Baper membuka Pintu Patah Hati

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Oktober 2017
Baper membuka Pintu Patah Hati

            Setiap orang setidaknya sekali dalam hidupnya pernah merasa “baper”. Itu adalah saat kita merasakan bahagia yang dilebihkan. Kita merasa memiliki alasan cukup kuat untuk menyimpulkan “dia punya perasaan lebih padaku” karena sikapnya yang baik, yang tidak biasa. Terlebih pada beberapa kesempatan yang kamu istimewakan.
            Kasus pertama,
            Saat itu, aku mengaguminya. Dari kejauhan, ia tampak menawan. Apalagi kalau mendekat, semakin tak karuan tingkahku. Di satu kesempatan, kami bertegur sapa. Aku berpikir keras agar tidak salah memilih kata. Hingga dia melontarkan sebuah senyuman. Dan rasanya luar biasa. 
            Aku suka caranya berbicara tentang dunia. Sudut pandang yang dia ambil tidak biasa. Dia bertanya tentang apa artinya kemenangan, rasa takut dan yang lainnya. Semua pertanyaan sederhana yang sulit aku jawab. Lalu dia bertanya soal cinta, dan wajahku memerah. Rasanya hangat. Malah semakin terbakar. Bingung. Aku bertanya-tanya, kenapa dia sampai berani mengucapkan kata cinta ? katanya, cinta itu apa  ? kamu tidak butuh alasan untuk mencintai. Karena cinta adalah alasan itu sendiri.
            Padahal aku ini siapa ?
            Dari sana aku semakin berkhayal. Sama sepertimu. Tentang bagaimana kira-kira akhirnya. Aku piker akan bahagia. Ternyata salah ! aku patah hati, hanya karena mengetahui ia memiliki orang lain dalam prioritasnya. Iya, aku membaca 'surat cinta terbuka' darinya yang dia tujukan jelas jelas bukan untukku ! Aku dikagumkan oleh kata-kata. Dan kata-kata yang keluar dari orang yang sama pula lah yang membuat harapanku pupus.
 
            Kasus dua,
            Saat itu malam. Terlalu larut. Dan aku terjebak di kampus. Sialnya HP ku ikut mati. Dan harapanku hanya satu, rumah ormawa. Berharap ada sumber listrik yang mampu menyalakannya kembali.
            Aku terkejut, saat lagi-lagi aku melihatnya. Sering aku bertanya, kenapa selalu dia ? ada di mana-mana ! aku benci karena sesering apapun aku menemukannya, masih saja merasa malu. Dan dia, selalu saja mengajak bicara padaku.
            “mau dianterin ga ? tapi .. gapapa sama saya ??”
            Aku menolak ! tapi dia bilang lagi, ini terlalu malam. Dan aku pun bingung karena aku tinggal sendiri. Keluargaku sudah tidur jam segini. Menelpon teman pun aku tidak tega. Justru aku yang harus bilang, gak apa apa aku ada di belakang kamu sedekat itu ?
            Tapi dia memang senang menolong. Aku tahu itu. Hanya saja, dia baik. Yang terbaik padaku. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa berhenti merasa bahagia. Dan perasaanku semakin tak menentu.
            Lihat apa yang sudah dia akibatkan dari kebaikannya itu ? aku tidak bisa membalasnya ! malah aku bertingkah seperti robot. Kebingungan setiap kali melihat akan berpapasan dengannya. Aku memilih memutar arah. Karena tidak tahu harus menyiapkan kata apa untuk disampaikan.
            Aku stalk dia. Aku semakin kagum. Dan semakin sering senyum sendiri. Juga semakin sering menghindar jika menemukan sosoknya. Karena dia selalu tersenyum setiap kami bertemu. Khayalanku sudah terlalu tinggi. Perasaanku sudah kubawa terlalu jauh.  Aku menunggu dan terus menunggu.
            Akhirnya datang juga. Sebuah surat undangan. Dan permohonan khusus agar aku menyempatkan waktu untuk datang di acara pernikahannya.
            Ada sejuta kasus di dunia ini. Dari yang selalu mencuri perhatian hingga yang tanpa sadar mendapat perhatian. Semua bermula dari hal yang sama, baper. Kamu terlalu cepat menyimpulkan. Terburu-buru. Karena perasaanmu terlanjur bahagia. Dan kita tidak ingin kebahagiaan itu berhenti begitu saja. Di situ saja. Kamu bahagia merasakan kebahagiaan itu.
            Saat kamu patah hati, seketika kamu akan menghakimi orang yang membuatmu baper. Dalam kesendirian, Kamu katakan dia jahat ! ini salahnya ! seharusnya dia tidak berbuat baik dari awal ! seharusnya dia tidak mengucapkan kata-kata yang sensitive pada perasaan ku ! karena apa lagi memang yang membuat dia berani bersikap begitu kalau bukan karena dia menyukai ku ? walau sedikit ?
            Sementara dia bahagia, kamu akan disibukkan dengan perasaan sakit. Terluka karena ulah kamu sendiri nyatanya. Harusnya dari awal kamu berpikir, seseorang punya banyak alasan untuk berbuat baik, untuk berbicara apa saja denganmu. Bisa saja dia memang terbiasa begitu. Kebiasaan tidak mudah diubah. Jangan jadikan dia tersangka atas kejahatan dirimu sendiri dalam membuat keputusan untuk berkhayal !
            Sekarang, tidakkah ada benarnya jika aku katakan bahwa “baper” itu adalah hal yang berbahaya ? karenanya, dengan mudah akan membuat peluang kita patah hati. Dia memang selalu menggenggam wewangian. Kemanapun dia pergi akan meninggalkan jejak wewangian itu. Hanya karena kamu mencium wanginya, jangan jadikan alasan bagimu membuka pintu semudah itu.  Lalu saat dia tak berkenan masuk, kamu tiba-tiba memakinya. Kamu tiba-tiba merasa kesal, benci dan menyatakan ia bersalah. Ia jahat. Hey, dia hanya numpang lewat !

Bukalah pintu hanya pada orang yang mengetuknya sambil mengucap salam untuk izin memasukinya terlebih dahulu. Dia lebih berniat untuk menabur wewangian di dalamnya bukan ? dibanding orang yang tidak menyatakan kesediaannya sama sekali. Sekali lagi, berhati-hatilah dengan “baper” ! perasaanmu hanya kamu yang mampu mengaturnya mau seperti apa. Bukan orang lain yang bahkan tidak tahu dan tidak tertarik untuk tahu apa isi hatimu.
           
 

  • view 35