Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 26 November 2017   12:27 WIB
Pahlawan atau Pecundang

 Ini adalah tahun 2017. Kita tidak lagi mengenal bambu runcing sebagai senjata tempur untuk bertarung. Juga tidak ada lagi penjajah dari negeri barat yang mengeksploitasi SDA dan SDM negeri kita dengan paksa hingga berjatuhan jutaan titik keringat dan darah darinya. Saya akui, Indonesia memang sudah merdeka. Dibuktikan dengan buah dari upaya gotong royong kakek nenek kita untuk mengedukasi dan upaya infrastruktur lainnya di Indonesia. Dibandingkan dengan masa duka cita kita sebelum saat ini.

Namun, kita selalu tidak mampu menerima bahwa Indonesia sudah merdeka. Karena ini itu alasannya. Ada yang bilang kemiskinan masih terasa di berbagai pelosok negeri. Dan penjajahan masih dilakukan oleh pihak pihak asing dari bidang yang berbeda, ekonomi misalnya. Lucunya, lagi-lagi kita menyalahkan pemerintah. Ini semua karena pemerintah kita yang tidak becus, terlalu banyak korupsi ! Lalu dari masalah sepele “uang damai” saat razia motor   hingga perlindungan atas legalisasi prostitusi dengan dalih penyumbang pajak terbesar. 

Tentang kemiskinan dan kesenjangan sosial. Hai, Kamu ! memangnya apa yang kamu lakukan saat menemui orang miskin ?! sekalipun kamu mampu beramal, berapa banyak yang sudah kamu sumbangkan untuk mereka ? malunya, karena mata seseorang yang sedang menulis karangan ini pun pernah seolah buta dan enggan menyapa pengemis atau anak jalanan ! dengan dalih, jangan manjakan mereka. Toh, mereka setiap hari malah akan semakin senang berngemis ria meminta uang ke sana sini tanpa ingin bekerja. Lalu, memangnya  apa juga yang kita berikan pada orang miskin yang tidak ingin meminta ? tetangga sebelah saja enggan kita sapa ! tanpa tahu malu kita gaungkan “STOP KESENJANGAN DAN BERANTAS KEMISKINAN” di tengah tengah keramaian demo, tapi saat sendiri kita kecanduan selfie atau memamerkan makanan cafe.

Kita sebut penjajah masih ada ! Mereka menguasai panggung kapitalisme. Kamu bilang, kita tidak akan maju jika terus saja menjadi budak investor asing, lalu pernahkah kamu berinvestasi ? Memodali para pengusaha rumahan misalnya ? malunya, tangan seseorang yang sedang menulis karangan ini pun belum bisa memandirikan dirinya sendiri. Kamu boleh bilang kalau itu adalah hak ku untuk meminta hasil keringat dan mata sembab orangtua yang mencari nafkah. Tapi, mari kita kontemplasi ! siapa penjajah yang sebenarnya ? mereka bukanlah para manusia berambut pirang berdasi necis. Tapi, ambillah sebuah cermin dan lihatlah betapa tak tahu malunya kamu tersenyum pada penjajah yang banyak egonya menyuruh ini itu pada orang-orang terkasihmu sendiri. 

Kita sebut pemerintah gagal ! Dan selalu gagal memerdekakan negeri ini. Lalu, apa yang sudah kamu berikan untuk negeri ini ? wahai pemuda-pemudi yang kecanduan narsis ? malunya, aku pun masih sering meng-klik ‘like’ dan ‘share’ lalu menulis konten sedih dan pura-pura amnesia setelahnya. Kita yakini pemerintah gagal, namun kita mengolok-olok para aktivis dan politisi karena termakan konten berita yang lebih senang memamerkan sisi gelap Negara kita. Dan lucunya, kita pun hanya mampu meng’amit’kan semua informasi tersebut lalu kembali asik dengan gadget masing-masing. 

