Hadiah dari Sahabat - Part 2

Agnes Dessyana
Karya Agnes Dessyana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Oktober 2016
Hadiah dari Sahabat - Part 2

Beberapa bulan berlalu, kondisi Alice tidak semakin membaik. Sel-sel kanker terus berkembang sehingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Sekarang, telah dua minggu semenjak Alice dirawat. Ia sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca buku ketika terdengar suara ketukan pintu.

“Siapa?”

Pintu terbuka dan disana berdiri seorang remaja laki-laki—berambut pendek, memakai baju kaos dan celana jins, membawa keranjang berisi buah—menatap Alice dengan senyuman canggung. Kedua remaja tersebut saling menatap dalam kecanggungan selama beberapa menit.

“Alex?” tanya Alice tak percaya, memecah keheningan di antara mereka.

“Bolehkah aku masuk?”

Alice hanya mengangguk pelan. Alex melangkah masuk dengan perlahan.

“Ini, untukmu.”

“Letakkan saja di atas meja disana.” Alice menjawab sambil menunjuk meja kecil yang terletak di seberang tempat tidurnya.

Alex meletakkan bingkisan buah tersebut di atas meja dan kemudian berbalik menatap Alice. Sekali lagi, ruangan tersebut diselimuti dengan suasana canggung.

“Bagaimana kamu tahu aku ada disini?”

“Aku tidak sengaja mendengar percakapan antara Ibumu dengan kepala sekolah.”

“Hm…”

“Kenapa?” Alex bertanya dengan bingung. “Kenapa kamu tidak memberitahukan hal ini padaku?”

Alice bergumam pelan—seakan berbicara kepada dirinya sendiri. “Aku tidak ingin ditatap dengan perasaan kasihan.”

Alex merasa sangat kesal mendengar alasan itu, “Apa? Apa katamu? Kamu tidak ingin dkasihani? Alasan macam apa itu? Kamu sungguh membuatku kesal. Aku tidak dapat menerima alasan seperti itu.” ucap Alex dengan suara dan nada yang semakin meninggi lalu tiba-tiba Alex tersentak, mengingat sesuatu, “Tunggu. Apa ini alasan kamu mengabaikanku? Apa ini hal yang membuatmu mengatakan kalimat kejam itu?  Jangan katakan bahwa kamu sengaja untuk menyakiti perasaanku.” Alex melihat reaksi Alice yang tertunduk di atas kasurnya. “Jadi, benar! Ini alasan yang membuatmu mengucapkan kalimat itu tiga bulan yang lalu. Agar aku…membencimu. Kenapa Alice? Kenapa kamu berbuat hal itu?” Alex berteriak—merasakan sakit di dadanya mengingat pertengkaran mereka tiga bulan lalu—meminta penjelasan Alice.

Sementara itu, Alice hanya terdiam dan tidak mengangkat kepalanya.

“Jawab aku, Alice. Mengapa kamu hanya diam saja? Apa ini yang menjadi penyebabnya atau…” suara Alex mengecil dan ia dapat merasakan penglihatannya mengabur karena air mata. “Atau…ucapanmu pada waktu itu adalah perasaanmu yang sesungguhnya? Bahwa kamu tidak pernah menganggapku teman. Bahwa kamu hanya menganggapku sebagai orang yang mengganggu dan mengesalkan. Bahwa kamu benci sifatku yang selalu berisik dan menganggu ketenanganmu.”

Untuk yang kesekian kalinya, Alex hanya memperoleh keheningan sebagai jawaban.

“Alice?” panggilnya lagi namun Alice masih terdiam dan memalingkan mukanya. “Baiklah. Jika itu jawabanmu. Aku minta maaf karena selama ini terlalu berisik dan membuatmu terganggu. Selamat tinggal Alice” kata Alex sebelum dia berjalan menuju pintu.

Alex melirik sekilas sosok Alice sebelum keluar ruangan—posisi duduk tegak dan menatap keluar jendela—menghembuskan nafas panjang dan menutup pintu. “Alice, kamu sangat bodoh.”

“Mengapa?” tanya seseorang dari belakang Alex membuat dirinya terkejut.

Alex membalik badan dan melihat seorang suster sedang berdiri di belakangnya membawa sebuah botol infus, kotak besar penuh obat-obatan, dan laporan data medis. Suster tersebut tersenyum memandang Alex dan bertanya lagi. “Kamu barusan berkata bahwa Alice sangat bodoh. Mengapa kamu berkata demikian?”

Alex dapat merasakan mukanya memerah “Maaf suster. Tidak ada masalah kok. Hanya sepertinya saya tidak sengaja meneriakkan suara hati saya.”

“Oh, kamu lucu sekali.” Suster tersebut tersenyum. “Kamu teman Alice?”

“Dulu iya.”

Suster tersebut memiringkan kepalanya bertanya, “Dulu? Berarti sekarang bukan. Jika boleh saya bertanya, mengapa?”

“Ceritanya agak panjang.”

Suster tersebut hanya tersenyum kecil, “Shift-ku sebentar lagi selesai. Aku bisa mendengar ceritamu. Oh, tapi itu-pun jika kamu bersedia menceritakannya.”

Alex bergumam sebentar dan kemudian mengangguk.

“Baiklah…hmm…kita belum berkenalan. Nama saya Suster Allisa.”

“Alex.”

“Baiklah Alex, kamu bisa menunggu di depan resepsionis. Saya akan menyusul”

  • view 160