Kisah Klasik Bag. 4

Sabeena Naya
Karya Sabeena Naya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Januari 2017
Kisah Klasik Bag. 4

1 tahun berlalu, kemudian 2 tahun.. tak pernah lagi Reyhan mengganggu Nabila lagi. “Mungkin ia sedang fokus dengan sekolahnya. Hmm.. apa kabar dia?” batin Nabila suatu hari. Namun pikiran itu tak berlangsung lama. Ia segera mengedip – kedipkan matanya. Ia meyakinkan dirinya bahwa pendidikan adalah hal utama di hidupnya. Ia tak perlu lagi memikirkan orang yang malah tak memberi keuntungan dalam hidupnya.

 

Namun, tiba – tiba Shanti, mama Nabila menelpon putrinya yang sedang mengikuti kegiatan tambahan di asrama khusus siswa yang akan menghadapi UN.

Kak Nila          : “Nabila, mama menelpon.”

Nabila                         : “Ah iya kak. Makasih!”

                          “Hallo ma. Assalamu’alaikum…”

Mama              : “Hallo nak. Apa kabar kamu disana?”

Nabila             : “Baik ma.. sebenernya pengen pulang juga. Di asrama sepi banget ma.. hanya tersisa kami seangkatan. Sekalipun kita sebentar lagi menghadapi UN tapi nggak mau juga sepi begini ma.”

Mama              : “Udahlah nggak usah ngeluh dulu. Toh itu juga buat kebaikan kamu ntar. Toh habis ini sudah ndak di asrama lagi kan? Habis ni anak mama kuliah. Iya kan?”

Nabila             : “Iya ma.. oh iya, mama ada apa telepon? Baru aja kemaren habis telepon.”

Mama              : “Ye… emang mama nggak boleh telepon anak mama?”

Nabila             : “Boleh dong ma… ya kali aja ma…”

Mama              : “Hmm.. begini. Tapi sebelumnya Nabila janji dulu setelah mendengar yang mama bilang, Nabila harus tetap fokus dengan tugas disana.”

Nabila             : “OK ma….”

Mama              : “Hmm.. begini. Semalam, ada Reyhan datang kerumah.”

Nabila             : “Reyhan?? Maksud mama? Reyhan temen SD dulu? Ngapain dia ke rumah?”

Mama              : “Dengerin mama dulu Nabila. Jangan marah – marah dulu.”

Nabila             : “Iya ma..”

Mama              : “Mama awalnya juga terkejut kalo Reyhan yang datang. Mama langsung nyuruh dia duduk sebelum papa naik darah. Dia tanya kamu dimana. Mama jawab kamu masih di asrama ada tambahan untuk UN besok. Lalu, dia tanya kapan kamu pulang. Mama jawab 1 minggu lagi dan dia kemudian minta nomor hape kamu, sayang.”

Nabila             : “Lalu mama kasih? Papa gimana?”

Mama              : “Papa diem aja. Ya mama kasih lah.. dia minta.”

Nabila             : “Lo? Mama kug kasih si? Kan mama tahu sendiri sikap dia ke aku kayak gimana? Lagian dia ngapain juga pakek datang ke rumah? Pakek minta nomor hape juga!”

Mama              : “Berteman lagi apa salahnya, sayang? Mencoba lebih dewasa lagi. Jangan pakek bertengkar nggak jelas seperti dulu. Lagian nenek suka sama dia. Nenek bilang kalau dia tampan dan bagus perangainya.”

Nabila             : “Biarin nenek mau bilang apa. Nabila yang tahu gimana Reyhan ke Nabila.”

Mama              : “Iya Iya. Ya udah kalau memang berita yang mama kasih nggak baik nggak usah dipikirin. Jangan sampek setelah ini kamu minta dijemput karena pengen ngobrol sama dia loh ya…”

Nabila             : “Ya nggak lah ma.. nggak penting banget si maa”

Mama              : “Yawdah mama cuman mau cerita itu aja. Baik – baik disana ya sayang. Bye. Assalamu’alaikum…”

Nabila             : “Wa’alaikumsalam ma.. salam buat papa juga”

 

Setelah menutup telepon dari mama, Nabila masih tak menyangka kalau Reyhan akan seberani ini. Bahkan mengobrol dengan mama dan papanya. “Apa- apaan ini? Tapi aku nggak akan terpengaruh dengan sikap dia. Nggak akan!” meski pada kenyataannya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hatinya berdebar tak karuan.    

