir dari tebing pipimu.

?

?Pernahkah kau berpikir untuk menyerah? Untuk berhenti menghitung angka-angka yang malah hanya membuatmu semakin sakit hati?? kau terbangun dari bahuku, lantas menatapku lembut.

?

?Tidak.?

?

?Sampai kapan kamu akan terus begini??

?

?Entahlah, mungkin sampai seribu tahun.? Jawabku asal.

?

?Seribu tahun??

?

Kau kembali tertawa, sendu yang masih tersisa di matamu bercampur dengan humor yang bersinar indah dari bibirmu.

?

?Itu artinya kamu bakal jadi lajang seumur hidup.?

?

?Kenapa tidak?? kau seperti dapat menangkap kesungguhan dari mataku. Sesuatu yang membuatmu tercenung beberapa saat.

?

Beringsut tubuhmu mendekat ke arahku,?Kamu tahu? Tidak pernah ada orang yang mencintaiku setulus dan sedalam ini. Hanya kamu satu-satunya yang bisa. Seandainya saja aku tidak mencintai dia maka pasti aku sudah lama memilihmu.?

?

?Kalau begitu aku akan menunggumu sampai tidak mencintai dia lagi.?

?

?Meski itu artinya seribu tahun sekalipun?? matamu menantang mataku.

?

?Ya, seribu tahun sekalipun.?

?

Kita berdua lantas tertawa bersama. Kegombalan yang menyatukan kita di langit pekat ini.

?

Cahaya bulan yang semakin terang telah menjadi penandamu untuk segera bangkit. Penanda kalau waktuku denganmu telah usai. Ada seseorang yang harus segera kau temui yang tentu saja itu bukan aku. Seseorang yang selama ini mampu merebut hatimu.

?

?Aku pergi dulu.?

?

Aku hanya mengangguk saja. Kubiarkan aliran itu untuk terus mengalir. Luka, duka, tawa, bahagia adalah riak dari pengalaman yang harus kita rasa bersama. Mengalami adalah sesungguhnya yang harus kita syukuri.

?

Mungkin, aku masih ingin disini. Menghitung kembali angka-angka yang terus bertambah karena masih terus mencintaimu. Bagai tetes air yang turun perlahan dari gletser. Pelan, banyak dan tak tahu kapan akan berhenti.

?

?


Sementara kamu pergi dan tak kembali.

?

?

  • view 210