PAMIT

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2016
PAMIT

Kepakan sayap Gagak berwarna hitam melebur hilang bersama dengan perginya malam. Bersamaan dengan itu kamu hadir dengan keheningan dan ketidaktahuan. Lantas aku berpikir, betapa beruntungnya mereka yang memulai segala sesuatu tanpa ekspektasi dan mengakhiri segalanya tanpa prasangka. Memulai sebuah jalinan tak ubah datangnya hujan. Datang dengan kepasrahan dan pergi tanpa adanya beban. Namun ikatan ini telah mengaratkan semua kalimat manis itu. Aku tahu ... kamu tahu, kita tahu, akan ada keputusan yang akan menikam satu sama lain. Perpisahan begitu mereka merangkai kerumitan yang menjerat simpul hati ini. Kehancuran begitu kita merangkainya dalam kiamat pikiran masing-masing.
?
?Pernahkah kamu jatuh cinta dengan seseorang, dimana apabila kamu kehilangan orang tersebut maka kamu seperti kehilangan dirimu sendiri?? Bibirmu mengeja pelan. Seakan tiap kata yang menggulir dari sana telah berubah menjadi mutiara.
?
Aku lebih memilih untuk diam dan mengalihkan pandanganku pada sinar matahari yang bergerak ingin tahu. Betapa perjalanan hati telah membawa kita sejauh ini. Dan pertanyaanmu hanya akan membawa kita pada hitungan 1+1=2. Tahunan bukan jurang masa sekejap mata bagi dua insan yang telah menyandarkan bahu satu sama lain. Namun bahu yang sama tak menjadi sebuah jaminan bahwa mata angin yang kita pandang memiliki sumber tujuan yang sama. Dan disinilah kita, di jurang keputusan untuk mengeratkan tangan hanya untuk memperpanjang masa dera atau malah melangkah jauh untuk menyembuhkan hati masing-masing.
?Pernahkah?? kau bertanya ulang.
?Aku tidak tahu.? Balasku pelan. Seakan suara itu hanya ingin kuberikan pada diriku sendiri. Karena sebongkah kebohongan baru saja menghantam dadaku. Lantas senyap segera menelan udara yang ada disekitar kita. Senyap yang kemudian membawa kita pada ranah masa lalu yang selama ini hanya bisa kita gapai dengan imaji yang dimiliki bersama.
?
?Aku tidak bisa bertahan seperti ini lagi.? Ujarmu dengan wajah layu.
?
Aku tahu, begitu tahu malah. Betapa hubungan tanpa status ini telah mencekik kebebasan kita masing-masing. Sayap-sayap pilihan yang malah kita remas dengan suka rela. Lalu kita menamai itu semua sebagai pengorbanan. Bukankah seorang idiot pernah berujar ?Love shall set you free?? Lalu dimanakah cinta mengambil peranannya dalam kebebasan yang nyatanya semu itu. Dan selama ini kita seperti dua orang yang sedang menunggu lotere, menanti atrian. Karena begitu kejutan yang tidak diinginkan menunjukan wajahnya, maka seketika itu juga kita bisa menunjuk jari kita pada masing-masing pihak. Mengatakan bahwa kamu yang menginginkan ini, bukannya aku. Betapa kita selama ini pura-pura menutup mata dengan semua hal tersebut.
?
?Aku tidak ingin kamu sakit lagi.? Balasku.
?
Kamu menunduk menandakan ketidakrelaan sekaligus pemahaman. Pemahaman bahwa jerat dera yang selama ini menyimpul hati kita berdua harus dilepaskan segera, memahami bahwa hubungan tanpa status tak ubahnya manusia tanpa kepala. Kamu bisa membayangkannya bukan, bagaimana mengerikannya manusia tanpa kepala? Dan tahunan itu telah membawa kita pada tebir jurang ini. Dan cinta sebesar apapun tidak akan pernah mampu membenarkan kita berdua melompat bersama. Kamu harus menyadari bahwa yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut kuhilang. Aku ingin kamu berbalik, menyongsong harapan yang masih mungkin bertengger di pundakmu. Melepaskan ikatan jemari yang telah membungkus kita pada pengalaman luar biasa. Pengalaman waktu dapat diukur, pengalaman raga juga dapat diukur namun bagaimana dengan pengalaman hati? Kau dan aku tahu, hal tersebut hanya dirasa dengan jiwa. Jadi biarkan aku yang memutus rantai dera itu, jerat yang selama ini mengungkung kebebasan kita berdua. Lantas bibirku lembut berbisik di telingamu:
?
?Kau harus percaya ku tetap teman baikmu. Yang berubah hanya ku tak lagi milikmu.?
?
Wajahmu berubah drastis, beradu antara rasa marah, kecewa dan takut. Tapi aku tak ingin goyah, karena harus ada seseorang yang memutus jerat itu. Apabila kamu tidak mampu, ijinkan aku yang melakukannya.
?
?Selamat tinggal?? ujarku lirih, sendu dan ? menyakitkan.
?
Dingin lantas menyergap kita. Bukan karena cuaca maupun suhu udara namun karena kesedihan yang membumbung menyelimuti kita. Seakan menjadi pertanda bahwa perpisahan baru saja terjadi, menyadari bahwa itulah perpisahan tersunyi yang harus dialami.