Kisah Klasik Bag. 5

Sabeena Naya
Karya Sabeena Naya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Maret 2017
Kisah Klasik Bag. 5

sejak saat itu,

Nabila merasa ada yang hilang dari hari – harinya. Ia bahkan merasa bahwa akan lebih baik ia bertengkar dengan Reyhan daripada harus menyadari bahwa ia takkan pernah berhubungan lagi dengan Reyhan.

Di lain sisi, mama Shinta terus memperhatikan perubahan – perubahan Nabila di setiap harinya. Ia berpikir bahwa masalah yang dihadapi putri semata wayang nya ini cukup berat. Ia pun kemudian memutuskan untuk mendekati putrinya dan mencoba membantunya.

Mama Shinta  : “Nabila, kamu baik – baik saja?”

Nabila                 : “Mama.. iya, Nabila baik – baik aja ma..”

Mama Shinta  : “Kamu yakin?”

Nabila                 : “Nabila yakin ma…”

Mama Shinta  : “Gini, mama bukannya mau ikut campur. Tapi, jika memang Nabila punya masalah yang rumit.. mungkin mama bisa bantu. Kamu bisa cerita sama mama, sayang.”

Nabila                 : mendengar kata – kata mama, sontak Nabila menangis. Ia tak dapat lagi menahan tangisnya yang sejak tadi di tahannya.

                                “Mama….” Nabila pun menghambur ke dalam pelukan mamanya. Ia terisak

Mama Shinta  : “Iya.. nangis aja dulu, sayang. Semua bakal baik – baik saja.”

Nabila                 : “Dia pergi ma… Dia..”

Mama Shinta  : “Maksud kamu?”

Namun senyap. Nabila tak meneruskan perkataannya. Sedang mamanya pun memberinya waktu untuk dirinya sendiri. 

Mama Shinta  : “Oke. Mama ngerti kamu masih belum mau cerita ke mama. Yang pasti Nabila anak mama yang kuat. Semua pasti selesai dengan baik. Begitu kan?”

Nabila                 : “Terimakasih ma…”

Mama Shinta pun kemudian meninggalkan Nabila sendiri. Ia yakin bahwa putrinya akan baik – baik saja. Ia pun mulai memahami bahwa Nabila sudah dewasa. Lebih dewasa dari yang ia pikir.

******

“Rey… maafin salahku. Aku nggak bisa secepat itu ngerti kamu. Maafin aku atas keterlambatanku menyadari semuanya. Lalu sekarang, masih dengan ketidak mengertianku dan penyesalanku, kamu malah dengan mudahnya pergi dan memutuskan semuanya tanpa penjelasan. Aku ini apa buat kamu? Apa?” Rintih Nabila tak tertahan.

“Baik. Aku akan ikuti semuanya. Aku akan ngelupain kamu. Tapi, jika nanti kita bertemu lagi, satu hal yang pasti. Aku akan bertanya atas semua sikap kamu ke aku. Aku janji.” Tambah Nabila. Ia pun menuntaskan semua kekesalannya dan kemarahannya untuk Reyhan. Tapi tidak untuk keesokan harinya dan seterusnya. Ia pun harus kembali pada prinsipnya bahwa ia hanya akan mengedepankan pendidikan dan masa depannya. Hanya itu.

******

2 tahun berlalu, ia pun berhasil kembali pada prinsipnya. Semua berjalan sesuai yang diharapkan. Ia pun sudah menjadi salah satu mahasiswi di salah satu universitas di Surabaya. Orangtua Nabila tak mengizinkannya untuk berkuliah di luar kota karena sudah cukup lama ia tak berkumpul dengan keluarganya. Nabila pun menurut asal dengan jurusan yang ia kehendaki. Semua tampak berjalan lancar sekalipun sesekali ia teringat dengan Reyhan. Hanya sesekali.

Bulan Mei, ia mendapat tawaran untuk mengajar Bimbel di SMP daerah rumahnya. Ia menerimanya dengan senang hati. Ini adalah kesempatan emas untuk berbagi apa yang pernah ia dapat di asrama nya dulu. Selain itu, ia juga amat mencintai dunia pendidikan. Nabila pun bersiap sebaik mungkin. Ia tak ingin mempermalukan dirinya dengan penampilan yang tak baik. Ia membawa nama baik asrama nya dan ia pun harus menjaga nama baik itu.

Sesampainya di lokasi rapat keesokan harinya, ia sedikit terkejut karena tentor yang lain pun telah berkumpul. Beruntung ia tak terlambat. Hanya tidak datang awal saja. Namun, lagi – lagi Allah membuat satu kejutan hebat di hidup Nabila. “Nggak! Itu bukan dia. Aku harap dan sangat berharap itu bukan dia!” mata Nabila menatap tajam pada seseorang yang ada di hadapannya. Sedang yang di tatapnya sedang sibuk berbincang dengan teman di sampingnya. Ia merutuki dirinya karena ia yang terlebih dulu menyadari keberadaan REYHAN. “OK Nabila. Stay cool. Anggap kamu juga tak melihatnya.” Tandas Nabila dalam hati.

“PERHATIAN. BAIK ACARA KITA MULAI

ASSALAMU’ALAIKUM WR, WB.

SELAMAT PAGI PARA TENTOR BIMBEL ………. Dst”

               

 

 

 

Setelah mendengar sapaan MC saat membuka acara, saat itu juga hal yang sempat tertahan dan tak diharapkan Nabila terjadi. Mata Nabila dan Reyhan bertemu. Mereka berpandangan cukup lama. Mereka saling menatap kejut satu sama lain. Mereka tercekat satu sama lain. Tak ada kedipan. Namun, seketika Nabila mengubah arah pandanganya pada MC dan menegakkan tubuhnya untuk menghilangkan kegugupannya. Di sisi lain, Reyhan menelan salivanya. Ia pun mengubah arah pandangnya ke arah lain sekedar meyakinkan dirinya bahwa kejadian tadi adalah mimpi. Namun, ia pun tak bisa menolak hatinya saat hati meminta pandangannya sesekali tertuju pada Nabila untuk memastikan sosok yang ada dihadapannya saat itu memang benar – benar Nabila atau bukan.