 

1 hari, 2 hari, tanpa tersadar ia selalu memikirkan perkataan mamanya. Dia masih tak mengerti dengan sikap Reyhan yang tiba – tba dengan beraninya datang ke rumah nya hanya sekedar membicarakannya dan meminta nomor ponselnya. “Ada apa ini?” lama dia terdiam akhirnya satu keputusan ia buat. Ia mengajak Milly, temannya untuk pergi ke “warung telepon.” Setelah memasuki bilik, ia pun dengan cepat memencet nomor telepon mamanya.

Mama Shinta              : “Hallo, Assalamu’alaikum.”

Nabila                         : “Wa’alaikumsalam. Hallo ma.. ini Nabila.”

Mama Shinta              : “Ah ya sayang.. ada apa? Nggak biasanya kamu telepon siang – siang begini?” tanya mama sedikit khawatir.

Nabila                         : “Hmm.. ma. Maaf. Nabila kepikiran Reyhan. Aku boleh pulang besok?”

Mama Shinta              : “Lalu? Tambahan kamu bagaimana? Mama nggak yakin semua materi tambahannya selesai besok, sayang.”

Nabila                         : “Ayolah ma… aku janji akan belajar sendiri dengan giat. Sama aja kan aku disini tapi pikiranku di rumah?”

Mama Shinta              : “Coba pikirkan sekali lagi. Mama nggak mau kamu menyesal dengan keputusan kamu.  Ini materi tambahan untuk UN loh ya…”

Nabila                         : “Iya ma… Nabila yakin. Nabila udah memikirkan ini masak – masak. Besok pagi mama jemput Bila ya.. Bila tunggu di asrama.”

Mama Shinta              : “OK. Mama yakin kamu nggak akan memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang. Besok pagi mama jemput kamu. Sampai jumpa besok pagi, sayang. Maafin mama buat pikiran kamu nggak tenang.”

Nabila                         : “Nggak papa ma. Ini Bila juga udah nggak betah dengan suasana di sini. Sampai ketemu besok pagi ya ma. Assalamu’alaikum.”

Mama Shinta              : “Wa’alaikumsalam.”

Sekalipun telepon sudah terputus, tapi mama Shinta masih tak percaya dengan keputusan Nabila untuk mempercepat kepulangannya. “Baiklah. Mungkin kali ini aku harus percaya sepenuhnya untuk Nabila. Dia sudah dewasa. Dia pasti punya berbagai pertimbangan untuk sebuah keputusan.” Batin mama Shinta.

 

Dan benar, keesokan harinya, Nabila dijemput oleh mama nya. Sempat teman – temannya terkejut melihat Nabila yang memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Tapi, akan selalu banyak alasan untuk sebuah keputusan.

 

Sesampainya di kamar, Nabila terus berpikir keras tentang sikap Reyhan. Ia pun memandangi nomor Reyhan di screen ponselnya. “Apa aku harus menghubunginya sekarang? Itu sama artinya kalau aku memberi tahunya bahwa aku sudah ada di rumah. Tapi, mama udah bilang kalau aku akan sampai rumah 3 hari lagi. Tapi mengapa aku harus segera menghubunginya saat aku udah di rumah sekarang? Toh dia tak sepenting itu buat aku. Ah biarlah.. kalaupun dia memang ingin membicarakan hal yang penting denganku.. dia akan          menghubungiku sesuai tanggal yang sudah mama informasikan ke dia.” Nabila tampak gelisah hingga 5 menit kemudian ia tertidur sambil menggenggam ponselnya.

 

Hari sudah sore dan Nabila masih tertidur di kamarnya. Karena hari ini ada takbir keliling di daerah rumahnya, mama nya pun mencoba membangunkannya.

Mama Shinta              : “Sayang, bangun. Sudah sore. Kamu belum mandi dan sholat kan?”

