Kamu Tidak Logis #2

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juli 2016
Kamu Tidak Logis #2

Setahun berlalu dengan cepat. Kata-katamu sering aku baca sesekali. Aku belajar banyak dari kata-kata itu.

Kamu pernah bercerita, bahwa nilai sekolah bukan hal yang perlu dicemaskan. Kamu adalah pimpinan siswa di sana. Kamu juga adalah kepercayaan kepala sekolah. Walau pun kamu punya banyak teman, hanya aku yang mengerti, katamu.

Itu cuma bualan ! Aku tahu itu.

Tapi kamu orang yang berpengaruh, tak bisa aku sangkal. Perlahan kamu memang mempengaruhi pikiranku.

"Tahun ini aku akan pergi jauh."?

kamu memang selalu jauh, aku tahu.?

"kenapa ?"

"aku akan menemui Socrates."?

"dia sudah tidak ada di dunia ini."

"ada. itulah kenapa aku akan pergi jauh."

Dia tidak akan pergi jauh semudah itu. Aku yakin, dia hanya akan pergi ke universitas.?

Aku selalu bertanya banyak padamu. Dan kamu selalu mampu menjawabnya. Tapi tiba-tiba kamu bilang malah akan pergi jauh, sebelum sempat menjawab semua pertanyaanku.

"masih ada hal yang ingin aku tanyakan."

"nanti saja, tunggu 7 tahun lagi."

"jangan bercanda !"

"Aku serius. -_- "

kenapa harus 7 tahun lagi ? seyakin itu dia memberi angka 7 padaku. Aku tidak percaya !

"kamu tahu, aku pernah bilang, tentang perempuan itu."?

Dia pernah bercerita tentang perempuan yang disukainya padaku. Aku memancingnya untuk terus bercerita. Canggung memang, tapi aku senang. Pikiranku tak bisa berfantasi terlalu tinggi karenanya.

"iya."

"aku tidak ingin merasakan perasaan itu lagi."

"maksudnya ?"

"sebelum semua terlambat, sebelum kamu sakit hati, lebih baik kita tidak pernah saling mengenal sejak awal."

itu adalah kali pertama kamu mengirimkan kalimat yang membuatku sakit. Aku tidak mengerti maksudnya apa. Dia akan pergi, lalu ? siapa juga yang berharap lebih ? aku memilih untuk ikut bermain, tidak dipermainkan, kau ingat ?

"kalimatmu terlalu kompleks buatku. Jelaskan lebih eksplisit."

"aku pikir kamu akan marah. hahaa.. "

"jadi, kamu beneran bercanda ?"?

"kalau iya ?"

Aku tidak membalasnya dengan sigap. Aku kesal. marah. Dia menang dalam permainan kata-kata ini. Atau, dia selalu sengaja memutar balikkan keadaan dan membuatku kalah.

"aku ingin menjadi socrates." katamu lagi. Mungkin karena aku tidak membalas cepat.

"Kenapa ?"?

"aku sebenarnya selalu bertanya seperti Socrates. Tapi, hanya pada 1 orang saja aku menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan itu."

"siapa dia ?"

"seseorang yang selalu mengajukan pertanyaan padaku."

Apa itu aku ?

"itulah kenapa, aku selalu tidak bisa tidur. Kamu tidak memberiku kesempatan untuk tenang." lanjutnya lagi tak lama mengirimi pesan masuk.

"kamu bercanda. kemana kamu akan melanjutkan studi ?"

"Aku akan masuk pada dunia Filsafat. sebenarnya, aku memang sudah masuk."

"Apa itu ambisi besarmu yang tidak semua orang tahu itu ?"

"mungkin. Rileks saja.. jangan terlalu serius begitu.. haha.. :D"?

"kamu ini ! saat aku serius kamu malah bercanda. saat aku bercanda kamu malah menanggapinya dengan serius. selalu bersebrangan."

? Dia tidak membalas cepat-cepat kali ini. Mungkin sedang berpikir. Sedang mensinkronkan ambisi dan pikirannya. Sedang membuat realita. Sedang mempersiapkan empiris yang logis. Dan sedikit rasa simpatis.

"jika saya serius mengajak kamu menikah, apa kamu akan serius menanggapinya ?"

Jemariku kaku seketika. Hello.. apa pernikahan benar-benar hanya menjadi sebuah permainan baginya ??

"haha.. tentu saja saya akan mentertawakannya."

"Tuh kan. Sekarang siapa yang terbalik ?"

Sudah pasti tidak mungkin secepat itu ! Aku masih sekolah. Dia baru masuk kuliah. Semua tak logis jika dia benar akan mengajakku menikah secepatnya.

Atau bisa jadi dia sedang mengulur waktu dengan membuat semua terlihat santai dan main-main. Hingga suatu waktu yang tepat dia akan serius dengan ucapannya barusan.

