Aku ingin Ayah

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Juli 2016
Aku ingin Ayah

"Dasar anak haram ! cuma jadi aib saja !" kata kata itu mengiang ngiang setiap malam dalam pikiranku.

Suatu waktu, aku bertanya pada ibu, "anak haram itu apa ?" Dia selalu menangis dan bilang, "bukan apa-apa. Mereka hanya cemburu pada kita yang hidup lebih baik dari mereka."

Aku tidak banyak bermain dengan anak-anak lainnya. Mereka selalu menjauhiku, karena ibu ibu mereka yang selalu mengata-ngataiku anak haram! anak haram! sambil berbisik bisik. Tapi aku bisa mendengar mereka. Dan berlari pada ibu sambil menangis. Kalau memang anak haram itu bukan apa-apa, lalu kenapa aku selalu dijauhi ? kalau aku lebih baik dari mereka, kenapa aku selalu terluka dengan kata-kata itu ?

Aku ingin jadi orang yang tidak baik saja, pintaku pada ibu. Ibu malah menamparku tiba-tiba. Aku membencinya saat dia selalu menamparku tanpa aba-aba seperti itu. 

Riska, salah satu anak perempuan yang diam-diam selalu menemuiku di belakang rumah dekat pos ronda. Di sana sepi, dan kami selalu bersembunyi untuk sekedar saling berbagi cerita. Aku bertanya padanya tentang anak haram. Dia bilang, itu karena aku tidak punya ayah. Lalu aku bertanya, "ayah itu siapa ? kenapa harus ada ayah kalo ada ibu udah cukup ?"

"Ayah itu yang suka gendong aku kemana-mana kalo aku lagi sedih. Ayah itu orangnya baik banget." katanya. 

"Aku pengen punya ayah juga !"

"kamu udah pasti punya ayah ! kalo kata aku sih, kayanya ayah kamu lagi kerja jauh, jadi jarang pulang. Kaya ayahnya Sandi." lanjutnya.

Aku segera lari ke rumah. Saking senangnya, sampai-sampai terjatuh beberapa kali. Tangan dan kaki kotor dengan tanah dan sedikit sakit memang. Tapi aku tidak peduli, aku ingin segera mengadu pada ibu.

"Ibu, ayah kapan pulang ?" kataku.

"Ayah kamu gaada. kita gak butuh ayah."

"tapi, ayah itu orangnya baik banget. Aku pengen ayah !"

"jadi menurutmu ibu ini tidak baik ?"

"ii.. iitu.. enggaaa.."

praak ! Lagi-lagi tamparan itu melayang pada pipiku. Kali ini sakit sekali rasanya. 

"maksud aku itu ibu engga jahat. Tapi sekarang ibu beneran jahat !" 

Aku kembali berlari keluar rumah. Sesekali terjatuh lagi dan berlari dengan merangkak rangkak. Secepat mungkin menghindari ibu dan rumah itu. Para tetangga sudah biasa melihat pertengkaran antara aku dan ibuku. Mereka tak banyak membantu, hanya mampu saling berbisik saja. 

Aku menangis di tempat biasa. Memanjat pohon mangga dekat pemakaman. Saat itu, aku benar-benar sakit hati pada ibu. 

Sudah setahun ini juga aku tidak sekolah. Selain karena tak punya uang, ibu juga tak ingin banyak di kenal dan benci saat ditanya soal statusnya yang belum menikah tapi sudah memiliki aku.

"Salah aku apaaa ??! Aku benci ibu ! aku benci mereka ! aku benci sama diri aku sendiri !" 

  Kenapa harus aku yang jadi anak haram ? aku juga ingin punya ayah ! Ibu itu jahat. Ayah itu baik. 

"Aku pengen ayah ! Ayaaaah... cepetan pulaang !" kataku sambil menangis di atas pohon. Menggerutu sepanjang hari hingga gelap pun datang, dan aku masih membenci ibu.

Aku tidak pernah takut pada gelap. 