Nabila                         : “Iya ma.. Nabila bangun kok.”

Mama Shinta              : “Yuk lekas bangun. Habis maghrib nanti ada takbir keliling di depan rumah. Kamu nggak ingin lihat? Lumayan buat hiburan kan?”

Nabila                         : “Iya ma… aku mandi dulu ya.”

 

Usai mandi dan sholat, Nabila dan keluarga berkumpul di teras untuk melihat takbir keliling di depan rumahnya. Kegiatan ini memang tiap tahun diadakan guna menunjukkan kerukunan antar lembaga pendidikan Al-Qur’an dan masyarakat. Dan Nabila pun sangat menikmati acara tersebut tiap tahunnya. Tak berbeda juga dengan yang terjadi saat ini. Bahkan, entah mengapa jantungnya terasa berdebar. Entah karena dia belum makan malam atau karena sedang tak enak badan. Tapi, tiba – tiba matanya menangkap postur tubuh seseorang yang tak asing baginya. “Bukannya dia…………………” belum selesai kalimatnya ia gumamkan, seketika terdengar bunyi klakson motor mengarah padanya. “Bil.. udah pulang? Nice to see you.” Nabila menganga tak percaya dengan siapa yang menyapanya barusan. Selain itu, ia semakin tak percaya bahwa dia juga mengucap salam pada mama nya. “Assalamu’alaikum, tante”, tegurnya pada mama Shinta. Nabila masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia pun menoleh kepada mamanya dan berbisik,

Nabila                         : “Ma.. dia? Reyhan?”

Mama Shinta  : “Iya.. dia memang Reyhan. Kenapa Bila? Dia nggak sejahat yang kamu bilang ya?”

Nabila             : “Mama… apaan sih? Lagian mama baru ketemu dia sekali ini kan? Beda sama Nabila yang dari jaman apa juga ketemu dia.”

Mama Shinta  : “Iya… mama emang belum tahu tentang dia. Lalu, jika Nabila menceritakan semuanya hingga mama tahu dia.. mama tak keberatan untuk mendengarnya.”

Nabila             : “Apaan sih ma….. udah ah nggak penting deh.”

Bahkan hatinya pun berkata sebaliknya. Hatinya cukup berdebar saat Reyhan menyapanya dan mama Shinta. Ia cukup terkejut dengan sikap nya. “Ada apa ini??” Nabila masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.           

 

Esok adalah awal bulan Rajab. Nabila dan keluarga terbiasa berpuasa di bulan itu. Melatih agar terbiasa saat berpuasa di bulan Ramadhan katanya. Sekaligus berdoa semoga UN nya nanti diberi kelancaran.

Saat sahur, Nabila dengan enggan bangun, membuka matanya pun malas. Sedang di pintu kamar Nabila, mama Shinta sudah mengetuk yang kesekian kali untuk membangunkan Nabila. “Pukul berapa ini? Ah mama…” gumam Nabila. Tapi, bagaimana pun juga ia harus bangun untuk sahur karena sahur adalah suatu kesunnahan untuk berpuasa. Saat hendak keluar dari kamar, Nabila melihat ponselnya berkedip. “Sepertinya ada sms masuk.”  Batin Nabila. Ia pun kemudian mencoba memeriksa ponselnya. Ada hal aneh. Nomor baru dan hanya mengirimkan salam. Keningnya berkerut. “Siapa ini?” balas Nabila. Ia pun kemudian bergegas keluar menyapa mama papa nya. 5 menit kemudian terdengar ponselnya berbunyi. Tanda sms masuk. Ia pun membuka nya.

Pengirim         : “Nabila..”

Nabila                         : “Iya. Ini siapa?” keningnya semakin berkerut bingung

Pengirim         : “R”

Nabila             : “???”

Pengirim         : “E”

Nabila                         : masih terus menunggu apa yang akan dikirim oleh pengirim sms itu

Pengirim         : “Y”

Nabila                         : “Apa maksud nya ini?” Ketus Nabila tak suka

Pengirim         : “Coba susun huruf – huruf tadi!”

