Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 12 Oktober 2016   17:11 WIB
Hadiah dari Sahabat - Part 1

Hadiah dari Sahabat

 “Urgh! Mengapa Alice bersikap seperti itu? Tidak kusangka dirinya bisa mengucapkan kalimat sekejam itu. Apa masalahnya sampai ia mengabaikanku dan berbicara sekasar itu? Padahal selama ini, aku sudah berusaha bersikap baik padanya. Aku-lah yang membantunya untuk dapat berbaur dengan teman-teman di sekolah. Aku tidak mengerti jalan pikirannya—memang sih kami baru kenal selama dua minggu—tapi tetap saja ia tidak perlu menyakiti diriku seperi itu.” Alex berbicara sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya.  

Ia menghela nafas panjang, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Matanya panas dan keningnya berkerut mengingat pertengkarannya dengan orang yang selama ini disangka sebagai teman baiknya. “Bodoh ah! Aku sudah tidak peduli lagi padanya. Jika ia mengabaikanku, aku juga akan mengabaikannya. Ia juga bukan SAHABATKU!.” teriaknya untuk meyakinkan dirinya. Namun, tiba-tiba sebuah air mata jatuh membasahi pipi Alex. “Hah? Apa ini? Mengapa?” Alex mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya yang telah basah. “Air mata? Sejak kapan?” Alex segera mengusap kencang matanya yang basah, namun hal itu justru membuat air matanya mengalir semakin deras. “Mengapa? Mengapa tidak mau berhenti?”

Alex kemudian membalik badannya, memejamkan mata sekeras mungkin. “Mengapa air mataku keluar? Berhentilah…air mataku…berhentilah. Mengapa? Aku tidak mengerti? Mengapa aku menangisinya? Dirinya tidak pantas untuk ditangisi. Dia bukan siapa-siapa. Dia bukan sahabatku. Dia hanyalah orang asing.” ucap Alex terus menerus—berusaha untuk meyakinkan dirinya—hingga dirinya tertidur karena kelelahan.

Di saat yang bersamaan, di kamar lain, seorang gadis duduk di lantai, menatap kertas di tangannya dengan wajah sedih. Matanya dengan seksama melihat setiap huruf dan angka yang terdapat di kertas tersebut. Ketika sampai pada bagian akhir dan membaca kalimat kesimpulan, matanya merefleksikan kepedihan yang mendalam.

“Mengapa hal ini terjadi padaku? Apakah aku harus kembali merasakan siksaan seperti dulu lagi?” Gadis tersebut menundukkan kepalanya di antara kedua lengannya dan menangis. Ia masih tetap berada di posisi tersebut ketika ibunya masuk ke dalam kamar.

“Alice? Alice? Mengapa kamu, nak? Apa ada yang sakit? Pusing? Demam? Mual?”

Alice mengangkat wajahnya—mata merah, hidung basah, rambut berantakan—membuat hati Ibunya sedih.

“Oh, Alice.” ucapnya sambil berlutut di depan anaknya dan memeluknya.

Alice tidak mengucapkan apapun, hanya menagis di dalam pelukan Ibunya. Hati Ibunya terasa seperti teriris-iris oleh pisau melihat anaknya. Kejadian ini membuat Ibunya kembali teringat akan kenangan tiga tahun lalu—wajah pucat, badan kurus dan lesu—ketika anak satu-satunya itu sedang menjalani perawatan kemoterapi.

“Ibu, mengapa hal ini terjadi pada diriku? Apa aku anak yang nakal sehingga Tuhan menghukumku? Apa kesalahanku sehingga penyakit ini kembali datang?”

“Tidak nak, tidak ada yang salah pada dirimu.”

“Lalu, kenapa?” Ibunya hanya terdiam sambil tetap memeluk Alice. “Kenapa, Bu? Kukira, aku sudah terbebas dari penyakit ini.” Alice bergumam di dalam pelukan Ibunya, “Aku tidak kuat…aku tidak yakin akan menang kali ini…aku merasa lelah…”

“Jangan berkata begitu! Kamu adalah anak paling kuat. Kamu pernah mengalahkan penyakit itu sekali, Ibu yakin kamu bisa menang untuk kedua kalinya.” Ibunya memeluk Alice semakin erat. “Jangan menyerah, Alice. Ibu…Ibu…akan melakukan segala usaha untuk memastikan bahwa dirimu akan tetap hidup.”

“Aku takut.” Alice berkata dengan suara kecil. “Aku takut kali ini aku tidak bertahan…aku…takut…Ibu….Tolong…aku…”

Mendengar permohonan itu, Ia mendekap erat Alice, membisikkan kalimat-kalimat manis di telinganya—cara yang biasa dilakukannya untuk menenangkan dan menghiburnya. “Ibu sayang kamu. Jangan menyerah sayang. Kita telah berhasil satu kali, kita pasti bisa melewati hal ini lagi.”

Alice hanya dapat membalas erat pelukan Ibunya dengan air mata yang terus bergulir membasahi wajahnya, berharap bahwa pelukan ini bukanlah pelukan terakhir yang akan diterimanya. “Mom, can you stay with me until I fall a sleep?

Ibunya terkejut mendengar hal itu. Bukan karena isi permintaannya melainkan karena bahasa yang digunakannya. Alice merupakan campuran Amerika dan Indonesia yang hanya akan berbicara dalam Bahasa Inggris ketika diperlukan saja—Ia memutuskan untuk berusaha melakukan setiap percakapan dalam Bahasa Indonesia semenjak diejek temannya di sekolah ketika pindah ke Indonesia sebulan lalu—maka Ibunya pun mengangguk dan menuntun Alice ke tempat tidur, merapikan selimutnya, mengecup keningnya, dan duduk di sebelahnya sambil memegang telapak tangan Alice dengan lembut. “Of course, sweetheart. Sleep. Mom will be here to protect you.

Mom, will I survive?”

Tangan kiri Ibunya terangkat untuk menutupi mulutnya. Selama beberapa saat, Ibunya tidak dapat memberikan respon, namun segera dapat menguatkan diri, “You will. I know that.”

Alice menatap Ibunya selama beberapa detik sebelum tersenyum dan menutup matanya. “Good night, mom.”

Sweet dream, sweetheart.”

Setelah itu, ruangan diselimuti dengan keheningan, hanya terdengar suara nafas Alice yang lembut. Ibunya menatap Alice dengan tatapan penuh kasih; Ia menggenggam erat tangan anaknya sambil berusaha untuk menghentikan tangisnya. “Ibu tidak akan menangis lagi. Ibu berjanji untuk selalu membuatmu bahagia. Ibu akan mengusahakan segala upaya untuk menjaga senyum-mu. Ibu akan memastikan bahwa dirimu akan tetap hidup” ucapnya sambil menatap wajah tidur Alice yang polos dan tanpa beban.

Karya : Agnes Dessyana