Kamu Tidak Logis

Agni Aulia Ha
Karya Agni Aulia Ha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juli 2016
Kamu Tidak Logis

"Aku rasa, kamu orang yang unik. Tak suka menjadi orang kebanyakan. Memiliki ambisi besar dan tak seorangpun tahu ambisimu itu apa sebenarnya." 

Aku mengirim pesan itu padanya setelah cukup lama berpikir. Aku membayangkan dan menebak nebak seperti apa dia. Lewat caranya berpikir dan mengirimkan alfabet itu.

"kamu hebat ya.. tebakan mu selalu tepat !" pesan itu masuk lagi tak lama setelah aku mengirim pesan sebelumnya. Dia selalu begitu. Membalas dengan sangat cepat.

Mataku terpaku terus pada layar laptop di setiap pagi dan malam. Seharian aku sibuk di sekolah. Jadi, waktuku untuk menyapanya hanya di pagi hari dan di malam hari saja. Bangun sepagi mungkin dan tertidur benar-benar larut malam. 

Suatu malam dia bertanya, "Kamu gak belajar ?" 

Ah, aneh sekali rasanya. Yang lain akan bertanya, apa kamu sudah makan ? kamu sudah main ? kamu sudah kentut ? Dia malah menanyakan segala hal yang berbau intelektualitas padaku. 

Dia selalu menyisipkan kata kata 'empiris', 'silogis', 'apatis', 'simpatis', dan segala kata yang berakhiran -is lainnya. Aku selalu kesal saat kamu mengirimkan kata-kata itu di antara kalimatmu. Kamu tahu itu.

Tapi anehnya, aku selalu mengerti. 

"Kamu sendiri kenapa gak belajar ?" tanyaku balik. Memangnya dia sedang apa sekarang, menyuruhku untuk belajar. Dia sendiri sedang asik melihat jeli-jeli setiap kata-kataku yang muncul di layar laptopnya.

"Aku lagi belajar sekarang. Belajar memahami cara kerja  rasio seorang perempuan di luar sana yang sedang membaca kalimat ini. Tak ada teori yang tepat. Bahkan rumus yang berkelibat sekalipun tak sesuai untuk menyimpulkannya. Yang ada sekarang adalah ilusi dalam isi tempurungku ini. Dia yang mengirimnya seperti intuisi. Tapi tentu saja bukan ! Entah kamu ada. Yang jelas kamu tidak logis."

Aku bukan matematika yang bisa dilogikakan. Tentu saja aku tidak logis !

"maksud kamu, aku ini hantu ?" dengan cepat pula aku membalas pesan itu.

"aku tidak bilang kamu makhluk abstrak. Tapi, pikiranmu itu yang membuatku tak bisa tidur."

Gombal !

 Aku tak akan semudah itu tersihir kata-kata. Kalimat itu tak menunjukkan realita. Kamu bilang tidak bisa tidur, karena kamu menulisnya. Bisa jadi itu hanya sebuah tulisan saja.

"Aku tidak percaya."

"Aku tidak memintamu untuk mempercayainya. Bisa jadi aku memang berbohong. haha.."

Padahal jawaban yang aku tunggu bukan itu. Dia ini.. 

Seperti seorang penjahat yang berteriak bahwa dia adalah orang yang jahat.

"Sebentar ya.. kepala sekolah sedang memanggilku. Aku pergi dulu."

Malam-malam begini ? ah, dia memang sedang berbohong !

Sekarang justru kamu yang tidak logis buatku.

Aku tahu dia sedang berbohong. Tapi aku masih saja menunggunya.

Kami terlahir di tahun yang sama. Hanya terpisah 2 jenjang bangku kelas yang berbeda. Dia curang ! dia sedang di akhir tahun bangku sekolah, sedangkan aku malah baru masuk tahun pertama. Dan aku lebih tua darinya.

Dia mengetik terlalu cepat. Hingga banyak kata-kata yang salah diketiknya. Kata itu jadi terbaca menggelikan. Aku memarahinya waktu itu.

"bisakah kamu abaikan saja kesalahan ini  ? aku sedang di asrama, dan di sini sedang mati lampu sekarang ini. wajar kan kalau jariku salah menekan tombol ?" katamu membela diri.

Asrama ?! ya ! itu kali pertama aku merasa mati rasa. Teman-teman mu ada di sana. Dan laptopmu menyala di antara gelap. Apa mereka juga tahu tentang percakapan ini ? 

Dia memang mempermainkanku sejak lama. Tapi aku ingin tahu, siapa yang akan jadi pemenang di akhir permainan ini.

"Kamu masih di sana ?" dia kembali dengan cepat.