“Allah.. apa yang harus aku lakukan setelah ini?” Gumam Nabila. Sedang Reyhan yang ada di hadapannya tak tampak canggung atau gelisah. Malah dengan santai ia mengulurkan konsumsi rapat kepada Nabila. Tanpa ragu. “Noura, ini buat kamu.” Sontak Nabila terkejut dengan sebutan itu sembari menatap tajam Reyhan. “Noura? Kenapa dia memanggilku dengan sebutan itu?? Itu adalah panggilan yang paling aku tak suka.” Gerutu Nabila. Sedang yang ditatap melayangkan senyum. “Aku bahkan belum lupa kata – kata kotor itu, Rey.” Batin Nabila marah.

Acara selesai. Jadwal bimbel sudah ditetapkan. Bimbel akan dilaksanakan setiap sabtu siang dan secara otomatis ia akan bertemu dengan Reyhan di ruang yang sama dengan tentor yang lain. “Aku tak akan pernah menegurnya hingga dia yang menegurku terlebih dahulu.” Janji Nabila pada dirinya sendiri. Ia pun masih tak dapat menyimpan kemarahannya saat ia mendengar nama Reyhan. Yah.. mendengar namanya saja ia marah apalagi harus berhadapan dengannya. Seolah mengerti apa yang dirasakan Nabila, Reyhan pun selalu menatap teduh pada Nabila, tak mau meladeni kemarahan Nabila. Sedang satu tentor dengan tentor yang lain tampak saling berkenalan dan melontarkan guyonan – guyonan ringan agar mereka tak canggung untuk bertegur sapa. Namun, lagi – lagi berbeda dengan Nabila dan Reyhan. Mereka tak perlu lagi saling menanyankan nama dan alamat layaknya orang yang baru pertama kali berjumpa karena mereka sudah saling mengenal bahkan jauh sebelum mereka dewasa seperti saat ini.

Kegiatan pun berjalan dengan lancar. 1, 2, 3,4 bulan berlalu para tentor tampak akrab satu sama lain. Bahkan mereka saling menimpali tentang kapan menikah dan sebagainya. Dan lagi – lagi bukan kata yang tersampaikan namun mata yang bicara. Nabila sesekali mencuri pandang pada Reyhan dan begitupun sebaliknya. Sesekali pandangan mereka tak sengaja bertemu namun kemudian Nabila memicingkan matanya tanda jengah untuk menatap Reyhan. Reyhan pun tampak sabar dan mengalah dengan pandangan itu.  Sedang Reyhan Nabila… belum ada kata damai diantara mereka. Mereka semakin terjebak dengan rasa masing – masing. Nabila dengan kekesalan dan kemarahannya sedang Reyhan dengan pandangan yang seolah melontarkan rasa bersalah. Ya mungkin rasa itu yang Nabila artikan dari tatapan Reyhan.

Tak dapat dipungkiri, sekalipun cukup lama terpisah, tampaknya ikatan diantara keduanya masih tampak kuat. Ketika sesekali tentor senior, Bu Mila, menimpali Reyhan dengan candaan namun terkesan tak enak di dengar, Nabila pun ikut tak suka dengan Bu Mila. Bahkan Nabila mencuri waktu untuk memandang seseorang yang menjadi bahan candaan sekedar memastikan reaksi yang diberikan Reyhan terhadap candaan Bu Mila. Sebaliknya, ketika Reyhan di panggil calon menantu oleh Bu Mila, ia pun sontak menoleh ke arah Nabila. Tidak.. itu bukan tak di sengaja karena Reyhan menatap lekat Nabila. Begitupun setiap semua tentor akan meninggalkan sekolah. Reyhan selalu mencari Nabila hanya sekedar berpamitan meski pandangan mereka yang berbicara. Sedang Nabila akan berdiri dan keluar dari ruangan setelah Reyhan mengedarkan pandangan ke arah nya.

“Rey.. aku tak tahu ini rasa ku yang sebenarnya atau tuntutan atas kemarahanku padamu. Ku mohon… bantu aku menyudahi semua rasaku ini.” Hati Nabila semakin tak kuasa mengartikan yang terjadi padanya.

Tiba – tiba..

Tak ada angin tak ada petir, gunung es yang terbangun sekian lama diantara mereka mencair. Tak ada skenario di dalamnya. Mungkin Allah sudah jengah dengan keegoisan masing – masing.

Reyhan               : “Hmm... permisi. Boleh saya titip bolpoin ini untuk Bu Kamila? Setau saya beliau tetangga kamu jadi saya titip ini untuk beliau lewat kamu. Sepertinya bu Kamila hari ini tidak masuk.” Kata Reyhan sopan yang justru ternyata mengagetkan Nabila.

Nabila                 : …………………

senyap. Nabila belum menjawab permintaan Reyhan. Ia tercekat dengan sapaan Reyhan.

Reyhan               : “Noura.. kamu denger saya kan?” Panggil Reyhan menyadarkan Nabila dari keterkejutannya.

Nabila                 : “I.. i.. iya. Nanti aku berikan padanya. Ah tidak. Kenapa bukan kamu sendiri yang memberikannya? Kurasa itu lebih baik.” Ketus Nabila menutupi kegugupannya.

Reyhan               : “Iya.. kamu bener. Tapi setelah maghrib nanti apa bu Kamila ada di rumah? Saya pikir beliau akan sibuk nanti” tanya Reyhan hati – hati.

Nabila                 :“Kamu takkan pernah tahu bu Kamila ada atau tidak jika kamu tak mencobanya” ketus Nabila sekali lagi.

Reyhan               :“Baiklah kalau begitu. Terimakasih sarannya”

Reyhan pun meninggalkan Nabila. Sedang Nabila merutuki dirinya sendiri yang ketus pada Reyhan. Bagaimana semua pertanyaanmu akan terjawab jika kamu masih ketus seperti ini padanya, Nabila? Ia bahkan menyapamu duluan!” Nabila tampak frustasi dengan sikapnya. Sesampainya di rumah pun ia masih menyayangkan respon yang ia berikan kepada Reyhan.  Ia khawatir kalau kalau Reyhan akan berpikir yang tidak – tidak dengan Nabila. “Apa ini awal dari semua yang aku harapkan selama ini, Allah? Baiklah.. aku akan mencoba menanggapi niat baiknya.” Tak terasa Nabila menangis bahagia dengan kejutan yang terjadi hari itu.

