Aku Ira

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Oktober 2017
Aku Ira

             Ayah adalah malaikat tanpa sayap. Dan superman tanpa jubah. Aku sangat menyayanginya.

            “Pa, Ira kangen banget sama Papa.” Kataku lirih menatap gunungan tanah yang menimbun tubuhnya.

            Lagi lagi, air mataku jatuh. Sangat deras. Sakit rasanya. Sudah bertahun tahun berlalu, aku masih belum bisa menerima kenyataan.

            “Pa, Ira pengen nyusul Papa ke sana.” Tangisanku semakin kencang.

            Iya, aku selalu ingin memilih untuk mati saja daripada harus bertahan menjalani kehidupanku yang sekarang.

            Semua berubah. Saat ayah pergi.

            Ibuku menikah lagi, tidak butuh waktu lama. Bahkan aku juga tidak tahu ia pernah mengenal laki-laki duda itu sebelumnya. Dan ibu selalu tinggal di rumah lelaki itu. Bersama anak-anaknya. Sedangkan kami ditinggalkan di sini  !

            Kakak perempuanku bahkan tidak pernah mau menyapaku. Seharian dia mengurung dirinya di kamar. Pernah sekali aku masuk ke kamarnya, dia langsung marah-marah seperti orang kesurupan. Matanya melotot tajam dan suaranya memekik telinga. Padahal aku ini bukan pencuri ! juga bukan orang asing baginya !

            Dia memilih untuk berlama-lama di luar sana. Menghidupi dirinya dari uang jajan pacarnya.  Itu karena memang ibu sudah sangat jarang memperhatikan kami. Aku sering tidak mendapat makanan di rumah. Perutku ini kebal, itulah kenapa walaupun badanku tidak pernah berisi tapi aku tidak pernah kelelahan hanya karena tidak ada makanan.

            Adik angkatku, ia dibesarkan ayahku. Ia yang selalu menghiburku saat aku sedang murung. Tapi, ia juga jarang ada di rumah. Satu-satunya laki-laki yang tersisa di keluargaku, juga harus sibuk untuk mencari pekerjaan menghidupi dirinya sendiri.

            Aku rela hidup merana begini. Tapi, aku tidak tega melihat adikku si bungsu. Raisa. Dia sangat manis. Selalu ceria selama ayah masih ada. Tapi kini, ia hanya punya aku. Dan aku hanya memilikinya sekarang. Tapi, aku juga bisa apa ? SMA juga belum !

            Masih beruntung aku memiliki Om yang dermawan. Selama SMA, aku disekolahkan oleh dia di Yayasan. Di Bekasi. Walau berat harus meninggalkan Raisa di rumah. Kadang, para tetangga yang merawatnya saat tidak ada siapa siapa di rumah.

            Sekarang aku kuliah. Om yang memberi uang untuk bekal Raisa. Dan ibu ku masih saja tergila-gila dengan laki-laki tua itu ! setiap kali aku menegurnya, dia akan marah padaku sama seperti kakak. Ibu tidak pernah menanyakan bagaimana kabarku. Dan aku juga sudah capek dengan tingkahnya ! kakakku, dia sudah menikah  dan benar-benar meninggalkan kami.

            Mengetahui Raisa baik-baik saja, itu sudah cukup. Dan aku sendiri semakin tidak bersemangat untuk hidup. Aku selalu rindu ayah. Aku selalu ingin bersama ayah sesegera mungkin.

            Di rumah bibiku, di Jakarta, aku tidak pernah merasa damai. Mereka memang baik padaku. Tapi, mereka tidak baik satu sama lain. Setiap hari mereka selalu bertengkar. Dan paman, selalu pulang pagi dengan mata merah dan jalan sempoyongan. Sepupuku, tempramen dengan saudaranya. Piring-piring terbang di rumah sudah bukan fenomena yang aneh lagi. Suara sahut menyahut bah binatang pun jadi bahasa umum di rumah ini. Itu terjadi pagi siang malam.

            Aku bisa saja pergi dari sana. Tapi tidak bisa. Bibiku sudah sangat baik mau menyediakan tempat bernaung bagiku di kota besar ini. Terlebih, dari sini aksesnya lebih mudah menuju kampus. Hanya perlu berjalan kaki saja. Aku menutup diri selama di sini. Tidak pernah banyak mengobrol dan tidak mau ikut campur dengan keluarga bibiku. Aku hanya menumpang.

            Hiruk pikuk Ibu Kota membuatku semakin tidak nyaman. Aku ingin pulang ke rumahku yang tenang. Saat masih ada ayah. Hari ini, aku pulang untuk menemui makamnya.

            “maafin aku, Pa.. aku jarang makan jadinya kurus kering begini. Harusnya aku gemuk, seperti yang papa mau. Caca baik-baik aja kok Pa. Dia bahagia karena udah dirawat sama Om Randi. Tapi kebahagiaan itu Ira udah lupa gimana rasanya. Ira udah kaya mayat hidup, gerak tapi ga bernyawa. Ira pengen bener-bener mati aja !”

            “Ra, jangan putus semangat gitu.. aku tahu kamu pasti bisa lewatin ini semua ! berhenti bilang kata “mati” semudah itu. Semua orang bakal mati kok. Kamu gaakan hidup abadi di dunia ini. Tenang aja..” Kata Annisa menghiburku. Dia adalah teman lamaku. Di sela kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk menemani dan memahami kesedihanku.  

Dia juga seorang broken home, dengan kisah yang berbeda. Dengan kesedihan hidup yang berbeda. Tapi, dia selalu terlihat bahagia, sekalipun Ia pernah bilang sering dicaci maki oleh ayahnya sendiri yang pergi dengan istri barunya. Padahal prestasinya gemilang, tapi itu tidak membuat ayahnya bangga. Setidak nya aku beruntung, ingatanku tentang ayah selalu tentang cerita yang bahagia. Itulah satu-satunya kebahagiaanku yang tersisa.

“aku kaya gini, karena Allah sayang sama aku kan ?”

“Bangettt.” Anisa memelukku dan menghapus air mataku.

 

13.10.17

Berdasarkan kisah nyata, untukmu Kitty-ku. Terus semangat !

 

  • view 32