Nabila             : “R – E – Y??? Ha? Rey kah ni? Benarkah ni dia?” pekik Nabila dalam hati tak percaya

Pengirim         : “Sudah tahu siapa aku? Sepertinya kamu tahu??” pengirim mencoba menebak keterkejutan Nabila.

Nabila             : “Rey? Reyhan?”

Pengirim         : “Iya.. ini aku Bila, Reyhan.”

Nabila             : “Ah benar. Ini kamu Reyhan. Ada apa? Malam – malam begini?” tanya nya mencoba menutupi kegugupannya

Pengirim         : “Kamu sudah sahur atau belum?”

Nabila             : “Hmm.. aku baru saja bangun. Aku baru saja mau keluar untuk sahur. Kamu sudah sahur?”

Pengirim         : “Hem.. sudah. Kalau begitu, kamu sahur dulu. Aku tunggu. Nanti kalau kamu sudah selesai, hubungi aku. Aku mau bicara sesuatu.”

Nabila             : “Sesuatu? penting kah?”

Pengirim         : “Hmm.. menurutku penting. Jadi, sekarang kamu lanjutkan sahurnya. Aku tunggu kamu.”

Nabila             : “Tapi Rey.. aku harus menunggu papa dan mama dulu. Tak apa kah kamu menunggu lama? Aku tak enak membuat orang lain menungguku lama. Atau nanti siang saja kita lanjutkan?”

Pengirim         : “Nggak!!. Aku bilang aku akan tunggu kamu. Jadi sekarang lanjutkan sahur mu dulu. Ok?”

Nabila             : “Baiklah. Sampai nanti.”

 

Saat makan sahur, Nabila terus menerus berpikir tentang perkataan Reyhan. “Ada apa lagi ini? Mau apa lagi dia kali ini? Oh tidak… ini bukan gugup karena sms nya tadi. Aku baik – baik saja sekalipun tanpa dia.” Gerutu Nabila masih tak percaya tentang jantungnya yang semakin berdebar tak karuan. Dia pun semakin penasaran dengan apa yang akan dilakukan Reyhan hingga dia mempercepat makan sahur nya dan segera pamit ke kamar terlebih dahulu pada papa dan mama nya. Ia tak tahu bahwa mama nya menaruh curiga padanya.

 

Nabila kemudian membuka ponsel. Ia tampak terkejut karena mendapat banyak sms dan missed call dari Reyhan. Ia pun segera mengirim sms pada Reyhan bahwa ia selesai sahur.

“Rey, aku sudah selesai”

 

Tak lama, Nabila pun mendapat balasan..

 

“Aku telepon saja.”

 

Ponsel berdering… 1x… 2x…. kemudian Nabila pun mengangkat telepon itu.

Nabila                         : “Hallo”

Reyhan           : “Sudah selesai sahurnya?”

Nabila             : “Hmm.. kamu beneran sudah sahur?”

Reyhan           : “Alhamdulillah sudah Nabila.”

Nabila             : “Syukurlah. Kupikir kamu bohong.”

Reyhan           : “Terimakasih.”

Nabila             : “Mengapa terimakasih?”

Reyhan           : “Sudah memastikan aku sahur atau belum.”

Nabila             : “Lalu? Kamu mau ngomong apa Rey?”

Reyhan           : “Gini… saat ini kamu cukup dengerin aku. Jangan bicara apa – apa dulu. Setelah aku panggil namamu, kamu baru boleh ngomong. Oke?”

Nabila             : “Oke..”

Reyhan           : “Hmm.. aku minta maaf tentang sikap kekanak- kanakanku. Sejak kita SD bahkan sampai sebelum ini. Aku udah sering buat kamu marah, berkali – kali malah. Kadang datang dengan baik – baik tapi kemudian aku ketus. Aneh memang. Tapi, kupikir kamu ngerti maksud aku selama ini. Awalnya kita memang saingan. Kita memang benar – benar saingan dan aku tak suka kalau kamu lebih daripada aku. Tapi, semakin aku sadar sampai sekarang… aku rasa, perasaan saingan itu berkembang entah kemana.. sampai kita SMA ini, hanya orang bodoh yang terus menganggap hubungan kita karena saingan. Jadi, malam ini, shubuh, aku mau tanya sama kamu… will you be my girl?”