Entahlah.. apa aku bahagia atau tidak. Bagiku semua masih permainan.?

Dan ini belum selesai.

Tepat tengah malam. Aku mengendap endap menuju ruang kerjaku. Iya, bukan kerja kantoran, atau bisnis lainnya. Ruang kerja ini milikku. Aku bekerja untuk membaca dan menulis di ruangan ini. Ada banyak buku yang menghiasi dinding. Hasil koleksiku dari berbagai daerah yang pernah aku singgahi. Ada kursi sofa yang nyaman dan sesekali aku tertidur di sana. juga ada sebuah meja dan kursi kerjaku untuk menulis. Di atas meja ada sebuah laptop. Di sana terdapat banyak file yang aku simpan. Dan sebagian kenangan.

Lampu ruang kerja aku biarkan tetap mati. Lalu perlahan membuka laptop. Berselancar di internet. Dan, tiba-tiba saja aku menemukan histori chat itu dengannya.

Sudah sangat lama. Bahkan aku sempat lupa. tapi, Malam ini rasanya aku kembali menjadi remaja lagi. Saat buku buku di ruangan ini belum sebanyak sekarang. Saat yang sama, tengah malam.

Setelah dia masuk universitas, aku tak banyak mengabarinya. Begitupun dia. Sesekali dia memulai percakapan. Ada yang berubah dariku tak lama dari sana. Aku ingin menjauh dari memorinya saat itu. Tapi semakin aku mengabaikannya, dia malah semakin sering mengirimi pesan. Dan aku tidak peduli.

Aku menyesal.

Mungkin, semenjak dia mengirimkan kata "menikah". Ah, lihatlah betapa aku merasa takut setiap malam dan melihatnya kembali memberi pesan. Aku ketakutan. Cemas. Bingung mau membalas apa.?

Dan saat suatu hari di sekolah, dia memberiku sebuah surat. Aku datang sepagi mungkin saat dia menyuruhku begitu. Dan tepat di depan kelasku di balik pintu di lantai 3, ada surat yang ditujukan untukku.?

Aku membacanya, dia ingin kita bertemu. Ah, aku semakin gemetaran. Aku benar-benar takut.

Hey, ada apa ini ? kenapa aku yang dulu sempat hampir tergila-gila tanpa alasan, sekarang malah seperti kucing yang lari terbirit-birit dari kejaran sang tikus ? padahal, mungkin, dulu inilah yang aku inginkan. Saat dia akhirnya jatuh hati padaku.

Membayangkan untuk bertatap muka secara langsung, dan membicarakan sesuatu dengannya. Tidak hanya mendengar suaranya dari balik punggungku, tapi ?benar-benar membalas suaranya di depan wajahku sendiri. Saat matanya akan menemui mataku secara langsung. Dan saat dia memberikan ilusi keindahan senyumannya.

Aku tahu, tidak mungkin ada sentuhan apa pun diantara kita nantinya. Tetap saja, aku tidak mau !

Mengingat surat yang sampai ke kelasku, dia benar-benar berlari tengah malam hanya untuk ini. Membayangkan caranya memanjat gerbang, ah, sangat konyol ! benar-benar gila !

Semua sudah berakhir. Tanpa kata dariku.

Kini, tak mungkin lagi ada kata "menikah" diantara kita.?

Yang aku inginkan, tak seharusnya dia mengirimkan kata itu sebelum waktu yang tepat. Dan tak seharusnya juga dia mengajakku untuk bertemu dengannya, tidak di tempat lain. Seharusnya dia datang menemui ayahku, dan tidak untuk 7 tahun lagi.

Aku baru ingat, ini sudah jadi tahun ke-7 yang dijanjikannya itu.?

Sebuah chat masuk. Dari histori chat yang sedang ada di hadapanku sekarang.?

"Aku sedang berada di IGD. Tidakkah kamu rela untuk melangkahkan kakimu kemari ? sekali saja."?

Bohong ! kenapa kamu selalu berbohong ?!?

Aku tidak percaya. Aku tidak ingin mempercayainya.?

Seketika aku merasakan kehangatan pada wajahku. Dan sebuah anak sungai mengalir di pipi. Aku menangis, sulit dipercaya. Bahkan sampai sekarang, kamu masih belum menemuiku.?

Kita hanya akan mungkin dan cukup logis untuk melanjutkan hubungan ini sebagai sebuah pertemanan. Dan jika kamu mau, suruhlah suamiku untuk pergi bersamaku ke sana.

Mintalah izin padanya.

Malam itu aku sudah lelah. Semua permainan aku akhiri dengan membuang impuls-impuls listrik yang menampilkan kata-kata itu pada kehampaan ruang angkasa. Semuanya sudah aku hapus.?

  • view 188