Jika para pahlawan yang mati dengan lumuran darah kembali hidup di era ‘kekinian’ ini, dimana pemudanya lebih galau saat diputuskan pacar dibanding galau saat dia tidak bermanfaat bagi bangsanya, kira-kira apa yang akan mereka katakan ? Masihkah berlaku “10 pemuda untuk mengguncangkan dunia” di tengah kemudahan hidup yang seolah meninabobokan kita dengan dongeng K-drama nya ? 

Masih adakah pahlawan ‘zaman now’ saat pejuang kemerdekaan kini menjadi terlantar dan tak dihargai ? 

Jika kamu belum mampu menjadi pahlawan, maka kenali pahlawan yang ada di sekitar kita. Salah satunya para pemulung. Atau seharusnya kita sebut dia sebagai insinyur kebersihan. Berhentilah untuk menghina orang lain karena status pendidikannya ! jangan bangga menjadi mahasiswa yang katanya sudah berpendidikan 12 tahun lebih tapi masih belum bisa mengamalkan teknik menyimpan sampah pada tempat yang paling efektif. Harusnya kita belajar dari para pemulung, walau mendapat upah kecil, tapi kiprahnya besar untuk membuat kenyaman public. Bayangkan tidak ada pemulung, butuh berapa mahasiswa kira-kira untuk mengambil berton-ton sampah yang tergeletak di sana sini  ? dan butuh berapa juta rupiah untuk mengiming-imingi mereka agar sukarela membuang sampahnya sendiri yang sudah terlanjur tergeletak berantakan ? Lalu hanya cukup dijawab dengan “ya sudahlah di sana juga banyak yang buang sampah sembarangan.” ! Cis !

Biasakan dirimu untuk tidak termakan gengsi. Gelar hanya akan menjadi gelar. Ucapan hanya akan menjadi sama dengan bunyi kentut jika tak mampu kita aktualisasikan. Dunia sudah terlalu memuakan dengan postingan yang berbau “spam” , jangan juga kita sesakkan dengan ketidakpedulian kita pada sesama. Daripada membuat konser kelas dunia papan atas dan akhirat papan bawah, cobalah untuk memikirkan betapa akan bergunanya uang yang kita cari susah payah untuk beramal. Yang mana kebaikannya akan kembali pada kita dan akan membuat kita jauuh lebih berguna. Jika kita mampu bangga mengundang DJ terkenal di bumi ini, tidakkah kita bangga jika mampu mengundang manusia-manusia yang terkenal di langit oleh para malaikat karena kesabarannya dalam mengahadapi kerasnya kehidupan. Termasuk kesabarannya yang hanya mampu mengoreh-ngoreh sisa makanan di tempat sampah pada tengah malam tepat setelah konser yang kita gelar selesai. 

Perjuangan yang dapat kita lakukan tidak selalu dengan menciptakan alat technology terbarukan atau mendapatkan omset milyaran demi menaikkan pendapatan per kapita Indonesia. Tapi, semua dimulai dengan hal yang sederhana. Ubahlah dirimu ! Kita semua bisa menjadi pahlawan. Pahlawan bagi diri kita sendiri untuk refleksi bahwa suatu waktu yang sudah ditetapkan, tepatnya di hari pembalasan, kita akan berhadapan dengan Yang Maha Agung. Hakim untuk setiap jiwa yang tidak lagi memikirkan siapa presidennya semasa di dunia. Semua yang kita lakukan, juga yang tidak kita lakukan sama sekali, akan dimintai pertanggungjawabannya. Akan ada balasannya yang setimpal ! bahkan bisa berlipat ganda.

Jika di dunia ini kita mengenal pahlawan, maka sisanya hanyalah pecundang. Tinggal kita sendiri yang harus menentukan, akan jadi apa ?

 

10 November 2017 

Untuk Mama, Pahlawan terbaik dalam hidupku.

Karya : Agni Aulia Ha