Nabila             : senyap… tak ada suara.. hening.. ia pun masih tampak terkejut. Apalagi setelah apa yang didengar dari Reyhan.

Reyhan           : “Bila, kamu denger aku kan? Sekarang… apa jawaban kamu?

Nabila             : “Aku masih nggak ngerti dengan yang terjadi sekarang. Aku masih nggak ngerti dengan yang kamu bilang barusan.”

Reyhan           : “Apa yang kamu nggak ngerti? Di bagian mana?”

Nabila             : “Semuanya Rey…”

Reyhan           : terdengar ia sedang mengambil napas besar

                          “Semua? Listen to me… I have just said I LOVE YOU. Dan jawabanmu?”

Nabila             : …………………………………..

Reyhan           : “Bila.. maafin aku. Semuanya memang tampak aneh. Tapi aku sudah minta maaf kan?”

Nabila             : “Begini Rey.. aku sudah maafin kamu sejak lama. Jadi kita tak perlu membahas tentang semua kekacauan yang kita buat. Tapi,….”

Reyhan           : “Tapi apa? Atau kamu memang terlalu benci aku sampek kamu nggak mau menjawab pertanyaanku?”

Nabila             : “Rey.. bukan begitu maksudku. Ini terlalu aneh menurutku. Sikap kamu yang sering berubah – ubah buat aku jadi semakin bingung dengan apa yang kamu bicarakan tadi. Aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaanmu tadi.”

Reyhan           : “Apa ini artinya kamu menolak? Atau sebaliknya?”

Nabila             : “Bukan. Aku hanya butuh waktu untuk menjawab. Bolehkan?”

Reyhan           : “Kamu nggak percaya aku?” suaranya tampak sedikit berbisik.

Nabila             : “Hmmm aku minta waktu 3 hari, Rey. Aku takut sikapmu akan berubah lagi. 3 hari lagi bertepatan dengan hari aku akan kembali ke asrama. Sebelum berangkat, aku akan jawab pertanyaanmu.”

Reyhan           : …………………………..

Nabila             : “Rey… kamu baik – baik saja kan?”

Reyhan           : “Hm. Tadinya aku ingin mendengar jawabanmu sekarang. Aku sekarang sedang berbicara di bawah bantal. Mama ku pun sebenarnya tak mengijinkan aku melakukan hal semacam ini. Kurasa kamu tahu itu.”

Nabila             : “Maafin aku. Terimakasih kamu mau melakukan ini buat aku. Hanya 3 hari lagi. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaan kamu.”

Reyhan           : “Bila.. sekalipun sampai aku meninggalkan kewajibanku untuk adzan di masjid buat nunggu jawaban kamu, nggak bisakah menjawab sekarang?”

Nabila             : “Adzan? Harusnya dia yang sekarang adzan di masjid tapi dia malah meninggalkan kewajibannya hanya buat ini? Iya kah?” Gumam Nabila gelisah.

Reyhan           : “Bila…?”

Nabila             : “Please, Rey… ini terlalu tiba – tiba.”

Reyhan           : “OK. 3 hari lagi. Thanks. Assalamu’alaikum.”

Nabila             : “Wa’alaikumsalam. Rey..”

 

Telepon terputus. Nabila menangis. Ia tak pernah menyangka dengan kejadian shubuh itu. Reyhan yang kaku dan sombong tiba – tiba menyatakan perasaanya. Bagaimana mungkin semudah itu Nabila percaya. Tapi, mendengar nada kecewa dari seberang hatinya pun tak enak. Hatinya semakin terasa sakit entah mengapa. Ia serasa sudah menyakiti seseorang dengan teramat sakit.

 

Tanpa sepengetahuan Nabila, mama Shinta memperhatikannya.  Ia merasa putrinya sudah semakin dewasa sekarang. Ia yakin bahwa putrinya sedang mengalami masalah tentang perasaannya.

 

1 hari, 2 hari….