Seseorang mendekat ke pemakaman. Mungkin itu orang yang mau berziarah. Malam-malam begini. Aku menghentikan tangisanku sejenak. Lalu orang itu berhenti tepat di bawah pohon ini. Aku tidak bisa melihatnya dengan jeli. Karena mataku sudah sangat sembab karena menangis.

Setelah cukup lama, orang itu malah menangis. Aku bisa mendengarnya.

"Maafkan ibu." Suara itu terdengar lirih dan sangat pelan.

"Ibu juga tidak pernah meminta untuk jadi seperti ini." lanjutnya. Aku masih diam mematung. Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Dia orang jahat.

Namun tangisan itu semakin terdengar memilukan. Dan mataku tiba-tiba juga kembali menitikkan kesedihan. Kenapa dia selalu meminta maaf setelah menyakitiku ? Besok lusa juga dia pasti akan menamparku lagi. 

"Aku ingin mati saja !" Suaranya kini terdengar sedikit berteriak. Lalu dia memandang ke arahku.

"Kamu terluka karena aku. Aku tak pantas dipanggil ibu. Bunuh saja aku sekarang !"

Sebenci apa pun aku padanya, tak pernah sedikit pun terpintas keinginan itu. Aku malah ketakutan mendengarnya. Selama ini, walau bagaimana pun, Ibu yang selalu memberiku makan. Jika ibu mati, mau dari mana aku makan ? aku juga belum tahu dimana ayah. Cuma ibu yang tahu.

"cepat ! Aku juga sudah lelah hidup begini !" Dia kembali berteriak padaku. Aku masih diam di sini. Semakin ketakutan. 

Lalu dia pergi berlari. Aku bingung, mau pergi kemana dia ? Tapi aku masih tidak berani untuk turun dari pohon.

Tak lama, ibu kembali datang dan mengambil sesuatu yang berkilau terkena cahaya lampu. 

"Cepat ! ambil pisau ini ! atau aku yang akan menghabisi diriku sendiri !" katanya mengancamku. 

Pisau itu sudah dipegangnya erat-erat. Mengarahkannya padaku. Dan aku hanya menggelengkan kepala. Jangan !

Dia mengarahkan pisau itu ke lehernya sekarang ini. 

"kamu pasti senang kalau ibu mati, kan ?" katanya.

"jangaaan... Ibu.. jangaan !"

"Kalau ibu sudah mati, kamu pasti gak akan malu jadi anak haram. Kamu bisa pergi ke panti atau jadi pengamen saja !" katanya semakin mengancam dan pisau itu semakin dekat dengan lehernya. 

Sesaat setelah melihatnya berusaha menggorok pisau itu pada kerongkongannya, aku segera melompat dari pohon. Lalu mengambil pisau itu dengan paksa.

"Kamu yang mau melakukannya ?" katanya masih berlinangan air mata.

"enggaa.. ibu jangan mati. Maafin aku, bu. Aku gak bisa hidup tanpa ibu."

  "kenapa kita harus hidup begini ?? kamu lihat sendiri, gaada satu orang pun yang peduli sama kita. Mungkin seharusnya kita mati saja !" 

"jangan ngomong soal itu lagi, bu ! kita cari ayah aja.."

"Jangan panggil nama itu lagi ! ayah itu bukan orang baik. Dia orang paling jahat di dunia ini ! Karena dia, kita jadi seperti ini !"

"Tapi... Aku juga pengen punya ayah. Kaya Riska.." 

Ibu segera memelukku sekarang. Dia mengambil pisau dan melemparkannya jauh jauh. Air hangat itu menetes setitik demi setitik di belakang pundakku. 

Aku tahu, sekasar apapun sikapnya padaku, dia tetap mencintaiku. 

"Lebih baik, kita pindah dari sini. Kita cari hidup baru. Kita mulai lagi dari awal." Bisiknya padaku. Lalu dia membersihkan tanah-tanah yang menempel di kaki, tangan, dan wajahku.

 

  • view 378