JALAN TERJAL MENUJU KEKAL

Agoy Tama
Karya Agoy Tama Kategori Buku
dipublikasikan 24 Juni 2016
JALAN TERJAL MENUJU KEKAL

"Tak ada harta yang bisa kita bawa saat mati. Maka benar bahwa kekayaan tak terletak pada apa yang kita punya, melainkan pada apa yang kita bagi." ~ Salim A. Fillah

Suasana mendadak hening--penuh perenungan--tatkala salah satu wasiat Maulana Muhammad Rasulillah sampai di depan mata dan basah terbaca lidah. "Jadilah engkau di dunia ini laksana orang asing atau musafir yang sekadar lewat," begitu pesan singkat Rasulullah menyimpul rasa renung yang teramat dalam di pikiran.

Tiba-tiba kenang diri menelisik ke sela-sela memori masa silam. Ya, barangkali masa silam yang membuat hati tenggelam begitu dalam.

Ah, kini lagi-lagi seolah terperaga di depan mata, tatkala penggal peristiwa regang nyawa nenek kala itu mendecakkan rasa dan memecah tangis sekeluarga. Hari itu adalah hari terakhir aku melihat sosok itu. Sosok yang telah membesarkan, merawat, dan menjaga anak yang saat ini menjadi orang tuaku. Aku berterima kasih kepadanya. Dan moga sebaris doa keselamatan yang kupanjat ini dapat meringankan bebanmu di sana bila ada. Bila berkenan, moga seluruh ikhtiar ini Allah sampaikan desahnya kepadamu dan moga memudahkan jalanmu. Kuucap lagi, selamat jalan, Nek!

Satu pelajaran pendewasaan diri bagiku, tatkala penggal peristiwa itu menyiratkan kesejatian wasiat Rasulullah yang baru saja selesai kubaca itu. "Hidup hanya sekadar lewat," jelas al-Amin itu.

Maka, sejatinya hidup di dunia ini tak akan lama. Barangkali hanya sebatas singgah sejenak di bawah pohon rindang, kemudian meninggalkannya begitu saja. Ya, hanya sebatas itu. Hanya sebentar saja kemudian harus melanjutkan kembali sebuah perjalanan yang cukup panjang--yang membutuhkan banyak bekal.

Namun, di waktu yang hanya sedikit itu manusia harusnya menyadari bahwa ada satu misi yang harus dijalankannya. Sebagaimana musafir yang berhenti sejenak di satu perkampungan, ia berusaha mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan. Maka, bekal yang harus kita cari adalah amal kebaikan, dan mengumpulkannya dengan cara beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan sebaik-baiknya.

Barangkali dengan begitu kita yakin, bahwa semua yang kita punya saat ini hanyalah satu titipan sebagai pemudah kita mencari bekal. Termasuk juga jabatan, harta benda, dan materi-materi lainnya. Semua akan ternilai sebagai bekal jika itu dimanfaatkan sebagai pemudah ibadah kita kepada-Nya. Sebab, sejatinya kekayaan itu tidak terletak pada apa yang kita punya, tapi pada apa yang kita bagi. Karena berbagi itu adalah ibadah dan ibadah adalah amal yang akan menjadi bekal kita menuju tempat tujuan yang kekal dengan perjalanan yang teramat terjal.

Moga kita diperjalankan dengan bekal sebaik-baik bekal, agar kita sampai tujuan dengan selamat tanpa halang-rintang yang memalang.

@agoytama | 23/06/2016

  • view 52