Sejak saat itu, semua terasa berbeda. Sekalipun belum ada teguran sapa yang biasa tentor lain dengungkan, namun.. pandangan mereka pun tampak tak segan lagi. Setidaknya rasa gugup saat harus bertemu pandang sudah berkurang. Sayangnya, rasa marah masih ada di benak Nabila hingga kadang membuat pandangan Nabila berubah menjadi sengit. Nabila masih mempertanyakan hal yang sama.. mengapa Reyhan malah menyakiti hati nya disaat ia akan menjawab pertanyaan kejutan Reyhan sedangkan saat ini Reyhan telah berubah menjadi sosok yang baik sehingga perasaan tak menentunya akan Reyhan semakin kuat. Hingga dalam kesempatan ini bukan Reyhan yang tampak menghampiri Nabila namun sebaliknya. Nabila yang terus mengharap Reyhan kembali seperti dulu. Nabila yang terus berharap semua rasa yang dimiliki Reyhan tetap sama. Nabila yang terus berharap kebaikan Reyhan saat ini hanya untuknya. Ya, Nabila saat ini yang sedang merasa masih memiliki Reyhan.

 

Lihat saja,

Nabila ikut merasa bersalah pada coordinator bimbel ketika Reyhan langsung pulang tanpa berpamitan pada seluruh tentor yang ada di kantor. “Mungkin pak Reyhan ada urusan lain.” tutur salah seorang tentor lain. Namun, tetap saja.. sikap Reyhan tak pantas untuk dilakukan. Kak Neisya, coordinator bimbel, pun masih tetap menunjukkan kemarahannya untuk Reyhan pada Nabila. “Baiklah kak.. aku akan coba tanyakan ini sama Reyhan. Semoga benar kata tentor tadi.” Kata Nabila mencoba menghibur teman karibnya itu. Awalnya Nesya menolak bantuan Nabila karena ia tahu pasti jika Nabila yang menanyakan kesalahan Reyhan ini artinya Nabila harus menahan ego untuk berkomunikasi dengan Reyhan. Ia tahu benar seperti apa kemarahan Nabila pada Reyhan. Namun, setelah Nabila sendiri yang memastikan bahwa ia akan baik – baik saja, Nesya pun mengiyakan solusi yang diberikan Nabila. Nabila pun kemudian meminta nomor ponsel Reyhan pada Neisya dan memutuskan untuk mengirim pesan pada Reyhan.

Nabila                 : “Assalamu’alaikum. Reyhan ini aku, Nabila.”

Reyhan               : “Wa’alaikumsalam. Noura kah?”

Nabila                                 : “Iya. Sibuk?”

Reyhan               : “Saya sedang di jalan. Kamu tutup saja teleponnya. Nanti saya yang akan menghubungi kamu.” 

Nabila                 : “Hmm baiklah. Sampai nanti.”

“Masih sama. Reyhan masih sama. Ia tak pernah mengijinkan aku yang menghubunginya lebih dulu.” Batin Nabila.

Tak lama.. 15 menit kemudian nomor ponsel Reyhan memanggil. Sedang Nabila masih dengan kegugupannya untuk kembali berkomunikasi dengan Reyhan setelah 2 tahun. Nada tunggu pertama terlewat, nada tunggu kedua… Reyhan masih menunggu Nabila mengangkat teleponnya. Namun, Nabila masih dengan kegugupannya. Nada tunggu ketiga lewat.. keempat.. kelima.. dan nada dering itu pun kemudian berhenti. “Apa – apaan Nabila? Angkat teleponnya. Ini bukan tentang perasaan kalian. Ini tentang pekerjaan. Kamu akan membicarakan tentang pekerjaan. Bukan yang lain!!” Gerutu Nabila yang tampak sedang beradu dengan hatinya yang masih saja gugup. Kemudian, notifikasi pesan masuk terdengar. “Pasti itu Reyhan. Maafin aku Rey..” Gumam Nabila.

Nabila pun membuka pesan tersebut dan isinya adalah..

“Saya sudah sampai rumah. Saya telepon sekarang? Atau sms saja?”

Nabila semakin gugup membaca pesan singkat Reyhan. Tapi kemudian ia meninggalkan perasaannya. Ia sadar ia harus professional.

“Terserah kamu saja. Maaf tadi ponselku silent mode.”

Seketika ponsel Nabila berdering. Ia pun menarik nafas dalam sebelum mengangkat telepon Reyhan.

Nabila                 : “Assalamu’alaikum”

Reyhan               : “Wa’alaikumsalam wr,wb. Ini Reyhan. Noura sibuk?”

Nabila                 : “Nggak.”

Reyhan               : “Baiklah kalau begitu. Tentang pesan kamu, ada yang mau dibicarakan Noura?”

Nabila                 : “Pasti ada. Hanya saja boleh aku minta kamu tak memanggilku dengan sebutan Noura? Aku tak suka sebutan itu.”

Reyhan               : “Oh maaf. Saya pikir akan tampak berbeda dari kebanyakan orang yang memanggil kamu Nabila tau Bila. Saya pikir akan tampak lebih mudah kamu mengenal saya saat memanggil kamu. Noura yang berarti cahaya. Saya suka kata itu.

Nabila                 : “Terserah saja.”

Reyhan               “ Jadi boleh kan saya panggil Noura Nabila dengan panggilan Noura?”

Nabila                 : “Terserah anda saja, Adnan!”

Reyhan               : “Adnan?”

Nabila                 : “Iya Reyhan Adnansyah. Saya suka memanggil anda dengan panggilan yang berbeda dengan yang orang – orang biasa sebut. Akan tampak berbeda.”

Reyhan               : “Oke Noura. That’s up to you.”

Nabila                 : “Thanks, Adnan.”

Reyhan               : “Lalu? Hal pentingnya?”

Nabila                 : “Begini. Tadi kamu mengajar bimbel kan?”

Reyhan               : “Iya. Lalu?”

