DUNIA DI MATA ISLAM

Agoy Tama
Karya Agoy Tama Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Mei 2016
DUNIA DI MATA ISLAM

: Memaknai dunia secara benar dan mendalam

Tulisan ini membahas tentang dunia yang dilihat dari sudut pandang Islam. Fokusnya, yaitu bagaimana kita—sebagai seorang muslim/ah—dalam memaknai dunia secara benar dan mendalam. Adapun beberapa dalil-dalil Al-Qur’an, hadist maupun perkataan shahabat yang sengaja dikutip untuk menguatkan gagasan dari penulis. Beberapa point yang akan dibahas, yaitu: 1. Dunia adalah sebuah ruang yang fana, 2. Dunia hanyalah kesenangan yang menipu, 3. Dunia adalah penjara, 4. Dunia adalah bangkai yang dikelilingi anjing, dan 5. Dunia: sebuah ladang tempat bercocok tanam. Berikut pembahasannya.

  • DUNIA ADALAH RUANG YANG FANA

 

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah SAW. memegang kedua pundakku lalu bersabda,

“Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).”

Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al- Bukhari No. 6416).

Dunia adalah sebuah ruang yang fana. Sebuah ruang yang hanya akan kita lewati untuk sejenak saja. Seperti halnya seorang pejalan jauh, kita harus menempuh perjalanan yang cukup panjang nan melelahkan. Dan dunia barangkali adalah sebuah pohon rindang, tempat kita singgah untuk sejenak saja sembari mencari bekal untuk melanjutkan kembali sebuah perjalanan yang panjang.

Tentunya kita akan mengorbankan segalanya untuk tetap bertahan di perjalanan itu. Barangkali harus mengorbankan harta, menguras tenaga, bermandikan peluh, dan berupaya untuk tetap bertahan dan kuat melanjutkan sebuah perjalanan yang akan menguji semua yang ada pada diri kita. Ya, seluruhnya, tak terkecuali.

Perjalanan yang kita tempuh tak selalu datar dan tenang. Boleh jadi kita akan menemui keterjalan-keterjalan yang tak mudah kita lewati. Bahkan keterjalan itulah yang menahan kita untuk tetap betah bersandar di bawah pohon rindang dengan semilir angin yang melalaikan (hidup segan mati tak mau). Boleh jadi pula kita akan tertidur pulas dan lupa akan panjangnya perjalanan yang harus kita tempuh. Maka jika begitu yang terjadi, kita akan menemui banyak kesusahan di tengah perjalanan. Sebab, kita telah terlalaikan oleh nyamannya di persinggahan, sehingga kita lupa mencari bekal untuk melanjutkan sebuah perjalanan jauh yang akan menguras semuanya dari kita.

Jadi, hidup itu hanya sebentar dan dunia hanyalah kehidupan yang sementara. Masih ada kehidupan lagi yang membutuhkan bekal yang banyak untuk kita dapat bertahan di kehidupan berikutnya. Bekal itu hanya dapat kita cari di dunia ini. Maka, senantiasa kita berusaha sekuat tenaga dalam mengumpulkan bekal-bekal itu.

  • DUNIA ADALAH KESENANGAN YANG MENIPU

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd 57: 20).

Sejatinya, dunia tak lebih dari sekadar setitik kesenangan yang menipu. Dunia seakan menampakkan segalanya, seperti: interior yang megah, berbagai fasilitas yang nyaman, dan seluruh kesenangan yang memanjakan kita. Rasanya sayang sekali jika berbagai kesenangan dan kenyamanan itu dilewatkan begitu saja. Kita seakan dibuat betah dan tak mau meninggalkan dunia. Namun, ingatlah bahwa dunia tak ‘kan selamanya ada. Akan ada suatu masa tatkala dunia harus menemui ajalnya. Dunia akan digulung kembali sebagaimana mulanya—dihamparkan oleh Allah Ta’ala.

Sayyidina Umar ibnu Khattab pernah berpesan, ”Letakkan kehidupan dunia itu dalam gengaman tanganmu, jangan letakkan dunia di dalam hatimu.” Begitulah cara Umar radhiyallahu ‘anhu melihat dunia.

Kemudian jika dibandingkan (antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat), maka nilai kesenangan di dunia hanyalah setetes air laut yang tertinggal di ujung jari kita—setelah mencelupkannya ke lautan. Sementara luasnya lautan adalah kesenangan akhirat yang tak berbatas nikmatnya. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda,

“Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia.” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim).