"bagaimana kalau aku ini benar-benar hantu ? kita tidak pernah benar-benar bertatap muka, kan ?"

"maka akulah orang pertama yang akan mengajak berkenalan dengan hantu itu. Dan uniknya, hantu yang aku ajak bermain kata ini mempunyai daya berpikir yang tidak logis. Tapi aku suka."

"Itu tidak lucu."

"memang itu tujuanku." 

   "Kamu menyukai hantu. Seharusnya aku tahu itu."

  "Yaa sepertinya memang begitu. Aku suka pada hantu yang sangat menyeramkan."

"seharusnya kamu memintaku untuk terbang ke sana sekarang juga."

"aku tidak mau. teman-temanku akan takut."

"aku tak peduli dengan mereka. Aku malah ingin menakutimu."

"kamu sudah melakukannya. Ini sudah malam ke-7 aku tidak bisa tidur karenamu."

kata-kata itu berhamburan dengan cepatnya. Lagi-lagi dia menggombal.

Suatu hari yang lain,

"barusan aku lewat sekolah kamu." 

pesan itu masuk lagi. Lewat tengah malam. 

"barusan ? kamu bercanda ya ?"

"iya. aku serius."

"mau apa ?"

"mau aja."

Aku tidak percaya. Tentu saja tidak akan percaya ! dia hanya mencuri kesempatan untuk bermain kata denganku. Dan aku ikut memainkannya.

"Terus pake apa ke sana ?"

"Lari." 

Aku tahu dia seorang atlit. Sangat mungkin dia melakukannya. Tapi, sangat tidak mungkin dia berlari membawa laptop lalu segera mengabariku. Konyol !

"Itu tidak logis." kataku

"memang. Tapi ini realistis. aku punya ambisi baru sekarang." lanjutnya. 

"apa ?"

"berlari di malam hari melewati sekolahmu. saat aku tidak bisa tidur."

"kamu gila !" 

Jarak asramanya dengan sekolahku tidak dekat. Terlalu jauh jika hanya ditempuh dengan berlari. Apalagi di tengah malam begini. Dia berbohong. 

"tidak. sesuatu yang realistis tidak bisa dikatakan gila."

"tapi orang gila itu ada. dia bukan makhluk magis. Tapi realis."

"tidak ada orang gila. yang ada itu hanya manusia yang tidak beruntung karena mengalami mental disorder."

"yang aku maksud itu kamu." 

"Oke. Aku gila. tapi aku beruntung."

Anehnya, kecemasan itu datang sekarang. Aku tahu, dia punya penyakit bronkhitis. udara dingin malam hari tidak akan baik buatnya. Setiap tahun dia akan masuk IGD karena penyakit itu. Tahun lalu aku bahkan menangis karena tak bisa berbuat apa-apa.

Tahun lalu, saat kamu belum mengenalku.

Aku masih memainkan peran ini. Kamu tidak pernah benar-benar tahu, bahwa 2 tahun lalu aku melihat senyuman itu di balik jendela mesjid. Entah kenapa, seketika itu aku jatuh hati. Ada sesuatu darimu yang tidak bisa aku logikakan.

Aku tidak punya alasan. Tapi merasa punya tujuan.

Di hari kedua, aku masih menemuimu. Senang rasanya. Kamu jadi orang terakhir yang keluar dari mesjid saat shalat jum'at selesai cukup lama. Aku malah semakin senang rasanya. Padahal tentu bodoh aku ini, tak ada yang tahu apa yang kamu lakukan di dalam sana. 

Saat aku mengambil air wudlu, kamu tiba-tiba duduk tak jauh dariku. Di tempat itu, saat kemarin kamu tersenyum dan tertawa dengan temanmu. Kini terulang lagi. Aku ingin berlama-lama di sana. Mendengarkan suaramu.

Dan aku ada di sana juga saat kamu bertarung. Memanjatkan do'a, entah kenapa. Berharap-harap cemas kamu akan menang. Dan pura-pura tidak melihat saat kamu melintas dengan kebanggaan memenangkan pertarungan itu. 

Semua temanmu bahagia. Aku masih pura-pura tidak peduli di sana. Seperti orang gila. 

Di kerumunan, mataku selalu saja menangkap siluet kamu. Masih dengan senyum itu. Diam-diam aku memperhatikan. Dan gemetaran saat aku ketahuan. 

konyol sekali rasanya !

Setidaknya aku tahu, kamu memang ada. Dan pernah ada dalam jarak 10 cm dariku. 

Dengan ajaib, sekarang kamulah yang sering memenuhi pesan masukku.  Entah kamu tahu keajaiban ini. 

  • view 235