Bayangan tentang Reyhan sejak SD hingga shubuh itu bergantian bermunculan. Ia tak bisa konsentrasi dengan belajarnya. Tapi, ia harus kembali pada primsipnya. Ia harus meyisihkan tentang perasaannya. Ia harus fokus terhadap pendidikannya. Ia yakin Reyhan pasti bisa memahaminya. Namun, masih saja,  lagi – lagi, sesekali Reyhan mengusik konsentrasinya. “Ya Allaah.. rasa apa ini?” Nabila pun kembali menangis.

 

Hari ke-3..

Ya hari ini adalah hari dimana Nabila harus menjawab pertanyaan Reyhan. Sebentar lagi UN. Ia ingin tak memiliki beban apapun saat ia harus fokus dengan pendidikannya. Ia hanya inginmenyingkirkan hal – hal yang bisa saja mengganggu konsentrasi nya selama UN. Dan sekarang ia akan menjawab pertanyaan tentang hatinya. Namun, ia bingung harus bagaimana. Apa dia yang harus menghubungi Reyhan, atau Reyhan sendiri yang akan menghubunginya. Di lain sisi, hatinya sudah tak sabar untuk segera mendengar suara Reyhan. Dan keputusan sudah bulat, saat ini ia lah yang harus menghubungi Reyhan. Nabila pun kemudian mengetik sms untuk Reyhan.

“Rey,,, ini hari ke-3. Aku ingin bicara.”

 

Namun, tak ada jawaban. Nabila semakin gugup. Apakah Reyhan terlanjur kecewa dengannya? Ia pun gelisah dan jantungnya berdegup tak karuan. Tiba – tiba, ponsel Nabila berkedip tanda panggilan masuk. Dilihatnya siapa yang menelepon Nabila dan ternyata Reyhan. Ia gugup dan teramat gugup. Ia bingung harus berbuat apa. Kemudian ia pun mengirim sms “Rey, sms saja. Bisa kan?” . 1 menit, 2 menit, tak ada balasan. Dan 5 menit kemudian… mata Nabila berair. Ia tak percaya dengan apa yang dikirim Reyhan barusan. Kalimat itu adalah kalimat paling kotor yang pernah dia dengar dan sekarang malah Reyhan yang mengatakannya. Kemudian Nabila pun membalas “Maksud kamu apa, Rey? Aku salah? Salah yang mana?”  Nabila menangis. Ia menangis terisak menahan agar tidak ada yang mendengar. Dan lagi, ponsel Nabila berkedip. Ia pun segera mengangkat telepon dari Reyhan.

Reyhan           : “A****g kamu!!”

Nabila             : “Reyhan… apa yang barusan kamu bilang? Kamu sadar kamu barusan ngomong apa?”

Reyhan           : “ya… kamu a****g!!”

Nabila             : “Rey!!! Kamu sadar apa yang kamu bilang ke aku? Kamu lupa sama apa yang sudah kamu dapat dari asrama kita dulu?”

Reyhan           : “Kamu tak perlu menghubung - hubungkan masalah ini dengan asrama. Ini nggak ada sangkut pautnya.” Bentak Reyhan pada Nabila hingga Nabila terisak 

Nabila             : “Kamu nyakitin aku Rey!!” bentak Nabila

Reyhan           : “Lalu kenapa? Kamu juga selalu nyakitin aku!!”

Nabila             : ………………………………………

Reyhan           : “Kenapa diam. Kamu ngaku kamu salah? Setelah ini jangan pernah hubungin aku lagi.”

Nabila             : “Salah yang mana, Rey? Aku nggak ngerti. Jelasin dulu ke aku.”

Reyhan           : “Nggak ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah jelas – jelas nyakitin aku.”

Nabila             : “REY!! Dengerin aku!! Kamu sadar apa yang kamu bilang barusan? Ini hari ke-3. Baru saja aku mau jawab pertanyaan kamu waktu itu. Kamu lupa? Kupikir, bukan aku saja yang nunggu - nunggu saat ini, tapi ternyata aku salah. Kamu masih nggak berubah. Dan aku nyesel udah nyiapin jawaban atas pertanyaan kamu.”