Nabila                 : “Dengarkan aku dulu. Tadi adalah hari pembagian fee. Semua tentor tau itu dan berkumpul di kantor dulu untuk sekedar sharing dan evaluasi. Kupikir Reyhan tau itu. Namun, hingga semua tentor memutuskan pulang, kami tak menemukan kamu. Sampai akhirnya aku yang nunggu kamu bersama kak Neisya. Kamu kemana?”

Reyhan               : “Tunggu. Kamu panggil aku Reyhan? Bukan Adnan?”

Nabila                 : “Rey.. aku serius.”

Reyhan               : “Ok. Iya. Untuk yang tadi. Saya minta maaf. Saya ada panggilan mendadak yang mengharuskan saya pergi segera. Jadi saya tidak sempat izin pada tentor yang lain.”

Nabila                 : “Sepenting itukah? Kita sudah lama tak berkumpul dengan sesama tentor, Rey.”

Reyhan               : “Iya, Noura. Saya minta maaf. Sampaikan maaf saya untuk kak Neisya. Lain kali saya akan izin. Seperti itu kan?”

Nabila                 : “Kamu pasti mengerti apa yang harus kamu lakukan.”

Reyhan               : “Terimakasih sudah mengingatkan.”

Nabila                 : …………………………….

Reyhan               : “Noura? Kamu masih dengar saya?”

Nabila                 : “Iya.. serasa aneh mendengar Reyhan meminta maaf dan bilang terimakasih.”

Reyhan               : “Ini Reyhan yang sekarang. Bukan Reyhan yang dulu.”

Nabila                 : “Baiklah. Aku tahu itu.”

Kemudian senyap. Keduanya tampak sedang menahan ego untuk membahas masa lalu mereka. Padahal, jika Nabila boleh membahasnya, ia akan marah sejadi – jadinya.

Reyhan               : “Noura..”

Nabila                 : “Iya”

Reyhan               : “Kalau begitu boleh aku tutup teleponnya? Saya harus pergi lagi setelah ini. Hari ini jadwal saya cukup padat.”

Nabila                 : “Silahkan. Kamu berhak memutuskan untuk menutup teleponnya. Kamu yang menghubungi aku dulu. Bukan aku.”

Reyhan               : “Baiklah kalau begitu. Maaf.”

Nabila                 : “Jika pergi nanti, jangan ngebut di jalan. Lebih baik pelan asal selamat. Jika ngebut seperti tadi, aku takut terjadi apa – apa.”

Reyhan               : “Tadi? Kamu melihat saya?”

Nabila                 : “Ha? Iya.. aku lihat kamu ngebut di jalan tadi. Aku kebetulan baru keluar dari sekolah setelah nunggu kamu lama.”

Reyhan               : “Oh baiklah. Maafkan saya sudah membuat kamu nunggu lama.”

Nabila                 : “Aku mau kamu nggak ulangin ini lagi.”

Reyhan               : “Insya Allah saya akan perbaiki ini. Terimakasih Noura. Saya tutup dulu ya. Assalamu’alaikum.”

Nabila                 : “Wa’alaikumsalam.”                            
 

Setelah telepon terputus, harusnya Nabila senang karena bisa berbicara dengan Reyhan kembali. Namun, ia malah menangis kesekian kalinya karena Reyhan. Entah mengapa luka nya waktu itu seolah semakin terasa panas. Ia tampak haus akan penjelasan tentang waktu itu. Sedang pada kenyataannya, Reyhan yang sekarang amat jauh berbeda dengan Reyhan yang pernah berkata kasar padanya.

Keesokan harinya,

Saat semua tentor berkumpul di kantor sebelum masuk kelas, Nabila melihat Reyhan sedang berbincang dengan tentor yang lain. Merasa di perhatikan, Reyhan melihat Nabila dan pandangan mereka bertemu. Tak butuh waktu lama.. Nabila kemudian mengalihkan pandangannya pada tentor di sampingnya. Dalam hati Nabila, ia masih merasa bahwa gunung es di antara mereka belum sepenuhnya mencair. Mereka tak bisa leluasa seperti yang lain. Mereka tak bisa berbincang biasa seperti yang lain. Nabila bertanya pada hatinya apakah ini normal terjadi atau memang masih ada hal yang mengganjal diantara keduanya? (Mungkin kalian, para pembaca, bisa membantu menjawabnya).

“Bil, kamu tahu tidak kalau Bu Yeni dan Bu Feli masih saudara dengan pak Reyhan?” tanya Mulan tiba – tiba pada Nabila. Sejujurnya, Nabila tampak terkejut dengan pernyataan temannya namun ia berusaha untuk menutupi keterkejutannya. “Benarkah? Aku tak sadar tentang hal itu.” Sahut Nabila sekenanya. “Lihat saja.. ketika pak Reyhan tiba – tiba menghilang setelah bimbel usai, bu Yeni dan Bu Feli lah yang gelisah mencari pak Reyhan. Selain itu.. saat melihat mereka berinteraksi, aku sering mendengar pak Reyhan memanggil bu Yeni dengan tante. Aku yakin aku nggak salah dengar.” Tambah Mulan panjang lebar. “Benarkah apa yang dikatakan Mulan? Kenapa aku tak menyadarinya sama sekali? Lalu.. bagaimana dengan sikap tak bersahabat para tante Reyhan? Apa itu juga berhubungan dengan aku? Aku tak yakin Reyhan akan seterbuka itu pada tante – tantenya. Tunggu, ada apa sampai Mulan begitu detail tahu tentang Reyhan?” Nabila sedikit tak suka dengan Mulan yang lebih tahu tentang Reyhan ketimbang dirinya. “Mulan? Kamu suka sama pak Reyhan?” pancing Nabila. “Suka? Sama pak Reyhan? Andai aja nggak ada Budi, aku bakal deket – deket sama pak Reyhan, Bil. Hanya orang bodoh yang nggak bilang kalo pak Reyhan itu idaman. Ganteng iya.. pinter iya, santun iya.. apalagi? Nih ya… sampek murid di kelasku tuh ada yang titip salam buat dia lo. Atau jangan – jangan kamu suka ya?” tembak Mulan pada Nabila. Nabila pun tak tahu harus menanggapi seperti apa. “Apa- apaan sih? Ngobrol aja ndak pernah kok bilang suka. Asal deh kamu Mulan.” Nabila mencoba mengelak dari tuduhan yang menyentil hati Nabila.