  • DUNIA ADALAH PENJARA

 

Barangkali, kita akan merasa—sebagai seorang muslim/ah—bahwa Islam terlalu banyak aturan. Kita tidak bisa bebas-lepas dalam melakukan sesuatu. Semua diatur di dalam Islam; mulai dari tatanan negara, pergaulan kita, bahkan buang air kecil pun ada aturannya. Sampai serinci itu. Boleh jadi kita akan merasa bahwa dunia adalah penjara dan aturan-aturanya adalah jeruji besinya. Kita di dunia layaknya seorang tahanan yang terhalang besi-besi kokoh—tak bisa keluar dan bebas melakukan apa saja yang kita suka.

Dunia adalah penjara dengan segala aturan-aturannya. Sebagaimana ia di mata Islam yang tergambar dalam sabda Rasulullah SAW.,

“Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir.” (HR. Muslim)

Maka, tak heran jika dunia begitu membuat kita tersiksa—tak bisa berbuat apa-apa. Namun, yakinlah bahwa semua yang Allah turunkan pasti ada hikmah dibaliknya. Adanya aturan-aturan itu barangkali adalah cara Allah dalam menyayangi dan mengasihi kita. Sebab, adanya sebuah aturan hidup—dalam hal ini—tidak lain adalah demi terciptanya sebuah keteraturan dalam kehidupan.

  • DUNIA LAKSANA BANGKAI DIKELILINGI ANJING

 

Terdapat perumpamaan dunia dalam sebuah Hadits Qudsi: Allah SWT. telah mewahyukan kepada Daud a.s. dengan firman-Nya: "Wahai Daud, perumpamaan dunia yaitu laksana bangkai di mana anjing-anjing berkumpul mengelilinginya, menyeretnya kian kemari. Apakah engkau senang menjadi seekor anjing, lalu ikut bersama mereka menyeret bangkai itu kian kemari? ... Wahai Daud! Berlemah-lembutlah dalam perbincangan dan berlaku sederhanalah dalam berpakaian. Kemasyhuran namamu di antara khalayak ramai tidak akan identik selama-lamanya (dengan yang diperoleh) di akhirat. (HQR. al-Madani di dalam kitabnya)

Itulah perumpamaan dunia yang Allah kabarkan sejatinya kepada Nabi Daud a.s dan Rasulullah SAW. Masyaallah, sebegitu tingginya derajat Nabi Daud a.s.. Allah memberitahukan kepada Nabi Daud a.s. melalui perantara Jibril a.s. mengenai dunia. Dunia penuh dengan syahwat hawa nafsu rendah dan kesedapan yang menjijikkan. Betapa hinanya yang menyalahgunakan dunia atau menyimpang dari garis yang telah ditentukan. Bagai anjing yang mengerumuni bangkai busuk dan berebutan menariknya kesana-kemari.

Peringatan Allah kepada Nabi Daud a.s. agar tidak berbuat seperti anjing atau menjadi anjing yang ikut saling berebut bangkai busuk yang amat menjijikkan itu. Dunia yang dilukiskan sebegitu menjijikkan itu sungguh sangat dekat dengan kita. Mengganggu dan mendorong kita untuk menguasainya dengan cara yang tak membuahkan hasil apapun di akhirat kelak. Mendorong kita untuk betah bersenang-senang dengan berbagai maksiat, termasuk foya-foya atau bermewah-mewah yang berlebihan.

Itulah dunia yang fana, sejatinya tempat singgah kita sementara, sebelum kita lanjutkan safar menuju kampung kita yang sesungguhnya.

  • DUNIA: SEBUAH LADANG TEMPAT BERCOCOK TANAM

 

Ketahuilah bahwa sejatinya dunia adalah sebuah ladang tempat kita bercocok tanam. Dunia adalah sebuah ladang tempat kita menanam sebanyak-banyaknya kebaikan, dan di akhiratlah kelak kita akan menuai kebaikan-kebaikan itu. Mudah-mudahan kita tetap istiqomah dalam menanam kebaikan-kebaikan. Dan pada akhirnya kita berharap dapat menuainya kelak di akhirat—di surga Allah Ta’ala.

 

Malang, 29 April 2016

  • view 228