Reyhan           : …………………………………………

Nabila             : “Kamu diem? Ok.. sekarang giliran aku yang ngomong. Aku nggak pernah dikatain seperti apa yang kamu bilang ke aku. Aku nggak pernah denger kata itu. Aku kecewa karena malah kamu yang ngenalin kata itu. Terimakasih buat semuanya. Dan aku setuju, kita nggak usah berhubungan lagi.” Suara Nabila terbata – bata. Entah Reyhan memahami suara itu atau tidak. Yang pasti setelah telepon diputus, Nabila menangis sejadi – jadinya. Ia tak pernah menangis sesakit ini karena lelaki.

 

Mama Shinta menangkap ada yang berbeda dari Nabila. Nabila cenderung diam dan menyendiri selama perjalanan menunju asrama. Matanya  sembab. “Nabila, kamu baik – baik aja kan? Kamu lagi mikirin sesuatu?” tanya mama Shinta hati – hati. “Ah ndak ma.. Nabila cuman negbayangin gimana UN nanti. Deg – deg an ma…” Nabila berusaha meyakinkan mama nya bahwa ia bisa mengatasi masalahnya saat itu. Meskipun pada kenyataannya perasaan mama Shinta lebih peka dari siapapun. “Jangan khawatir. Nabila pasti bisa. Nabila sudah melakukan banyak persiapan. Nabila tak perlu target tinggi tentang perolehan nilai. Nilai itu semu. Yang penting Nabila paham betul apa yang diajarkan di SMA. Singkirkan dulu hal lain di luar UN. Sekarang tetap fokus dengan UN dan belajar. OK? Mama yakin kamu bisa.”  Mendengar semua nasehat mama, Nabila merasa semakin bersalah karena telah berbohong tentang perasaannya.

 

“Mama benar… saat ini hanya UN dan UN. Setelah selesai UN, aku akan urus tentang Reyhan.” Batin Nabila kemudian

 

*****

UN usai. Purna sudah tugasnya sebagai siswa SMA. Setelah ini yang harus dipikirkan Nabila adalah dimana ia akan melanjutkan pendidikannya. Tetap di Yogyakarta atau harus kembali bersama mama papa nya di Surabaya. Namun, saat ini, ia pun juga harus pintar – pintar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan teman – temannya. Tak ada yang tahu mereka akan bertemu lagi atau tidak setelah Nabila meninggalkan asramanya.

 

Tak lama kemudian, kak Nila memanggil Nabila ke kantor karena mama Shinta menelpon.

Nabila                         : “Terimakasih, kak.”

Kak Nila          : “Sama – sama, Bil. Aku tinggal dulu ya.”

Semenit kemudian telepon kembali berdering dan Nabila mengangkat gagang telepon dengan sumringah.

Nabila             : “Assalamu’alaikum.”

Mama Shinta  : “Wa’alaikumsalam, anak mama.”

Nabila             : “Hai ma… baru saja Nabila pulang dari sekolah ma. Pas banget.”

Mama Shinta  : “Alhamdulillah.. bagaimana ujiannya sayang?”

Nabila             : “Alhamdulillah ma.. selesai UN nya. Ini juga berkat mama. Nabila seneng ma..”

Mama Shinta  : “Alhamdulillah. Selamat ya sayang. Setelah ini anak mama mau jadi mahasiswa.”

Nabila             : “Terimakasih mama..”

Mama Shinta  : “Nabila.. mama boleh ngomong sesuatu?”

Nabila             : “Iya ma..”

Mama Shinta  : “Ini tentang Reyhan.”

Nabila             : ………………………………

Mama Shinta  : “Sayang, kamu nggak papa?”

Nabila             : “A… iya ma.. aku nggak apa – apa. Kenapa dengan Reyhan ma?” jawab Nabila mencoba menyembunyikan keterkejutannya pada mamanya sekali lagi.

Mama Shinta  : “Sudah 3 hari ini dia sms ke ponsel kamu. Mama pikir, setiap selesai ujian. Dia terus nanyain gimana kabar kamu. Dia pikir kamu bawa ponsel ke asrama karena dia selalu sebut nama kamu di awal sms. Hmm.. Nabila tidak beritahu dia kalau Nabila sudah ada di asrama?”

