Hadiah dari Sahabat - Part 4

Agnes Dessyana
Karya Agnes Dessyana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Oktober 2016
Hadiah dari Sahabat - Part 4

Alice sama sekali tidak beranjak dari posisinya semenjak Alex keluar ruangan. Buku yang dibacanya tergeletak di atas tempat tidurnya dan Ia menatap jauh pemandangan di luar jendela. Di dalam pikirannya, Alice terus menerus mengulang kalimat yang dilontarkan Alex padanya; Ia tidak dapat melupakan kesedihan suara Alex saat dirinya tidak menyangkal apa yang diucapkannya dan dirinya pasti akan selalu mengingat raut wajah Alex saat dirinya keluar dari ruangan.

“Mungkin ini hukuman bagiku karena telah membuat sedih orang yang peduli pada diriku. Mungkin aku memang pantas mendapat penyakit ini karena aku adalah orang yang jahat yang membuat sahabatku sendiri menangis.” Sebuah awan depresi menyelimuti kepalanya dan membuatnya berpikir negatif. Alice sangat sibuk tenggelam di dalam pikirannya sehingga Ia tidak menyadari seseorang sudah masuk ke dalam ruangan dan memperhatikannya.

“Alice.”

Alice terkejut mendengar suara yang familiar dari sampingnya, berbalik, menemukan Alex disana. Ia terkejut menatap remaja perempuan itu.

“Alice, aku datang untuk mengatakan satu hal padamu.” ucap Alex dengan senyum canggung dan tanpa menunggu respon Alice, segera melanjutkan. “Maukah kamu menjadi sahabatku lagi?”

Alice ternganga mendengar hal tersebut, tidak tahu harus merespon seperti apa.

“Aku minta maaf atas setiap tuduhan yang kuucapkan padamu. Aku harap kamu mau memaafkannya dan bersedia menjadi temanku lagi.”

Sekali lagi, suasana canggung meliputi mereka dan tidak ada satupun dari mereka yang saling berbicara.

“Apakah benar kamu mau bersahabat lagi denganku? Setelah semua hal yang kulakukan padamu?” tanya Alice pelan, memecah keheningan.

Alex yang mendengar kalimat tersebut, tersenyum, dan mendatangi Alice, “Tentu saja.”

“Meski kamu tahu bahwa hidupku tidak akan lama lagi?”

 “Aku akan tetap menganggapmu sahabat meski kamu sakit atau sehat.” Alex mengangguk dengan semangat sebelum melanjutkan, “Dan, sebagai tambahan, aku yakin kamu akan hidup lama. Kita akan bersahabat sampai jadi kakek dan nenek.”

Sebuah air mata jatuh membasahi tangan Alice. Alex melihat hal itu dan kebingungan. “Alice, mengapa kamu menangis? Apa ada kalimat yang salah dari ucapanku? Apa aku membuatmu mengingat hal buruk? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Ma—“

Alice menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, “NO…no…no…

No? Apa maksudmu? Apa kamu tidak mau berteman denganku? Apa aku salah mengartikan maksudmu?” Alex mulai panik dan salah tingkah. Sementara itu, Alice sedang berusaha untuk menenangkan dirinya dan menghentikan tangisannya; Ia ingin menjelaskan semuanya kepada Alex bahwa dirinya sungguh bahagia mendengar ucapan Alex. Ia ingin memberitahu Alex bahwa dirinya merasa sangat senang mendengar Alex percaya bahwa mereka dapat bersahabat hingga tua. Ia ingin mengatakan hal itu untuk membalas kebaikan hati Alex, namun air matanya terus-menerus mengalir dan cengukan-nya membuat dirinya susah untuk menjelaskan semua hal itu sehingga hanya aliran kalimat ‘no…no…’ yang keluar dari mulutnya.

“Maafkan aku…maafkan aku…aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Alice menggeleng-gelengkan kepalanya, “No…thanks…thank you…”

Thank you?”

Kali ini, Alex melihat Alice mengangguk-anggukan kepalanya. “Terima kasih? Untuk?”

Alice menarik nafas panjang dan menghembuskannya, sebelum menjawab pelan dengan suara yang masih sengau. “Terima kasih atas kebaikan hatimu. Terima kasih karena kamu masih ingin menjadi sahabatku. Terima kasih atas segala yang telah kamu lakukan untuk diriku. Dan, terima kasih karena kamu mau menjadi sahabatku hingga tua.” Alice mengucapkan kata demi kata secara perlahan dengan mata yang menatap lurus ke arah Alex.

Ucapan tulus Alice menghangatkan hati Alex dan secara tidak sadar, Ia tersenyum. “Kamu adalah sahabatku yang berharga. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Alice menarik salah satu tangan Alex dan memeluknya di depan dadanya. Sambil memegang tangan sahabatnya itu, Ia berterima kasih dan berjanji untuk tidak lagi mengucapkan kalimat yang dapat menyakiti hati Alex. Di pihak lain, Alex melangkah mendekati sisi Alice dan memeluk sahabatnya itu. Sambil tersenyum, dirinya mengelus bagian belakang kepala Alice dan berkata di dalam hatinya. “Aku bersyukur bertemu denganmu. Aku berjanji akan membuatmu selalu tersenyum.”

Sore itu, kedua sahabat tersebut saling berbincang dan bersenda gurau seakan mereka tidak pernah bertengkar; keduanya saling mencurahkan kekhawatiran dan harapan mereka. Selama percakapan panjang itu, mereka berdua tidak pernah melepaskan genggaman tangan hingga akhirnya Alice tertidur karena kelelahan. Melihat hal itu, Alex memutuskan untuk menyudahi kunjungannya. Sebelum keluar ruangan, Alex menatap wajah tidur Alex sekali lagi serta meninggalkan memo bahwa dirinya akan kembali esok hari—namun kali ini dengan perasaan yang berbeda dari saat pertama kali ia keluar kamar itu. Alex kemudian masuk ke elevator dengan senyum dan perasaan ringan. Ia tidak menyadari bahwa ada seorang wanita yang bersembunyi di balik tembok dengan mata berlinang air mata—yang mendengar semua percakapan antara dirinya dan anaknya. Wanita dewasa itu menghapus air matanya sebelum berjalan memasuki ruangan yang baru saja ditinggalkan Alex sambil berkata, “Terima kasih Alex. Kamu telah memberikan sebuah harapan di hati anak-ku.”

  • view 191