DUNIA DI MATA ISLAM: Memaknai dunia secara benar dan mendalam

Agoy Tama
Karya Agoy Tama Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Maret 2016
DUNIA DI MATA ISLAM: Memaknai dunia secara benar dan mendalam

Dari Ibnu ?Umar radhiyallahu ?anhu berkata, ?Rasulullah SAW. memegang kedua pundakku lalu bersabda,

?Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).?

Lalu Ibnu ?Umar radhiyallahu ?anhu menyatakan, ?Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.? (HR. Al- Bukhari No. 6416).

Dunia adalah sebuah ruang yang fana. Sebuah ruang yang hanya akan kita lewati untuk sejenak saja. Layaknya seorang pejalan jauh, kita harus menempuh perjalanan yang cukup panjang. Dan dunia barangkali adalah sebuah pohon yang rindang, tempat kita singgah untuk sejenak saja sembari mencari bekal untuk melanjutkan kembali sebuah perjalanan yang panjang.

Tentunya kita akan mengorbankan segalanya untuk tetap bertahan di perjalanan itu. Barangkali harus mengorbankan harta, menguras tenaga, bermandikan peluh, dan berupaya untuk tetap bertahan dan kuat melanjutkan sebuah perjalanan yang panjang.

Perjalanan yang kita tempuh tak selalu datar dan tenang. Boleh jadi kita akan menemui keterjalan-keterjalan yang tak mudah kita lewati. Bahkan keterjalan itulah yang menahan kita untuk tetap betah bersandar di bawah pohon rindang dengan semilir angin yang melalaikan. Boleh jadi pula kita akan tertidur pulas dan lupa akan panjangnya perjalanan yang harus kita tempuh. Maka jika begitu yang terjadi, kita akan menemui banyak kesusahan di tengah perjalanan. Sebab, kita telah terlalaikan oleh nyamannya di persinggahan, sehingga kita lupa mencari bekal untuk melanjutkan sebuah perjalanan jauh yang akan menguras semuanya dari kita.

Sejatinya, dunia tak lebih dari sekadar setitik kesenangan yang menipu. Dunia seakan menampakkan segalanya, seperti: interior yang megah, berbagai fasilitas yang nyaman, dan seluruh kesenangan yang memanjakan kita. Rasanya sayang sekali jika berbagai kesenangan dan kenyamanan itu dilewatkan begitu saja. Kita seakan dibuat betah dan tak mau meninggalkan dunia. Namun, ingatlah bahwa dunia tak ?kan selamanya ada. Akan ada suatu masa, tatkala dunia harus menemui ajalnya. Dunia akan digulung kembali sebagaimana mulanya?dihamparkan oleh Allah Ta?ala.

Sayyidina 'Umar ibnu Khattab pernah berpesan, ?Letakkan kehidupan dunia itu dalam gengaman tanganmu, jangan letakkan dunia di dalam hatimu.? Begitulah cara Umar radhiyallahu ?anhu melihat dunia.

Kemudian jika dibandingkan, maka nilai kesenangan di dunia hanyalah setetes air laut yang tertinggal di ujung jari kita. Sementara luasnya lautan adalah kesenangan akhirat yang tak terbatas nikmatnya. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda,

?Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia.? (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim).

Barangkali, kita akan merasa?sebagai seorang muslim/ah?bahwa Islam terlalu banyak aturan. Kita tidak bisa bebas-lepas dalam melakukan sesuatu. Semua diatur di dalam Islam; mulai dari tatanan negara, pergaulan manusia, bahkan buang air kecil pun ada aturannya. Sampai serinci itu. Maka, boleh jadi kita akan merasa bahwa dunia adalah penjara dan aturan-aturannya adalah jeruji besinya. Kita di dunia layaknya seorang tahanan yang terhalang besi-besi kokoh?tak bisa keluar dan bebas melakukan apa saja yang kita suka.

Dunia adalah penjara dengan segala aturan-aturannya. Sebagaimana ia di mata Islam yang tergambar dalam sabda Rasulullah SAW.,

?Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir.? (HR. Muslim)

Maka, tak heran jika dunia begitu membuat kita tersiksa?tak bisa berbuat apa-apa.

Namun, ketahuilah bahwa sejatinya dunia adalah sebuah ladang tempat kita bercocok tanam. Dunia adalah sebuah ladang tempat kita menanam sebanyak-banyaknya kebaikan, dan di akhiratlah kelak kita akan menuai kebaikan-kebaikan itu.

Mudah-mudahan kita tetap istiqomah dalam menanam kebaikan-kebaikan. Dan pada akhirnya kita berharap dapat menuainya kelak di akhirat?di surga Allah Ta?ala.

Akhukum,
Agoy Tama

Malang, 12 Maret 2016

?

Gambar diambil di sini.

  • view 142