Masa Pe Es Satu

Agung Brawida
Karya Agung Brawida Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 April 2017
Masa Pe Es Satu

Masa Pe Es Satu

Oleh : Agung Brawida

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang masa lalu tepatnya masa kecil saya. Saya tidak tahu pada zaman modern ini masih adakah atau tidak pengalaman yang barangkali mirip dengan pengalaman saya dahulu. Cerita ini berangkat dari suatu zaman yang bisa dibilang masih sangat tradisional bahkan bisa dikatakan primitif bagi orang-orang modern saat ini, meskipun dalam arti sesungguhnya bukan bermaksud merendahkan.

Saya dibesarkan oleh lingkungan yang sangat sederhana (yang dimaksud sederhana saat ini adalah ekonomi menengah ke bawah), waktu itu saya masih SD. Bapak saya seorang TKI yang bekerja di Malaysia dan Ibu saya seorang pedagang tembakau di rumah. Kehidupan saya tidak berlimpah materiil dalam artian ekonomi menengah ke atas namun saya juga tidak pernah menganggap diri sebagai orang miskin meskipun dalam keseharian masih pinjam sana pinjam sini.

Waktu itu saya sama sekali tidak begitu ingat wajah bapak, beliau adalah perantau ulung yang tidak muncul selama bertahun-tahun hingga saya SMP. Masih belum ada telepon apalagi handphone seperti saat ini. Jadi sangat masuk akal jika kami selama bertahun-tahun tidak ada komunikasi sama sekali kecuali melalui telepon rumah di tetangga, kami masih numpang pinjam telepon ke tetangga jauh waktu itu dan bayar beberapa rupiah sebagai balas budinya meskipun kadang juga di wartel yang mana mungkin sekarang sudah semakin langka atau bahkan tidak ada.

Entah zaman dahulu bagaimana rasanya, yang jelas tidak ada keluh kesah sama sekali menjadi orang yang dianggap rendah ekonominya di lingkungan yang banyak ternak ayam, kambing maupun sapi setiap pojoknya belum lagi dalam lingkungan pertanian yang luas sawahnya itu. Tapi tenang disini saya tidak menentang keadaan meskipun bahasanya terkesan tidak terima, saya terima begitu adanya. Justru itu yang membuat saya semakin tangguh dalam menghadapi berbagai keadaan.

Saya orang yang suka menabung dari kecil, dan pernah saya menabung sampai hampir berpuluh- puluh ribu rupiah dalam waktu satu tahun, dulu uang segitu bisa dikatakan sangat banyak apalagi uang jajan sehari-hari saja tidak sampai seribu rupiah (masih dalam waktu SD). Uang saku saya sehari adalah enam ratus rupiah, dan itu cukup untuk jajan disekolah waktu itu. Aduuh, rasanya kalau dibandingkan dengan zaman sekarang sangat jauh ya hehe.

Lantas apa hiburan zaman dahulu? Masa tidak ada hiburan? Ya pasti ada, tapi dulu ada salah satu hiburan yang paling saya sukai tapi sangat ditolak hiburan itu oleh keluarga. Memang hiburannya apa? Hehe. Hiburannya adalah PS 1, playstation 1. Aduh jadul ya, barangkali sekarang juga sudah digantikan hiburan modern yang ngtrendnya sudah pesat BGT, hehe. Lingkungan keluarga saya sangat menolak hiburan seperti ini, karena mereka merasa paham bahwa PS dapat merusak otak dan kecerdasan seorang anak waktu itu. Kira-kira begitulah paham atau persepsi di masyrakat desa saya khususnya pada waktu itu, tapi khusus terhadap masyarakat menengah ke bawah. Kenapa? Karena dulu uang saku itu menjadi boros gara-gara dibuat untuk main PS, barangkali itu salah satu penyebanya orang tua zaman dahulu tidak mengizinkan kami bermain hiburan seperti ini.

Masih berkaitan dengan PS, saya itu anak yang bandel dan nakal, tapi nakal atau bandelnya bukan yang ekstrim negatif, saya tidak pernah mau mencuri atau sejenisnya, cenderung mencari cara bagaimana agar saya tetap bisa main PS meskipun tidak diberi uang saku atau uang saku yang segitu saja (ceritanya frustasi gara-gara ga boleh minta uang lebih biar bisa buat PS’an hehe)

Singkat cerita setiap pulang sekolah saya dan teman karib saya pergi ke ladang atau hutan untuk mencari buah mlinjo. Adakah yang tau? Hehe. Iya buah yang biasanya buat emping itu. Kami cari dan kumpulkan mlinjo-mlinjo yang jatuh dari pohonnya dengan plastik kresek yang biasanya kami cari sebelumnya dijalan-jalan, kami kumpulkan mlinjo hingga beberapa ons yang kira-kira cukup dan selanjutnya berjalan kaki ke pengepul untuk dijual. Kami terbiasa jalan kaki kemana-mana, bukan karena suka jalan kaki tapi memang tidak ada transportasi seperti sepeda waktu itu, hehe. Setelah selesai dan mendapat uang yang sekiranya cukup untuk buat main PS, kami sembunyikan terlebih dahulu dan sebisa mungkin jangan sampai ketahuan orang tua (kalau ketahuan pasti diambil hehe).

Setelah mendapat uang kami belum tentu aman dalam menjalankan strategi menuju tujuan kami, yaitu PS’an itu tadi. Kami harus pamit dulu dan itu hukumnya wajib, engga tau karena patuhnya atau karena takutnya kalau dimarahi hehe. Biasanya syaratnya pamit adalah mencari kayu bakar dulu di ladang atau di hutan, buat persediaan kayu bakar masak di dapur sehari-hari, maklum dulu masih pakai anglo (ada yang tau anglo? iya perapian untuk masak itu hehe), apalagi dulu belum ada gas dan belum punya kompor minyak. (fenomena yang membuat hidup nikmat).

Singkat cerita tantangan dan perjuangan kami untuk main PS sering terlaksana meskipun terkadang juga ketahuan dihajar disuruh pulang di tempat kami sedang bermain PS. Namun itulah nikmatnya perjuangan yang memberikan saya banyak nilai tentang kesederhanaan. Sampai kisah ini ditulis sejujurnya orang tua saya belum pernah mendengar atau melihat sendiri perjuangan saya itu. Memang sengaja selalu saya rahasiakan, saya ingin belajar mandiri, dengan apa yang bisa saya lakukan, kesederhanaan itu yang mendidik saya menjadi orang yang tidak mau kalah sama keadaan dan dari perjuangan sederhana itu saya mengerti kenapa bahagia itu sangat sederhana, sesederhana main PS satu.

  • view 52