Hadiah dari Sahabat - Part 5 (Final)

Agnes Dessyana
Karya Agnes Dessyana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Hadiah dari Sahabat - Part 5 (Final)

Alex berdiri di sebuah pemakaman, dirinya mengenakan gaun hitam sederhana. Ia memperhatikan keadaan di sekitarnya dan dapat melihat beberapa orang menangis, saling berpelukan, mencoba untuk saling memberikan penghiburan. Alex berdiri sendirian di antara kerumunan tersebut, bersandar di sebuah batang pohon, dan menatap langit.

“Apa menurut tante dia berbahagia?” tanyanya ketika seorang wanita menghampirinya dan berdiri di sampingnya.

Wanita itu terdiam selama beberapa detik sebelum mengangguk pelan dengan senyum, “Aku yakin dirinya sangat bahagia. Terutama karena ia memiliki sahabat seperti dirimu.”

Alex tersenyum dan bertanya-tanya, “Aku penasaran sedang apa dirinya sekarang?”

“Mengingat dirinya, kurasa ia sedang sangat sibuk.” ucap wanita itu dengan nada setengah kesal dan setengah bercanda. “Untung ada dirimu, Alex. Terima kasih karena telah menemani tante hari ini.”

Alex hanya tersenyum.

“Dasar anak tidak tahu diri. Ia lebih mementingkan kegiatan sosialnya dibandingkan ibunya sendiri. Apa ia tidak tahu bahwa ibunya rindu padanya dan ingin anak satu-satunya datang menghampirinya?”

Alex tertawa mendengar itu, “Tante tenang saja. Aku yakin Alice akan pulang saat Natal nanti. Jika ia tidak pulang, Tante dapat datang mengunjunginya di Amerika. Aku bersedia menemani Tante” Alex menawarkan sebelum menyeringai. “Kurasa itu ide yang lebih baik. Aku tidak sabar melihat wajah terkejutnya.”

“Tante suka ide itu.” balasnya menyeringai. “Itu akan mengajarkannya agar lebih mementingkan ibunya di atas kegiatan-kegiatannya.”

Alex tertawa lagi dan kemudian mengeluarkan ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, “Alice mengirim pesan bahwa dirinya tidak bisa datang karena Ia ingin menghibur para anak-anak leukemia di rumah sakit dan memberikan kekuatan pada mereka agar tetap berjuang dan tidak menyerah untuk hidup—seperti dirinya. Ia memintaku untuk mengucapkan maaf dan salam bagi tante.”

“Tante bangga pada dirinya. Namun, tetap saja, tante merasa kesepian.”

Alex terdiam untuk sesaat dan keheningan meliputi mereka, “Sudah tiga tahun.”

“Iya. Tante masih tidak dapat henti-hentinya bersyukur mengingat Alice sekali lagi dapat memenangkan pertarungan itu.” Ia berhenti sejenak sebelum menghadap Alex dan memeluknya. “Ini semua berkat dirimu, Alex. Terima kasih.”

“Aku tidak—“

“Jangan bilang bahwa ‘kamu tidak berbuat apa-apa’. Tante selalu merasa bahwa dirimu yang membuat Alice berjuang keras untuk tetap hidup. Janjimu padanya untuk menjadi sahabat hingga kakek dan nenek memberikan semangat baginya.”

“Apa? Bagaimana tante tahu?”

“Tante ada disana saat itu. Saat kamu tidak menyerah akan persahabatan kalian dan kembali padanya. Saat kamu membuatnya tersenyum dan tertawa lagi. Saat kamu memperjuangkan persahabatan kalian. Saat—“ wanita dewasa itu terhenti untuk mengatur kalimat dan suaranya. “Saat kamu berada di sampingnya dan membantunya berjuang. Tidak ada yang bisa tante berikan padamu selain ucapan terima kasih.”

Alex menghapus air matanya dengan sebelah tangannya yang tidak berada di dalam dekapan Ibu Alice. “Aku senang bahwa diriku tidak menyerah saat itu. Aku mendapat seorang sahabat sejati dan mengetahui arti sebuah kehidupan.”

Ibu Alice hanya tersenyum, memeluk wanita muda di hadapannya, “Terima kasih Alex.” Ia dapat merasakan anggukan Alex. Lalu, keduanya berpelukan selama beberapa menit hingga tiba-tiba terdengar ‘suara perut’ dari Alex.

“Ups…” cengir Alex. Ibu Alice tertawa mendengar itu, “Ayo kita ke kafe terdekat. Kita lanjutkan rencana mengejutkan Alice sambil makan.”  Alex mengangguk dan mereka berdua pergi meninggalkan pemakaman itu dengan perasaan ringan. Sepanjang sore, mereka mengobrol dan saling bercerita dalam suasana yang dipenuhi dengan tawa.

  • view 169