Dunia harus tahu, Hanya Ibu. (Aku ingin ayah #2)

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Dunia harus tahu, Hanya Ibu. (Aku ingin ayah #2)

Di kehidupan kami yang baru, aku tidak banyak mendapat perubahan. Percekcokan masih saja hadir di antara kita. Alasannya hanya satu. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum aku ada. Kini aku bersekolah. Ibu memalsukan identitasnya, entah bagaimana, menjadi seorang janda. Di sekolah, aku mendapat beasiswa miskin. Dan tak ada lagi kata-kata "anak haram" yang menghantui hari-hariku. Hanya saja, tamparan itu masih sesekali mendarat di wajahku. Aku masih sering murung di sekolah. Hingga bangku SMP. Salah satu temanku, yang juga kebetulan bernama Riska, memberitahuku untuk menuliskan setiap kesedihan yang aku alami. Aku jadi senang menulis di rumah. Menyimpan baik-baik buku diary ku itu dari semua orang, termasuk ibuku. Dia membuka warung kecil-kecilan di depan rumah kontrakan baru kami. Jauh di luar kota kami dulu tinggal. Kehidupan kami semakin tercukupi dengan baik, juga perasaan kami yang lebih tenang karena tak ada lagi yang bicara soal "anak haram" padaku. Aku masih rindu pada ayah. Aku masih ingin menemui ayah. Ayah Riska bekerja di sebuah majalah baca. Dan beberapa anak di kelasku juga sempat mengirimkan puisi atau cerpennya pada majalah itu. Hebatnya, kita bisa mengirimkan sebuah karya dengan nama yang disamarkan. Atau dirahasiakan dengan menggantinya menggunakan nama pena. Aku pikir, mungkin, ayah akan membaca catatanku di majalah itu jika beruntung. Dan segera menemukanku. Kata-kata itu aku buat sedemikian rupa agar terlihat jujur dan apa adanya. Sebenarnya, aku tak ingin menulis sedikit pun kata "anak haram". Kata itu ingin aku buang jauh jauh dari hidupku. Tapi, semakin aku mencoba untuk melupakannya, semakin sering kata itu terngiang-ngiang. Dan akhirnya, aku menulis sebuah cerpen dengan judul "Pulanglah Ayah, agar aku tak dipanggil anak haram lagi." Berhari-hari aku menulisnya, mengingat saat-saat para tetangga memanggilku "anak haram" dan "hanya menjadi aib saja", lalu mengingat saat anak-anak menjauhiku dan merasa malu karena berteman denganku, saat ibu sering menamparku, saat aku memanggil-manggil nama ayah, saat ibu membawa pisau, dan saat aku dan ibu hampir ingin mati saja dan menyelesaikan hidup ini. Saat aku selalu memprotes, hidup ini tidak adil ! Kenapa harus aku ? Tidakkah mereka juga membayangkan, bagaimana jadinya jika mereka di posisiku ? Masa lalu yang tak jelas, dan masa depan yang juga suram. Hidup pada masa kini yang penuh penderitaan, karena membawa memori masa lalu yang tak akan pernah bisa diubah. "Tolong jangan dibaca, kasih aja itu ke ayah kamu. Itu hanya cerita pendek. Semoga bisa cepat terbit ya.. makasih banyak." kataku memberikan beberapa lembar kertas yang aku tulis tangan sendiri pada Riska. Dia anak yang baik. Dan juga salah satu anak yang paling beruntung karena memiliki ayah. Aku senang, karena selang beberapa hari tulisanku segera terbit di majalah. Dan tak ada namaku di sana. Hanya nama pena yang tak seorang pun tahu siapa dia. Aku harap, ayah akan tahu itu aku, walau tak ada namaku di sana. Tapi aku membuat rincian tempat tinggalku dan ibuku dulu. Riska bilang, ayahnya sangat menyukai karya tulisku ini. Dan dia menginginkan