Hadiah dari Sahabat - Part 3

Agnes Dessyana
Karya Agnes Dessyana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Hadiah dari Sahabat - Part 3

Alex tidak tahu mengapa ia menceritakan masalahnya kepada Suster Allisa—mungkin karena senyum Suster Allisa yang menenangkan atau mungkin karena dirinya telah terlalu stress dengan semua kejadian ini atau mungkin karena gabungan keduanya—tapi apapun alasannya, Alex telah menceritakan setiap percakapan antara dirinya dan Alice serta alasan mengapa mereka tidak lagi menjadi teman.

Selama mendengarkan cerita, Suster Allisa tidak pernah menyela atau memberikan tatapan negatif; Ia hanya mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk sambil tersenyum.

“Begitulah ceritanya.”

Suster Allisa melipat tangannya di atas meja dan kemudian tersenyum, “Kalian sungguh dua sahabat yang bodoh.”

Alex kebingungan dan juga merasa sedikit kesal dengan tanggapan Suster Allisa. Namun, karena penasaran, ia memutuskan untuk meminta penjelasan.

“Alice menjauhkan dirinya darimu karena ia tidak ingin membuatmu mengkhawatirkan dirinya yang sakit. Namun, karena hal itu justru memberikan efek sebaliknya, Alice kemudian memutuskan untuk bersikap jahat dan mengucapkan kalimat yang menyakitkan padamu.” Suster Allisa menjelaskan. “Yang satu merasa harus menjauhkan diri agar tidak membuat sahabatnya bersedih sementara yang lain tetap mendekat karena merasa khawatir dengan sahabatnya. Bukankah hal itu sungguh ironis?” Suster Allisa kemudian tersenyum lagi, “Namun, di sisi lain, kalian sungguh menggemaskan. Sampai membuatku ingin mencubit dan mengelus kepala kalian karena pikiran yang polos itu.

Alex menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, “Jadi, menurut Suster Allisa, apa yang seharusnya kulakukan?”

“Ikutilah hati nuranimu dan jadilah dirimu.”

“Ikuti hati nurani dan jadi diri sendiri?” Alex bergumam pada dirinya sendiri lalu tiba-tiba tersadar, “Maksud anda, aku harus tetap menjadi teman Alice?”

Suster Allisa kembali hanya tersenyum.

“Tapi, Alice tidak ingin menemuiku lagi? Bukankah dia akan semakin membenciku jika aku bersikeras mendekatinya?”

“Benarkah demikian? Apakah kamu benar-benar percaya bahwa Alice membencimu? Apakah kamu yakin bahwa kalimat itu benar-benar berasal dari lubuk hati Alice yang terdalam?”

Alex terkejut, matanya terbelalak mendengar kalimat yang sangat tepat sasaran tersebut—membuat Suster Allisa menatapnya dengan tatapan serba tahu.

“Baiklah. Aku sudah memutuskan.” ucap Alex setelah terdiam selama beberapa menit. “Terima kasih atas waktunya. Aku pergi dulu.”

Alex segera beranjak bangun dan keluar dari kafe. Suster Allisa menatap Alex yang berlari dan berbelok ke arah kanan, tersenyum kecil sambil meminum tehnya. “Masa muda.”

  • view 160