****

Di rumah..

Nabila masih terngiang tentang informasi yang didapat dari Mulan saat di sekolah tadi. Bagaimana tidak, hubungannya dengan Reyhan saja belum jelas membaik atau belum namun sudah ada beberapa atau bahkan banyak mata yang melihat Reyhan dengan kagum. Nabila pun mencari cara agar ia bisa mengungkapkan kekesalannya pada Reyhan. Sejak penyesalan Nabila 2 tahun yang lalu, Nabila memang tampak tak bisa untuk memendam apa yang dirasakan terlebih dengan hal – hal yang berhubungan dengan Reyhan. Kemudian, ia ingat bahwa ia mendapat tugas dari dosennya untuk meminjam buku paket Bahasa Inggris milik anak SMP yang tak bertuliskan BSE. Ia berpikir ini adalah kesempatan emas untuknya mengungkapkan kekesalannya dengan apa yang ia dengar dari Mulan tentang Reyhan. Tanpa menunggu lama, ia pun membuka ponselnya dan menekan nomor Reyhan.

Reyhan               : “Assalamu’alaikum.”

Nabila                 : “Wa’alaikumsalam. Rey, ni aku Nabila.”

Reyhan               : “Yap Naura. Aku tahu. Ada yang bisa kubantu?”

Nabila                 : “Hmm.. aku nggak tahu ini merepotkan atau tidak. Cuman aku hanya memastikan apakah kamu bisa bantu aku?”

Reyhan               : “OK. Bantu apa? Asal saya bisa.. pasti saya bantu.”

Nabila                 : “Kamu ada saudara yang masih SMP kan? Aku butuh buku paket bahasa Inggris mereka untuk tugas kuliah aku. Bisa kamu bawain aku lusa?”

Reyhan               : “Paket bahasa Inggris? Buat apa Noura?”

Nabila                                 : “Tugasku, Rey.”

Reyhan               : “Maksud kamu, kamu kuliah di jurusan Bahasa Inggris.”

Nabila                 : “Yes, I am. Why?”

Reyhan               : “Wow.. I am shocked about it, anyway. You are perfect girl.”

Nabila                 : “Thanks. You too..”

Reyhan               : “Sudah semester berapa Noura?”

Nabila                 : “Hmm.. masih semester 4. Hmm.. kamu sendiri? Kuliah di?”

Reyhan               : “Hmm.. saya kuliah di sini.”

Nabila                 : “Di?”

Reyhan               : “Saya off 1 tahun. Noura. So, saya baru semester 2 sekarang.”

Nabila                 : “Never Mind, Rey. Yang penting kamu masih Reyhan yang dulu yang mencintai pendidikan. I am proud of you.”

Reyhan               : “Thanks. Saya  tidak ada apa – apanya dengan kamu, Noura.”

Nabila                 : “Rey, please..”

Reyhan               : “Ok. Maaf.”

Nabila                                 : “So, kamu bisa bantu aku, Rey?”

Reyhan               : “Saya usahain ya, Noura.”

Nabila                                 : “Aku tunggu kabar kamu secepatnya, Rey.”

Reyhan               : “Insya Allah, Noura.”

Nabila                 : ……………………

Reyhan               : “Noura?”

Nabila                 : “Hmm boleh aku bicara?”

Reyhan               : “Silahkan, Noura. Saya mendengarkan disini.”

Nabila                 : “Tadi ada siswa kelas bu Mulan yang bilang suka sama kamu. Sepertinya kamu terkenal di sekolah.”

Reyhan               : “Iya kah? Wah.. lucu sekali mereka.”

Nabila                 : ……………………………..

Reyhan               : “saya pikir mereka wajar, Noura. Saat kita seumuran mereka, kita juga pasti pernah seperti itu.”

Nabila                 : “Hmm”

Reyhan               : “Hmm ya sudah. Saya akan usahakan untuk membantu kamu. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, boleh saya tutup teleponnya?”

Nabila                 : “Sure”

Reyhan               : “Ok. Maaf ya Noura. Saya harus bersiap untuk kegiatan yang lain. Assalamu’alaikum.”

Nabila                 : “Wa’alaikumsalam.”

Nabila gondok. Entah Reyhan menyadarinya atau tidak, yang pasti Naura masih tak suka mendengar ada siswi sekolah yang kagum pada Reyhan. Namun, ia segera menepis kekesalannya karena ia akan melihat seberapa respect seorang Reyhan pada Nabila.

 

Sehari terlewati… Reyhan belum juga memberi kabar. Nabila masih sabar dan mencoba menguatkan hatinya bahwa Reyhan mungkin sedang sibuk. Hari kedua.. ketiga… Nabila mulai gelisah tentang sikap Reyhan sedang ia harus segera mengumpulkan tugas kuliahnya. Tiba – tiba ia teringat dengan perkataan sahabatnya, Zea, bahwa terkadang bukan karena sibuk hingga seseorang tak membalas pesan kita, tapi karena memang tidak diproritaskan. Nabila terus terngiang dengan kalimat tak diprioritaskan. Apakah benar Reyhan tak menganggap penting permintaanku? Nabila terus menafikan prasangkanya. Ia pun kemudian memikirkan sikap Reyhan selama di sekolah. “Benar. Apakah Reyhan benar – benar tak menganggap penting permintaanku? Selama di sekolah, Reyhan tak pernah seolah mengabariku apakah ia sudah mendapatkan bukunya atau belum.” Ia pun tak semakin sabar dan segera memanggil nomor Reyhan.

Reyhan               : “Assalamu’alaikum, Noura.”

Nabila                 :“Wa’alaikumsalam. Langsung aja. Kamu sudah dapat buku yang aku bilang?”

Reyhan               : “Buku? Buku yang mana?”

Nabila                 : “Kamu lupa dengan permintaanku? Buku Bahasa Inggris? Paket?”

Reyhan               : “Oh iya. Saya ingat Noura. Hanya saja saya belum punya waktu untuk mencari nya. Maafkan saya. Saya rasa saya tak bisa bantu kamu, Noura. Mungkin teman Noura yang lain bisa membantu?”

