DEDAUNAN YANG MERINDU EMBUN

Agoy Tama
Karya Agoy Tama Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
RUANG RASA

RUANG RASA


Judul: "Perjalanan Rasa Antara Aku, Kau, dan Mereka" | Genre: Novel | Penulis: @agoytama

Kategori Non-Fiksi

389 Hak Cipta Terlindungi
DEDAUNAN YANG MERINDU EMBUN

Pagi ini aku telah basah. Basah oleh segarnya embun yang bergelayut jatuh dari dedauanan cinta. Entah mimpi apa yang semalam datang membangunkanku. Entah apa dan bagaimana semua terjadi hingga pagi ini—pikiran, perasaan, dan harapan-harapan—kembali seperti saat-saat lampau ketika kau hadir di hidupku.

Semua fragmen-fragmen itu mulai  tersusun kembali begitu saja. Barangkali membentuk satu cerita panjang yang penuh dengan banyak peristiwa kebetulan yang tak terencana sebelumnya. Banyak pula tokoh-tokoh pilihan yang sebelumnya tak pernah kukenal dan ada dalam hidupku. Seperti kau yang begitu asing di mataku.

Barangkali kau akan banyak tersenyum, bahagia, atau sedih-terharu, atau bahkan sedih-tersayat mendengar fragmen-fragmen peristiwa tentang kita yang akan kutuliskan dan kelak akan kau baca. Mungkin ini semacam surat panjang yang akan kukirim ke tempatmu esok hari, lusa, atau nanti--entah kapan, aku tidak dapat memastikan. Aku tidak tahu, kapan surat panjang ini akan selesai kutuliskan. Entah kapan. Bersabarlah. Hanya satu pintaku, berdoalah untuk kesehatanku agar penaku tak pernah tergeletak dan berhenti menuliskan semua tentangmu, kita, dan mereka yang selalu membersamai kita. Teruslah berdoa!

***

Fajar kerinduan pagi ini memaksaku menerbitkanmu di ingatanku. Ah, masa lalu. Begitu terang. Barangkali kau sempat usang, lama tergeletak di sudut gudang memori otakku. Namun—sekali lagi—rindu menjadikan kau jauh lebih menawan dibanding saat pertama kali kita bertemu.

Mungkin, tepat hari pertama kita memakai seragam putih abu-abu di sekolah. Tepat saat kita kenakan pakaian dan aksesoris gila buatan senior kita. Semua mengenakannya. Tidak ada yang berani melanggar dan sedikit pun berkomentar. Mungkin berita di televisi tentang masa orientasi siswa oleh seniornya terlalu seram dan kejam—menakutkan. Seperti tindak kekerasan berupa pukulan, tendangan, hukuman yang tidak manusiawi, hingga semua itu tak jarang mengakibatkan nyawa siswa melayang. Barangkali hal itu adalah alasan yang menjadikan aku, kau, dan teman-teman kita bungkam—patuh dengan semua aturan yang dibuat seenaknya oleh senior kita.

Kau ingat pakaian gila itu, Faa? Pakaian yang kita buat sendiri dari kantong kresek besar warna merah yang dilubangi di bawah untuk masuknya kepala dan di kanan-kiri untuk kedua tangan kita? Atau gelang dari bawang merah dan bawang putih yang kita rangkai dengan benang itu? Atau topi kerucut dari kertas karton yang lebih mirip topi badut penghibur anak-anak balita itu? Ah, memalukan. Semua itu hasil dari ulah senior kita. kita dikerjai, Faa.

Tidak cukup sampai di situ, senior kita menyuruh agar pakaian gila itu kita pakai hingga masa orientasi selesai. Ah, gila. Kita harus siap dipermalukan selama kurang lebih empat hari, Faa. Kita harus mengerjakan semua tugas-tugas gila dari senior kita dengan mengenakan pakaian itu—di luar kelas maupun di dalam kelas.

***

Shaffa, jujur kau tampak terang dari selaksa hawa di ruang kelas itu. Pakaian gila itu seolah menjelma menjadi gaun mewah ala istana. Entah istana apa. Barangkali istana kediamanmu bersama seorang pangeran tampan di takdir cerita selanjutnya. Entah siapa. Mungkin-aku. Aku-mungkin. Mungkinkah aku? Ah, terlalu cepat aku berharap. Semua itu cuma soal waktu.

Sehari, dua hari, tiga hari berikutnya, suatu hal yang biasa jika aku melihat bidadari tak bersayap. Entah, ini nyata atau tidak. Namun, yang pasti pipi ini sakit ketika coba aku cubit. Barangkali nyata. Senyata bidadari yang sedang kuperhatikan saat itu. Ya, itu kau, Faa. Sepertinya aku harus mengakuinya. Aku harus mengatakan kata-kata klasik itu. Barangkali kau sudah tahu, Faa. Kau hafal betul. Bahkan, mungkin kau sudah bosan untuk mendengarkannya. Namun, semoga saja kau tidak bosan jika kata-kata itu keluar dari mulutku. Baik, akan aku katakan kepadamu, Faa. Dengarkanlah!