cerita lanjutannya. Dan menyelipkan kata "kisah nyata" di dalamnya. Aku tidak keberatan, selama namaku dan nama ibuku tetap disamarkan. Karena jika ibu tahu, dia pasti akan marah besar. Berhari-hari aku habiskan dengan menulis. Membuat kisah yang lebih rinci lagi. Hingga Ayahnya Riska datang ke rumahku tiba-tiba. Ibu terkejut, karena selama ini dia tidak tahu kalau aku sering menulis. Matanya melototiku. Tapi, Ayah Riska malah memuji karyaku. "ada sebuah lomba menulis tingkat nasional yang ditujukan bagi para pelajar. Bapak harap, kamu bisa ikut bersaing dengan cerpen mu itu yang ditulis ulang lebih menyentuh hati para pembaca lagi." Aku menyanggupi permintaan itu. Dan Ibu senang, karena mendapat uang honor dari tulisanku yang sudah dimuat beberapa kali di majalahnya itu. Sulit dipercaya, tulisan tangan seorang "anak haram" bisa menembus hingga 10 besar. Dan babak final akan dilangsungkan di Ibu kota dengan penampilan para penulis yang akan membacakannya di hadapan orang-orang penting dan para penonton lainnya. Termasuk para orangtua. Cerpen yang akan dibacakan nantinya, adalah tulisan baru dari lanjutan cerpen sebelumnya yang di terbitkan di majalah. Ibu bahkan sengaja menabung untuk membeli baju bagus. Itu adalah pencapaian terbesar dalam hidupku. Dan menjadi setitik cahaya yang akan menerangi masa depan kami. Padahal, yang aku ingin tetap ayah. Aku masih terus berharap dan berdo'a semoga ayah ada di sana. Walau sangat kecil kemungkinannya. Malam itu, saat aku merapikan cerita baruku yang akan dibacakan di babak final, Ibu menghampiriku. Lalu menceritakan masa lalu yang sebenarnya terjadi. Dia ingin cerita itulah yang nanti harus dibacakan. Aku malah dihantui perasaan bersalah yang sangat besar padanya selama ini. Malam itu, segala kisah terkuak terang-terangan. Sudah seharusnya aku tahu, katanya. Aku menulis ulang kisah yang sebenarnya malam itu juga. Dengan berat hati. Jantungku terus berdegup kencang sekali, sesaat sebelum membacakan kisah si "anak haram" di hadapan dunia. Itu adalah salah satu gedung termegah yang pernah aku lihat. Dan semua orang menatapku. Aku malah teringat pada orang-orang yang menatapku dengan penuh kebencian dan terus saja mengataiku dengan "anak haram". Aku melihat mereka di wajah-wajah manusia yang hadir di sini. Aku sempat mundur karena mengingat itu semua. Sampai sekarang, aku masihlah anak haram. Namun beberapa juri melihatku dengan tersenyum. Seolah mendukungku untuk tetap berdiri tegak dan mendekati mikrofon. Aku harus ingat, perjuangan ibu yang sudah membiarkanku hidup. Aku harus ingat, jas yang dibelinya ini tidaklah murah. Dan aku tak ingin mengotorinya dengan air mataku. Semua orang menatapku. Jangan biarkan mereka menghinaku lagi ! Aku harus berdiri sebagai laki-laki yang dibanggakan dan tidak boleh lagi ada hinaan. Mereka semua akan menghormatiku, dan malu pada dirinya sendiri. Aku mulai bercerita, menyesuaikan segala intonasi dan mimik wajah yang tepat. Setiap kata yang aku tulis sudah terekam jelas dalam benakku. Dan hari ini, semua orang harus mengetahui kisah si "anak haram" ini. Perlahan, aku melihat mereka meneteskan air matanya. Dan ibu, masih duduk di sana dengan haru. Namun ada sedikit kebanggaan yang aku lihat darinya. Aku becerita semakin percaya diri. Seolah meluapkan segala emosi