Seharusnya kamu selesai

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Seharusnya kamu selesai

Aku membuat cerita tentangmu selesai, hari itu. Mungkin, memang tak akan ada kata “hai” di esok lusa yang keluar dari layar itu lagi. Yang biasa dikirimkan langsung dari 3 jarimu, meraba-raba alfabet yang kau cari hingga muncul pada cahaya empat sisi di depan mata sayu mu. Dan tidak mungkin juga, rasanya, 3 huruf sederhana itu terisonansi di ruang tenggorokanmu lalu memaksa masuk dalam telingaku suatu waktu. Kita memang tidak pernah hidup di dunia nyata dan itulah kenyataannya. Karena selama ini kamu bersembunyi di dunia A B C D. Tertawa dalam kata “ha ha” yang tak pernah berbunyi. Tersenyum dalam simbol titik dua yang berdampingan dengan simbol kurung tutup tanpa sanggup aku melihat senyum indahmu yang sengaja memang ditujukan untukku. Semua hanyalah huruf-huruf dan tanda baca yang terjadi di antara kita. Itu saja ! Kecuali, kamu melewatkan yang lainnya. Jika kamu belum tahu, akan aku beritahu. Aku sempat berharap di sepanjang kesempatan yang ada. Berlari mengejar harapan itu. Selalu berucap “semoga” dan berkali-kali mematahkan hatiku sendiri karena tak juga menemukanmu. Namun masih saja aku percaya, selama kamu masih hidup. Hingga akhirnya aku berhasil menemukanmu di tahun kedua. Dengan perasaan yang sama. Dan kamu masih belum mengenalku. Itu yang aku tahu. Tapi, sudahlah. Aku memaksakan diri untuk membuat ini selesai. Menjadikanmu sebagai manusia yang hadir dalam imajinasiku saja. Sama seperti aku membayangkan semua tawa dan marahmu. Hanya membayangkannya. Lalu menerobos waktu. Menjadikanmu, si tokoh imajinasi, pergi meninggalkan dunia ini lebih dulu. Aku mendapat tugas dari kampus. Dan coba tebak tempat apa yang akan aku kunjungi ? ya, itu adalah kampusmu ! dan namamu ada dalam secarik kertas itu ! tiba-tiba aku ingin berteriak, kenapa kamu ?! Seharusnya tak ada kisah bersambung lagi tentang kamu. Timku bersiap untuk pergi. Dan pikiranku masih saja dibayang-bayangi namamu. Dan apa saja cerita yang sudah kita bagikan satu sama lain. Dan wajahmu, sudah aku lupakan sejujurnya. 5 tahun waktu yang cukup lama, bukan ? Aku berpura-pura ikut tertawa saat yang lain bercerita tentang kehebatan kampusmu. kedua sisi jemariku saling merangkul cemas. Berharap, baiklah, semoga saja kamu sudah melupakanku. Karena aku tahu, kamu pasti sibuk dan tak punya waktu untuk sekedar mengingat namaku ! Berjam-jam dalam kereta, sedikit membuat kecemasanku reda. Hingga kaki ini sudah menginjak area kampusmu, uuh lagi-lagi “kamu” ! bergetar seluruh tubuhku. Tuhan, apa ini yang namanya dosa ? kenapa aku seperti narapidana yang akan dihukum atas apa yang telah aku perbuat di masa lalu ? Tidak ! Aku sudah berubah. harus kutunjukkan perubahan itu padanya ! Setibanya di ruang pertemuan, aku bertarung dengan degup jantungku sendiri. Awalnya aku menundukkan pandanganku. Mencoba membuatnya tidak melihatku. Tapi justru, tingkah konyol begini malah akan mudah diperhatikan ! Kini aku bersikap seolah-olah tenang. Lalu melirik sekeliling. Tersenyum pada beberapa mahasiswa yang melihatku. Tak ada yang ganjal. Dia, belum muncul. Saat acara dimulai, aku mendampingi ketua timku di kursi paling depan. Dan pada posisi strategis begini, aku harus terlihat elegan dan biasa saja. Ayolah, kamu ! aku siap untuk skenario Tuhan yang baru. Namanya dipanggil untuk memberi sambutan. Sudah tentu semua orang akan menatap satu orang yang sama di setiap nama-nama orang penting itu disebutkan. Tapi aku, masih mematung dan menyembunyikan kedua tanganku yang mulai berkeringat. Seseorang kini berada hampir tepat di depanku. Sedang berdiri di balik sebuah papan yang menghalangi tubuhnya. Siapa dia ? “kak, itu yang wakilin ketuanya ya ?” tanyaku tiba-tiba berbisik pada ketua timku. “haha.. Engga. Yaa itu emang ketuanya. Emangnya kenapa ?” “oh. Engga.. Cuma..” “anak kampus gondrong gitu udah biasa kali.” Padahal aku yang akan angkat dagu menunjukkan perubahan ini padanya. Tapi, justru dia yang benar-benar BERUBAH ! rambut panjang melebihi bahu, tatapan datar dan ekspresi yang amat dingin. Kerutan demi kerutan aku pasang di wajah yang tadinya elegan ini. Terus saja mencari bagian mana dari dirinya yang aku kenal. Di pertemuan kali ini, hampir tak ada yang tersisa dari yang aku tahu tentangnya, dulu. Lambat laun, tatapan dingin itu sesekali ditujukan padaku. Hingga di ujung penutupan prakatanya, mata itu menancap tepat pada arahku. Sesekali aku menoleh ke belakang atau menggeserkan posisi dudukku. Tak salah lagi ! Hingga ia kembali di tempatnya, mata itu masih saja membuatku takut. Tidak ! Kita tidak pernah saling bertemu sebelumnya.

  • view 171