Nabila                 : “Maksud kamu apa, Rey? Ini udah 3 hari dari aku minta tolong ke kamu. Harusnya kamu tegas apakah kamu bisa bantu atau tidak. Bilang iya jika memang kamu bisa bantu. Dan katakan tidak bisa jika memang kamu nggak bisa. Jangan buat aku nunggu lama kayak gini, Rey!”

Reyhan               : “Iya, Noura. Maafin saya.”

Nabila                 : “Kamu bilang maaf? Sedang tugas aku besok harus dikumpulin, Rey. Kamu pikir aku becanda?”

Reyhan               : “Yawdah. Sekarang kamu selesain marah kamu dulu. Saya salah dan saya mendengarkan disini.”

Nabila                 : “Kamu tega, Reyhan. Kamu jahat banget sama aku. Harusnya kamu bilang sejak awal. Kalau kayak gini aku dapetin bukunya darimana? Kamu tahu ini tugas kuliahku, Rey!”

Reyhan               : “Saya nggak berani bilang tidak ke kamu, Noura. Saya takut kamu marah jika saya bilang tidak.”

Nabila                 : “Dan nyatanya kamu malah buat kacau semuanya. Kupikir kita sudah baikan. Kupikir kamu nggak kayak dulu. Kalau kayak gini, kamu yang ingkar janji sama aku.”

Nabila kemudian menutup teleponnya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia benar – benar tak diprioritaskan sekarang. Ia pun membenarkan perkataan Zea, sahabatnya. Ia marah dan sangat marah.

 

Keesokan harinya, ia harus bertemu dengan Reyhan di SMP tempat ia mengajar bimbel. Awalnya, ia ragu bagaimana ia harus bersikap terhadap Reyhan. Ia masih amat marah dengan sikap Reyhan. Hingga saat ia mengetuk pintu kantor, ia sedikit terkejut kalau Reyhan ada di belakangnya. Ia semakin bingung bagaimana ia harus bersikap.  Akhirnya, Nabila memutuskan untuk bersikap seolah tak melihat siapapun di belakangnya. Bahkan, ketika Reyhan menatap Nabila lama karena merasa bersalah pun Nabila tak menggubris pandangan itu sekalipun Nabila sendiri tahu dengan jelas bahwa Reyhan sedang memandangnya. Marah Nabila berlipat ganda. Bukan hanya tentang Reyhan yang tak menepati janji, tapi juga karena kata “tak diprioritaskan” yang terus terngiang di telinganya. “Biarkan saja Reyhan melihat bagaimana aku marah padanya. Aku ingin tahu bagaimana dia meminta maaf karena kesalahannya ini padaku. Lihat saja!” gerutu Nabila dalam hati.

Tebak, apa yang dilakukan Reyhan kemudian?

Bukan!! Reyhan bukan semakin menjauh. Namun, ia malah semakin membuat Nabila merasa memilikinya. Reyhan semakin membuat rasa Nabila gelisah untuk memutuskan apakah harus berhenti atau malah terus bertindak melakukan semua hal yang pernah dilakukan Reyhan. Reyhan menelepon Nabila hanya untuk meminta maaf dengan dibumbui hal yang berhubungan dengan pekerjaan.

Reyhan               : “Assalamu’alaikum, Noura?”

Nabila                 : “Wa’alaikumsalam.” Ketus.

Reyhan               : “Noura, kamu sibuk?”

Nabila                 : “Aku nggak punya waktu untuk hal yang nggak penting. Cepat katakan mau apa kamu?”

Reyhan               : “Tampaknya kamu masih marah, Noura?”

Nabila                 : “Nggak”

Reyhan               : “Ok. Kalau kamu masih mau marah, saya dengerin.”

Nabila                 : “……………………………..”

Reyhan               : “Noura?”

Nabila                 : “Aku nggak suka dibohongin. Aku akan senang dan merasa dihargai jika kamu jujur kalo emang nggak bisa bantu aku sekalipun awalnya aku kecewa. Tapi bukan sangat marah seperti sekarang. Ini tugas kuliah aku, Rey dan kamu awalnya bilang kamu bisa bantu. Aku nggak pernah diginiin sama yang lain. Dan sepertinya lain kali aku nggak perlu minta tolong kamu sekalipun kamu bisa.”

Reyhan               : “Noura.. saya minta maaf. Saya selalu merasa takut dan khawatir jika saya bilang tidak atas permintaan kamu. Itu saja. Awalnya saya bisa tapi, tiba – tiba dengan kegiatan saya, saya jadi lupa dengan permintaan kamu. Maaf.”

Nabila                 : ……………………………….

Reyhan               : “OK. Saya minta maaf, Noura Nabila?”

Nabila                 : “Iya.”

Reyhan               : “Bener?”

Nabila                 : “Iya”

Reyhan               : “Hmm.. Ok. Lalu sekarang saya mau ngobrol sebentar, boleh?”

Nabila                 : ……………………….

Reyhan               : “Saya sekarang sedang berada di lembaga pendidikan Al-Qur’an. Kebetulan sedang membutuhkan tenaga untuk materi tata bahasa Bahasa Arab. Kamu bisa bantu?”

Nabila                 : “Oh, jadi maksud kamu hubungin aku sekarang juga ada maksud ngomongin ini?”

Reyhan               : “Noura, maksud saya bukan seperti itu. Saya sungguh – sungguh minta maaf tentang buku itu. Selain itu, saya juga ingin menawarkan tentang yang saya bilang.”

Nabila                 : “Kenapa harus aku? Sedang kamu punya banyak teman selain aku?”

Reyhan               : “Saya ingin melakukan yang terbaik. Lembaga ini akan bagus jika diisi oleh orang – orang yang benar – benar di bidangnya. Bukan sembarangan.”

Nabila                 : “Aku nggak tahu. Aku harus berpikir dan membicarakan dengan mama.”

Reyhan               : “Jangan lama – lama”

Nabila                 :  “Aku nggak janji. Tapi, aku bakal segera jawab tentang ini.”

Reyhan               : “Makasih, Noura. Hmm.. maafin saya ya.”

Nabila                 : “Aku udah lupa.”

Reyhan               : “Saya tutup dulu ya. Assalamu’alaikum..”

Nabila                 : “Wa’alaikumsalam.”   