yang terpendam. Segala perasaan yang setiap hari selalu menyayat hati, seolah setiap hari selalu ada kesempatan bagiku untuk memilih mati. Di penghujung cerita, aku bersiap dengan mantap. Ini adalah kenyataan yang aku juga baru tahu dari ibu. "Setiap hari, aku selalu menanti kehadiran ayah. Aku selalu menunggu ayah pulang. Temanku bilang, ayah adalah orang yang sangat baik. Dan saat itu, aku membeci ibuku yang selalu menamparku. Aku ingin ayah, tidak ingin yang lain ! Agar semua orang tidak memanggilku anak haram lagi ! Aku tidak tahu, kalau selama ini mereka selalu menganggap ibuku sebagai perempuan yang tidak baik. Mereka selalu menyimpan kata "pelacur" di balik bisikannya. Dan aku tidak tahu apa itu. Malam itu, saat aku menyiapkan seluruh hatiku hanya untuk ayah, ibu menjawab segala kebimbanganku. Ayah bukanlah orang yang baik. Dan aku membencinya saat itu juga. Selama ini, aku mengharapkan orang yang salah. Dan juga membenci orang yang salah. Karena Ibuku, justru adalah malaikat ku, sesering apapun dia menamparku. Ibu bisa saja menggugurkan kandungannya karena ulah lelaki jahat itu. Ibuku kehilangan segalanya saat itu. Saat dia menjadi korban. Dan segalanya rela dia tinggalkan demi membuatku tetap hidup. Meski harga diri menjadi taruhannya. Semua anak lahir dengan kasih sayang ayah ibu nya. Hampir semuanya. Tapi aku adalah saksi dari kepedihan hidup dan kekuasaan Tuhan dalam menetapkan sebuah garis takdir. Dan tak banyak yang memperdulikannya. Hari ini, sepedih apapun masa depan yang akan kita lewati, sekuat apapun aku memegang belati untuk siap menghunus si "anak haram" ini, aku akan tetap memilih untuk hidup. Dan percayalah, hari ini aku benar-benar ingin mati rasanya. Karena seperti yang kalian ketahui, aku melangkah mundur karena melihat wajah-wajah mereka yang dulu mengataiku sebagai "anak haram." di hadapanku tiba-tiba. Tapi aku tahu, walau seluruh dunia mengatakan aku adalah anak haram, di sana tetap akan ada satu-satunya orang yang tidak menganggapku haram. Dialah bidadariku yang sedang duduk melihatku dilihat dunia." Aku melihat ke arahnya yang sedang dibanjiri air mata. Aku terus menahan air mata agar jas baru yang dibelinya ini tidak kotor. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Wajah mereka memerah. Termasuk dewan juri. Aku melihat salah seorang ibu yang duduk di samping ibuku memeluknya yang terus saja menangis. Si anak haram yang mencari ayah dengan penuh kerinduan, kini tak lagi merindukannya. Aku memang terlahir dari seorang lelaki jahat. Aku juga membenci kenyataan ini. Tapi, jika Tuhan memberiku satu kesempatan, aku ingin menemuinya dan menyuruhnya untuk meminta maaf pada ibuku, lalu melihatnya mendapat balasan yang berat sesuai dengan hukum yang berlaku. Walau semua itu tetap tidak akan pernah setimpal. Setiap anak terlahir dalam keadaan suci. Dan aku adalah satu diantara ribuan anak lainnya yang tak pernah ingin menjadi anak haram. Sepedih apapun masa lalu yang aku punya, kini aku melihat masa depan dengan penuh kemantapan hati. Sebagai seorang lelaki sejati, aku berjanji akan melindungi kaum perempuan. Karena aku akan selalu melihat nasib ibuku dan juga aku. Aku tahu bagaimana rasanya. Semua orang punya masa lalunya masing-masing. Tapi masa depan yang suci adalah milik semua orang.

  • view 362