Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 14 Desember 2017   12:37 WIB
Pertemuan

                Ternyata benar, bukan tentang berapa lama. Tapi seberapa besar pengaruhnya untukmu. Iya, ini tentang arti sebuah pertemuan.

***

                Sore itu, nafasku tak karuan. Antara lelah, kesal, dan bingung. Haruskah aku sebut ini yang namanya bahagia ? setelah sekian lama akhirnya kamu punya waktu, dan aku ada di pinggirmu, walau tak bisa lebih dekat lagi. Jarak ini saja sudah membuatku kacau. Selamatnya aku karena keramaian membuat situasi ini sedikit lebih baik.

                “menurutmu, sukses itu apa ?” katamu tiba-tiba setelah basa-basinya selesai.

                Lagi, pertanyaanmu membuatku semakin kacau, seperti malam itu, ah kamu memang tidak ingat. Karena kami semua menunduk dihujam kantuk luar biasa. Saat itu adalah untuk pertama kalinya kamu bertanya padaku dan jantungku hampir copot. Takut salah menjawab. Bedanya, tidak ada intonasi tinggi yang keluar dari mulutmu kali ini.

                “ketika kita mencapai apa yang kita inginkan ?” Aku berpikir keras untuk menghindari kata ‘uang’ atau harta dan yang biasa orang-orang sebutkan. Walau, tetap saja materi tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Dari ego manusia.

                Kamu menceritakan betapa bodohnya manusia yang menganggap sukses adalah harta, tahta dan wanita. Ucapanmu membuatku diam, tanda setuju dariku juga.

                “terus, takut buatmu apa ?”

                Door ! peluru itu lepas lagi ! menghujam pikiranku. Pipiku mulai memerah karena bingung. Malu. Aku tutupi sebagian wajahku tanpa sadar. Setelah berpikir agak lama, tentang apa sebenarnya yang aku takutkan, aku menjawab,

                “buatku, takut itu saat orang-orang yang aku sayang khawatir padaku. Atau sebaliknya.”

                Dan kamu tersenyum sebentar. Lalu kembali menjelaskan tentang ketakutan apa saja yang dialami manusia. Salah satunya, takut gagal. Mungkin kamu heran kenapa jawabanku kali ini tidak seperti yang kamu duga.

                “Hidup itu apa ?” Tanyamu lagi.

                Boom ! kali ini bukan peluru yang kamu lemparkan, tapi sebuah bom. Lama aku terdiam. Belum juga terjawab, kamu langsung memotongnya dengan pertanyaan yang lain.

                “kamu pikir, kenapa Tuhan menciptakan beraneka makhluk hidup yang bervariatif setiap spesiesnya,  bermilyar galaxi yang baru diketahui, beragam budaya manusia sepanjang sejarah, dan segala hal lainnya yang belum kamu ketahui ? apa gunanya untukmu ? kamu saja tidak pernah mencari tahu tentang semua itu kan ?”

                Wajahku terasa hangat. Rasanya seperti terbakar. Kamu hebat. Tahu bagaimana membuatku terkesima. Bukan dengan sebatang coklat, sekuntum bunga, atau secarik puisi. Ah, aku ini kenapa ? bukan untuk itu kamu meluangkan waktu untuk seorang perempuan yang hanya kamu kenal. Hanya.

                Setelah lama kamu bercerita, dan lelahnya aku menahan panasnya wajahku yang tak mau padam, waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB.

                Aku ingat ketika kamu bercerita tentang Socrates dan murid muridnya, para nabi, para sahabat nabi, tentang Nicollo Machiavelli dan para penguasa abad kegelapan eropa, tentang alam semesta hingga usia nyamuk dan lalat. Dan semua perkataanmu aku dengar, bagaimana reaksimu melihatku mematung, aku tidak tahu. Itu yang tidak aku ingat.

                “menurutmu cinta itu apa ?”

                Aku tidak percaya bahkan hal ini pun akan kamu tanyakan. Satu satunya hal yang tidak bisa aku jawab. Aku selalu menghindari perbincangan tentang hal yang satu ini.

                Kamu jelaskan pun aku tetap tidak mengerti. Sampai akhirnya yang aku pahami adalah hal lain. Sepertinya kamu sedang jatuh cinta.

                “Buatku, cinta itu tanpa alasan. Karena alasannya adalah cinta itu sendiri.”

 

14.12.17

After 2 half years later.

Karya : Agni Aulia Ha