See,, begitu banyak hal yang membuat mereka terus terhubung. Entah memang sengaja dibuat atau bahkan memang secara alamiah terjadi. Terlebih Nabila. Ia terus memikirkan semua yang terjadi pada dirinya. Terpisah, bertemu, terpisah kembali, dan terus seperti itu sekalipun disertai dengan pertengkaran – pertengkaran yang terkadang tampak tak penting diperdebatkan. Apalagi tentang tawaran mengajar di tempat Reyhan mengajar. Sempat terpikir ini adalah hal yang dibuat – buat. Tapi, tak dapat dipungkiri hal itu adalah tawaran yang sangat menarik. Sudah lama Nabila merindukan materi – materi yang pernah didapat di asrama nya selain masih karena Reyhan yang menawari. Sejujurnya, tanpa mendiskusikan dengan mamanya, Nabila pasti menerima tawaran Reyhan. Hanya saja ia berpikir panjang. Ia tak mau hubungannya terdengar keluarga Reyhan yang kebetulan tinggal di sekitar lembaga Reyhan mengajar. Selain itu, Nabila sudah terikat dengan banyak kegiatan yang lain hingga ia akan kesulitan untuk meluangkan waktu membantu Reyhan. Gelisah… lagi – lagi dilemma, ingin menerima namun banyak hal yang mengharuskan menolak. Begitupun Nabila saat ini, ia serasa berat untuk berkata tidak pada Reyhan.  “Apa yang harus aku katakana pada Reyhan. Aku ingin menerima tawarannya Allah.. tapi aku nggak punya waktu.” Rengek Nabila.

Sehari.. dua hari.. Nabila terus berpikir bagaimana caranya mengatakan bahwa ia tak bisa menerima tawaran Reyhan. Namun, ada hal lain yang kemudian mengusik ketenangan Nabila dan kembali, membuat Nabila marah pada Reyhan. Tanpa persetujuan Nabila, Reyhan telah mengatakan kepada ketua lembaga Al-Qur’an yang ia tempati bahwa Nabila bersedia mengajar disana. Di sisi lain, ketua lembaga yang Nabila tempati sontak tak terima dengan pernyataan ketua lembaga Reyhan. Nabila marah. Ia bahkan belum memutuskan apapun.

Nabila                 : “Rey, bisa kita bicara?”

Reyhan               : “Iya, Noura. Silahkan.”

Nabila                 : “Kamu bilang pada ketua lembaga kamu kalau aku menerima tawaranmu, begitu?”

Reyhan               : “Iya.. ada masalah. Noura?”

Nabila                                 : “Bahkan aku belum menjawab tawaran kamu, Rey.”

Reyhan               : “Saya pikir kamu akan menerima. Saya tahu kamu sangat menyukai bidang itu, kan?”

Nabila                 : “Aku bilang aku butuh waktu, Rey. Aku belum jawab kan? Kamu tahu.. ketua lembaga ku mendengar berita ini dan ia marah sekarang. Aku bingung sekarang.”

Reyhan               : “Marah? Ini hak kamu kan untuk menerima atau menolak?”

Nabila                 : “Iya… tapi dia juga berhak berpendapat karena aku juga mengajar disana. Sekarang bagaimana?”

Reyhan               : “Apa perlu saya buat satu pertemuan? Agar semuanya jelas?”

Nabila                 : “Solusi itu semakin tampak membesar – besarkan masalah. Tampak aku yang manja disini.”

Reyhan               : “Maafkan saya Nabila.. saya terlalu senang kalau kamu akan mengajar di tempat saya juga.”

Nabila                 : “Aku tahu. Hanya saja aku butuh waktu. Dan sepertinya aku nggak bisa terima tawaran kamu saat ini. Aku nggak punya banyak waktu luang.”

Reyhan               : “nggak punya banyak waktu luang?”

Nabila                 : “Ada privat di malam hari sampai jam 9 malam. Sore aku ada di lembaga juga.”

Reyhan               : “Semalam itu?”

Nabila                 : “Iya. Maaf. Setelah ini biar aku saja yang bicara pada ketua lembaga kamu. Kamu nggak perlu bertindak apa – apa. Setelah ini aku yakin akan baik – baik saja. Oke? So.. please, jangan ada marah atau sikap apapun pada ketua lembaga kamu. Oke, Rey?”

Nabila tampak khawatir dengan sikap Reyhan yang tampaknya juga emosi terhadap sikap ketua lembaga nya yang ingkar janji untuk tidak membicarakan ini dengan orang lain.

Reyhan               : “Hmm.. Baiklah. Jika nanti ada hal yang mengganggu kamu lagi, kamu bilang saya. Saya akan mengurusnya.”

Nabila                 : “Makasih, Rey. Jangan terlalu memperbesar masalah ini. Aku bisa nanganin ini. Kamu tenang aja. So, sorry?”  

Reyhan               : “Hmm”

Nabila                 : “Ok. Aku tutup dulu. Bye. Assalamu’alaikum”

Reyhan               : “Hm”

 

“Ya Allah.. bagaimana ini? Apakah Reyhan juga tersinggung dengan keputusanku? Tapi mau gimana lagi…” gumam Nabila dalam hati.

 

1 minggu kemudian, masalah lembaga Reyhan selesai sekalipun masih tersimpan kekecewaan yang tampak di raut muka ketua lembaganya. Reyhan pun sudah kembali seperti semula. Tanpa kecewa dan sedikit senyum. Ya… itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Sebaliknya. Sekarang, Nabila lah yang bermasalah. Ia semakin terguncang dengan perubahan – perubahan sikap Reyhan yang amat kontras dengan yang dulu.

Dulu, Reyhan yang acuh dan hanya sesekali mengabari Nabila sekarang berubah amat sangat berubah. Sejak mereka harus sering bertemu sekalipun 1x dalam seminggu, Reyhan yang mulai menyukai guyonan sekalipun garing. Ia pun sering mengedarkan pandangan pada Nabila entah karena ketidaksengajaan atau malah memang benar – benar memastikan keberadaan Nabila. Ia pun sesekali membangunkan Nabila di tengah malam dan mengajaknya sholat malam. Terlebih, ia pernah memutuskan untuk bergabung di lembaga privat Nabila. Bayangkan saja. Reyhan mengajar di lembaga belajar privat sedang Nabila yakin bahwa Reyhan tak ada minat di bidang itu. Yang tak kalah mengejutkan adalah sikap keterbukaan Reyhan tentang kehidupannya pada Nabila. Ia dengan senang hati menceritakan semuanya pada Nabila mulai dari kegiatan sehari – hari nya, orangtuanya, adik- adiknya, pekerjaan yang ia lakoni saat ini, apapun. Ia pun dengan senang hati mengikuti saran – saran yang diberikan Nabila sebagai bentuk simpati dan kekhawatirannya. Lalu, dengan semua sikap ini, apakah salah rasa yang dimiliki semakin besar pada Reyhan?