Faa, Jujur aku 'jatuh' pada pandangan pertama. Aku jatuh hati pada sosok yang baru pertama kali tertangkap oleh mataku. Ya, itu sosokmu, Faa. Mungkin, bagimu memang terlalu cepat. Namun, bagiku hati ini terlalu bening untuk mengaburkan pandanganku. Aku tak kuasa apabila hati sudah bicara. Sungguh, aku suka kamu, Faa. Entah dengan alasan apa. Barangkali, aku suka kamu dengan tanpa alasan.

***

Empat hari masa orientasi, kita jalani. Waktu itu hari terakhir. Kau ingat saat aku menerima hadiah dari senior, Faa? Ah, mungkin itu hanya kebetulan. Sungguh, aku tak lebih bahagia dibandingkan ketika aku mendapatkan sosokmu di mataku. Faa, kau tahu, bahwa saat itu aku berharap suatu hari nanti bukan hanya hadiah yang kudapat, tapi kau yang akan kubawa pulang ke istana cintaku. Ah, maaf, terdengar begitu 'gombal'.

***

Masa orientasi selesai. Aku, kau, dan teman-teman merasa senang. Merdeka! Seperti tahanan yang baru saja dibebaskan dari jeruji besi--penjara.  Ya, penjara yang dibuat senior kita dengan bertubi-tubi siksa—dipermalukan sehancur-hancurnya—sampai kita tidak tahu harus di mana kita menaruh muka. Entah di tempat mana?

Keesokan harinya, kita masuk sekolah pertama kali dengan senyuman yang lebar. Tidak ada lagi pakaian gila itu, tidak ada lagi gelang aneh dari bawang, tidak ada lagi teriakkan keras para senior, tidak ada lagi derita. Semua sudah berlalu dan berhasil kita lewati dengan baik. Hanya saja kau yang masih selalu tampak seperti bidadari yang mengenakan gaun mewah ala istana langit. Kau begitu indah di mataku. Namun, sayangnya, waktu itu aku belum mengenalmu begitu jauh. Hanya sekadar dari pandangan singkat yang sempat kujangkau.

Hingga pada suatu forum kita dipertemukan. Kebetulankah? atau kesalahan? betul-salah kadang jadi pertanyaan. Standar yang mana yang jadi patokan anak remaja putih abu-abu seperti kita, bukan? Barangkali kita masih sibuk berkutat dengan mainan kita: hati dan cinta.

Berawal dari pertemuan itulah aku mengenalmu, jauh lebih dalam. Sedalam rindu yang tiap waktu bergelayut di hatiku. Laksana embun yang bergelayut di dedaunan pagi ini.

Kita pun berkenalan, barter. Saling tukar memberitahukan nama dan nomer HP masing-masing. Namamu Shaffa, biasa dipanggil Faa. Namaku Tama. Nomer HP-mu 087859456001 dan nomer HP-ku 071945585006. Namun, kau tahu, semuanya tak sesederhana itu. Tak sesederhana barter di pasaran. Tidak semudah mendapatkan angin untuk bernapas. Butuh perjuangan untuk mendapatkan nama dan nomer HP-mu. Lewat temanmulah aku bisa mendapatnya. Kau tahu dia? Iya, Aliya, teman sebangkumu atau mungkin bahkan lebih dari itu, sahabat karibmu.

***

Sebagaimana cerita-cerita klasik yang menyoal cinta di antara dua sejoli, aku merasakan debar itu. Jantung yang berdegup kencang, tangan yang mulai mendingin, keringat basah yang bercucuran, dan semua gejala alam tentang cinta--barangkali fenomena alam cinta. Ah, aku hilang bentuk, remuk. Bak Chairil Anwar yang selalu nampak di musim-musim ujian. Namun, aku bukan binatang jalang yang ingin hidup seribu tahun lagi. Aku adalah laki-laki biasa. Barangkali tidak kaya dan juga tidak tampan. Tapi, aku selalu merasa kaya di tengah-tengah kesederhanaan keluargaku. Aku selalu merasa tampan dipangkuan ibuku. Ah, mengenang masa kecil.

Ya, begitulah bagian dari fragmen cerita tentang kita. Semua berawal dari peristiwa kebetulan yang sebelumnya tak pernah terencana dan direncanakan. Aku ingin mengenalmu jauh lebih dalam. Sedalam rinduku yang semakin menggebu tak terbendung oleh apapun itu. Seperti halnya dedaunan yang merindu embun saat pagi datang.

Pagi ini aku telah basah. Basah oleh segarnya embun yang bergelayut jatuh dari dedauanan cinta. Entah mimpi apa yang datang tengah malam membangunkanku. Entah apa dan bagaimana semua terjadi hingga pagi ini--pikiran, perasaan, dan harapan-harapan—kembali seperti saat-saat lampau ketika kau hadir di hidupku.

 

Malang, 17 Desember 2015

@agoytama

Dalam bab "Yang Telah Lampau"