Hanya Sepucuk Surat Murahan

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 April 2018
Hanya Sepucuk Surat Murahan

Di era yang semua kata terangkum dalam layar digital, apalah artinya buatmu jika aku masih menulis surat begini?

                Secarik kertas akan mudah sobek jika kamu tidak hati-hati memegangnya. Akan mudah basah jika kamu tidak hati-hati menyimpannya. Akan mudah terbakar jika kamu terlalu dekat dengan api. Lalu lenyap sudah. Hilang. Tak akan mampu kembali utuh.

                Tapi surat ini adalah bukti ketulusanku. Aku rela jika kelak benda ini akan musnah. Aku yakin, memang tak ada yang abadi. Hanya saja, sudikah kamu membaca tulisan di dalamnya sebelum membuang kertas tak berharga ini ?

                Aku mungkin tidak sehebat perempuan-perempuan yang pernah kamu temui. Aku bukan pencipta. Bukan penyihir kata. Bukan si jenius yang mampu berbicara lantang di depan banyak orang.  Bukan pemimpin kawanan apapun. Bahkan untuk mampu merayu laki-laki bodoh pun aku tidak mampu. Iya, karena aku bukan ekspektasi si rupawan. Terlalu banyak alasan untuk menjadi biasa-biasa saja. Untuk menjadi bukan siapa-siapa. Bagiku.

                Aku hanya duduk di rumah.

                Orang bilang kamu adalah pujangga. Si Pengelana. Banyak dikenal orang. Dan entah berapa banyak perempuan yang mengulang-ulang namamu dalam monolog hidupnya. Dengan simpul senyum di pipi manisnya di balik cermin mereka. Atau bahkan yang berani-beraninya membayangkan menjadi nyonya yang menggandeng tanganmu kemana mana. Lalu mereka akan menjadi bahagia dengan gila, karena berhasil mendapatkan perhatianmu seutuhnya.

                Tiba-tiba kamu datang tanpa aku duga. Di tengah sibuknya waktu yang tak mampu kamu beli itu. Aku bahagia membuatmu bahagia. Tak peduli apakah itu palsu atau bukan.

                Kamu memberitahuku apa yang tidak mereka tahu. Sampai aku semakin paham, kehebatanmu adalah kelelahan tak bertepi. Tak mendapat tempat berteduh. Dan kenapa harus aku yang kamu pilih ?

                Aku siap menopang kepalamu jika penat. Aku siap menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan malammu. Aku siap mencuci baju, menyetrikanya sampai rapi dan membuatnya wangi. Aku siap mendengar semua keluh kesahmu. Aku siap untuk belajar apapun yang kamu mau aku pelajari. Aku siap tidur dimana pun kamu tidur. Makan apapun yang kamu makan. Dan berkelana menemui para pengemis, gelandangan, juga mereka yang putus asa. Aku sangat siap.

                Dan aku juga sudah siap, jika ternyata orang itu bukan aku.

                Aku menolak semua lelaki, untuk menunggumu. Kalau bukan menunggu kamu datang ke sini, aku akan menunggumu menikah dulu. Aku ingin memastikan kamu menikah dengan orang yang tepat. Aku ingin pastikan kamu memeluk perempuan yang mampu menjadi tempat berteduhmu setiap saat.

                Keegoisanku hanya satu. Aku dulu yang harus patah hati. Bukan kamu.

                Ini terkesan mengada-ngada. Tapi aku tidak perlu memberi bukti apapun pada dunia untuk menujukkan kebenarannya. Terangnya dunia cukup membuktikan bahwa matahari itu ada. Sekalipun seluruh langit tertutup awan. Atau hujan.

                Ikhlas berarti totalitas.

                Mungkin inilah sebabnya aku memilih untuk menulis di benda murahan ini. Agar kamu bisa dengan mudah menghancurkannya jika kamu mau.

                Jangan merasa bersalah begitu. Aku sudah cukup bahagia. Asal kamu jangan berhenti untuk menjawab pertanyaanku. Dan kalau sempat, bertanya padaku. Sampai akhirnya kita benar-benar menemui pelengkap kekosongan hati kita masing-masing. Atau sampai kamu mau menyisakan sedikit ruang untukku berteduh di sana. Setiap saat di masa depan.

12.1.18

  • view 74