 

Hari ke hari Nabila semakin resah untuk memutuskan sikap.Ia pun sadar ia tak mungkin akan terus tinggal dengan status yang tak jelas. Jika memang mereka berhubungan lebih dari teman pun harus jelas sejelas- jelasnya. Satu hari, Nabila teringat dengan pesan sesepuhnya di asrama dulu. Beliau berkata:

 “Manusia di bumi ini hanya ada 2 macam yakni manusia aktif dan pasif. Ini tak membedakan apakah mereka laki – laki ataupun perempuan. Manusia aktif adalah manusia yang berani untuk mendahului sedang manusia pasif adalah yang selalu menunggu. Lalu, jika kamu adalah manusia aktif, sekalipun kamu wanita, utarakan isi hatimu dan ungkapkan apa yang kau inginkan. Tentang diterima atau sebaliknya, itulah konsekwensi. Sekarang pertanyaannya, kamu adalah manusia aktif ataukah pasif?”

 

Nasehat itu sebenarnya tampak bertentangan dengan prinsip Nabila. Namun, saat ini Nabila hanya berpikir tentang hatinya. Jika hatinya saja tak tenang, bagaimana ia bisa melewati hari – harinya sesuai dengan keinginannya? Ia pun harus mencari jawaban atas pertemuan – pertemuan yang dibuat Allah untuknya dan Reyhan. Semua takkan benar – benar usai jika tak ada yang mengakhiri. Kemudian, dengan tarikan nafas sedalam mungkin, dengan keberanian penuh yang dipaksakan… “Saat perjalanan KKN ke Bojonegoro nanti, aku harus mengakhiri semuanya jika memang terpaksa harus berakhir. Dan akan dimulai jika ternyata jawaban Reyhan sesuai dengan yang kurasa saat ini.” Janji Nabila dalam hati.

Seminggu kemudian, Nabila beserta rombongan KKN nya sedang berada di perjalanan menuju lokasi KKN nya. Hatinya berdebar tak menentu. Keringat dingin terasa sekujur tubuh. Pandanganpun menjadi sedikit kabur terhalang kumpulan air mata yang sengaja ditahan. Ia pun meyakinkan hatinya bahwa ia pasti bisa sekalipun ini adalah hal yang memalukan sebagai Noura Nabila. Sedetik kemudian, Nabila mengeluarkan ponsel dan mengetikkan nama Reyhan disana. Setelah menemukan kontak yang dicari, kemudian Nabila mengetikkan pesan yang selama ini tertahan.

                Iya. Maaf. Setelah ini biar aku saja yang bicara pada ketua lembaga kamu. Kamu nggak perlu bertindak apa – apa. Setelah ini aku yakin akan baik – baik saja. Oke? So.. please, jangan ada marah atau sikap apapun pada ketua lembaga kamu.

               

“Assalamu’alaikum, Rey? Apakabar?...

Sejak kamu resign dari bimbel SMP, kita lama tak berjumpa. Langsung aja. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Sekarang giliran aku yang bicara. Kamu pasti bertanya – tanya kenapa aku selalu saja datang ke kamu sekalipun aku marah sama kamu.  Aku protes dengan sikap – sikap kamu yang salah dan selalu ingin buat nama kamu baik. Aku selalu care sama kamu. Kamu pasti bertanya – tanya kenapa aku selalu aja datang lagi ke kamu setelah kamu ngecewain aku. Dan aku pun yakin kamu tahu jawabannya tapi, biar aku perjelas disini. Selama ini aku masih merasa berhutang sama kamu atas pertanyaan kamu waktu itu yang belum sempat aku jawab. Saat itu, kamu tanya ke aku.. would you be my girl? Dan sekarang, aku akan jawab pertanyaan kamu itu. Ya.. I will. Ya.. aku suka kamu. Itulah mengapa aku selalu ganggu kamu dengan ketidak jelasan aku. Dan jawaban ini terlepas dari kamu yang memang sengaja atau pura – pura mainin aku but this is real. I love you. Selesai. Aku sudah bilang semuanya ke kamu. Terserah apa yang mau kamu bilang tentang aku. Kuharap setelah ini nggak akan ada lagi yang usil gangguin kamu. Bye.

 

By: Noura Nabila  

 

Tuntas. Nabila lega telah mengirim pesan panjangnya pada Nabila. Apakah Nabila bahagia kemudian? Kalian tahu apa jawabannya?

TIDAK.. Nabila tidak merasa bahagia atas kegilaannya mengirim pesan panjang tak masuk  akalnya pada Reyhan. Mengapa? Karena 1 jam setelah pesan panjang itu terkirim.. 5 jam.. 24 jam.. dua hari.. bahkan hingga 7 hari kemudian.. tak pernah ada balasan dari Reyhan. Iya.. Reyhan bergeming dan hanya membacanya saja. Sedang Nabila terus dirundung gelisah dan tangis tak henti selama 7 hari sambil berharap jawaban yang sama dari Reyhan. Nabila pun lupa dengan tugasnya sebagai mahasiswi KKN. Selalu menangis hingga teman – temannya berusaha terus menghibur Nabila agar ia terlupa dengan hal bodoh yang ia lakukan selama diperjalanan menuju Bojonegoro 1 minggu yang lalu.

 

2 minggu kemudian, Nabila membaik. Ia sudah melepaskan tangisannya. Dan yang tertinggal adalah menerima. Menerima bahwa waktu mampu menghapus ikatan seseorang. Bahwa waktu terkadang baik namun terkadang juga bisa amat meyakiti… dan bahwa waktu… terkadang memberikan fakta teramat sadis dengan beribu pelajaran.

 

SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

  • view 101