Tamparan angin, dan aku menyukainya.

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juli 2016
Tamparan angin, dan aku menyukainya.

Aku tidak ingin ini cepat berlalu. 

Saat jantungku bergetar dengan lembut dan menyeludupkan kenyamanan pada seluruh tubuhku melalui arus darah dalam pembuluh arterinya. Bagaimana tidak, sesuatu memaksa masuk memompa sepasang balon yang bersembunyi di balik dadaku. Menciptakan sebuah momen yang luar biasa, tanpa banyak orang menyadarinya.

Sebelah kanan, tepat di seberang jalan yang lain,

Ada tanaman padi yang berbaris rapi pada tanah horison tepat. Aku tak tahu sejauh mana bola mata ini mampu menangkap bayangan di ujung sana. Bau laut tercium dari sini. Aku tahu itu. Tak begitu jauh dari sini. 

Sebelah kiri, tepat di samping tanganku yang menepuk nepuk udara,

Tanahnya juga masih digandrungi warna hijau.  Beberapa kilatan sinar matahari terpantul dari permukaan air yang membanjiri sebagian kebun. Atau sengaja untuk memberi kehidupan makhluk air lainnya. Yang jelas bukan air asin yang super luas itu.

Entah berapa kali aku memejamkan mata. Menikmati setiap cambukan angin yang menerpa wajahku. Hingga membuat goresan hebat pada bibirku. Dan gigi gigi gingsul yang juga tak kuasa menahan takjub. Berseri seri terpapar matahari. Waktu, berhentilah sejenak. Tapi jangan hentikan juga segala keindahan dunia ini. Dan angin, tetaplah menari dan menggandrungi sekujur tubuhku. Plis !

Ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Tak bisa ditebak. Entah perasaan sedih atau bahagia. Entah mungkin keduanya memang ada bersamaan. Berkecimuk dengan senyumanku dan mata yang tak ingin terbuka, namun memaksa untuk merekam setiap gerakan sejumput rumput sekalipun pada panorama alam sekitar. 

Bau. 

Semua orang selalu menutup hidung saat mendengar kata itu. Tapi manusia itu bodoh. Kenapa harus dinamai bau jika harum juga menjadi definisi baginya ? namun tidak sebaliknya ? Entah ini bau atau harum, tapi aku ingin berlama lama menarik nafas. Menikmati setiap titik atomik yang masing masing membawa pesan milyaran subatomik lainnya pada kesadaran penalaranku. 

Aku juga tidak mengerti, kenapa hati bisa merasakan, padahal perasaan dikontrol oleh otak. Dan hati hanyalah segumpal daging penghasil empedu yang menghancurkan sel darah merah yang sudah tua-, kau tahu yang nantinya berakhir menjadi sesuatu yang terlihat menjijikan. 

Hati yang mana yang manusia maksud sebagai kediaman perasaan itu ? padahal dalam dada hanya ada jantung dan paru paru yang mengatur pernafasan, bukan hati.

Lagi lagi, entahlah.

Yang jelas, perasaan ini, saat angin merasuki rohku, selalu aku rindui. Tanganku menari nari seperti lompatan lumba-lomba, asiknya sedang melintasi provinsi lain. Dan hebatnya, bau sepanjang pantai utara pulau jawa terbawa arus menghampiriku bersama punggungmu yang berada tepat di depanku. Melindungiku dari hembusan angin cepat yang mungkin saja akan melukai mataku. 

Sebelumnya, saat kita kembali bermain angin, namun kali itu di pinggir pantai. Kamu bercerita. Ini pertama kalinya kita bertukar masa lalu. Bahkan, pertama kalinya kita bertukar pikiran, lebih lama.

Aku kembali menatap pantai di kejauhan. Menutup mata dan mengambil sebagian angin untuk menyapu kesedihan. Lalu berpikir. Betapa tak masuk akalnya semua ini terjadi. Betapa hebatnya Allah membuat sebuah ketetapan. Tanpa pernah kita minta dan tak akan pernah bisa kita tolak.

Setelah memikirkan semua itu, aku menghempaskan sisa keluhan yang menyangkut di tenggorokan. Melepaskan segala sesal yang tak berguna. Membuka mata, lalu melihat postur tubuh tinggimu itu.

"Dari sekian banyak kemungkinan yang ada, justru kitalah yang Allah takdirkan untuk bersaudara." 

Kamu tetap diam kaku, seperti biasa. Aku merasa bersalah karena mendengar kisah masa lalumu itu. Tak sebaik punyaku.

"Kamu orang yang baru aku kenal tak lama, dan kita mempunyai ayah yang sama. Ini... Aneh."

Aku tertawa. Dan kamu pun ikut tertawa. 

Yang bisa kita lakukan sekarang, adalah menerima kenyataan. Seperti halnya kita yang tak mampu memutar balik arus angin. Cukup menariknya dalam jiwamu, membuat detak jantungmu terkontrol dengan baik, dan tetaplah hidup dalam penuh cinta. 

Angin menamparku tanpa permisi, dan aku menyukainya. Setidaknya ada seorang laki laki yang akan melindungiku dan menggenggamku saat lelah. 

Seorang makhrom seumur hidup. Yang aku panggil, Kakak. 

  • view 474