Nabila             : “Su.. sudah ma.. aku sudah bilang sama dia kalau Nabila sudah kembali ke asrama waktu itu. Nabila juga terkejut kenapa dia malah sering sms Nabila di saat Nabila udah balik ke asrama.” Jelas Nabila pada mamanya

Mama Shinta  : “Kalian ada sesuatu yang belum kalian selesaikan? Mungkin?” tebak mama hati – hati

Nabila             : “Maksud mama?”

Mama Shinta  : “Tidak ada. Mama hanya menebak. Ya sudah kalau begitu. Mama mau kasih tahu kamu itu aja, sayang. Baik – baik disana ya. Sebulan lagi kita berkumpul di rumah. See you here.” Mama mengakhiri percakapannya dengan Nabila.

 

Dan kesekian kalinya,

Nabila terus berpikir keras tentang ulah Reyhan yang selalu penuh kejutan. “Kali ini apalagi Rey? Kemaren kamu nyakitin aku dengan kata – kata kotor itu. Lalu? Sekarang? Kamu masih hubungin aku di saat aku udah bilang kalau aku udah balik ke asrama? Cerita apa lagi yang mau kamu buat kali ini?” batin Nabila sakit mengingat perkataan Reyhan tempo hari. Dan lagi, Nabila kembali menangis mengingat segala perubahan sikap Reyhan padanya. Kedua kalinya ia menangis karena Reyhan.

 

Terus penasaran dengan tingkah Reyhan, Nabila pun memutuskan untuk meminta kejelasan tentang sikapnya. Ia pun pergi ke “Warung Telepon” dan menekan nomor telepon Reyhan. Nada hubung pertama belum diangkat. Kedua masih sama. Dan ketiga…

Reyhan           : “Assalamu’alaikum.”

Nabila             : “Wa’alaikumsalam.”

Hening. Keduanya sama – sama menela’ah suara yang saling terdengar. Belum ada sahutan dari nomor yang dituju dan Nabila mengawali.

Nabila             : “Ini aku, Nabila.”

Reyhan           : “Ada apa?”

Nabila             : “Aku yang harus tanya kamu kenapa.”

Reyhan           : “Maksud kamu?”

Nabila             : “Iya. Kamu yang kenapa. Setelah kamu kasar ke aku. Setelah hina aku dan nyakitin aku. Kamu masih berani – beraninya hubungin aku di saat aku udah pernah bilang kalau aku waktu itu udah balik ke asrama.”

Reyhan           : “Maksud kamu?”

Nabila             : “Kamu lupa? Atau memang pelupa?”

Reyhan           : “Aku nggak merasa kalau aku sms atau hubungin kamu saat kamu udah balik ke asrama.”

Nabila             : “Lalu, kamu pikir mama aku bakal bohong tentang kamu? Gitu?”

Reyhan           : “Entah. Yang aku tahu aku nggak pernah hubungin kamu.”

Nabila             : “Aku nggak habis pikir sama kamu Rey. Kamu nyakitin aku dan sekarang berulah lagi. Aku kecewa sama kamu.”

Reyhan           : ……………………………………………

Nabila             : “Kamu diem? Berarti mama bener? Kamu hubungin aku kan?”

Reyhan           : ……………………………………………

Nabila             : “REY!! Aku tanya kamu. Kamu jawab!!!” Nabila tak mampu menahan emosi nya.

Reyhan           : “Aku cuman mau jelasin sesuatu sama kamu.”

Nabila             : “Apa?”

Reyhan           : “Aku sudah punya cewek yang bisa nerima aku apa – adanya.”

Nabila             : …………………………………………..

                        Hening dan Nabila menahan tangisnya agar tak terdengar Reyhan.

Reyhan           : “Dan aku mau kamu juga sama. Cari pengganti aku.”

Nabila             : “Oh… jadi ini yang mau kamu jelasin ke aku hingga kamu harus nyakitin aku kayak kemaren?”

Reyhan           : “Maaf. Dan tentang kita, semuanya bohong. Aku nggak serius. Aku hanya ngetes kamu apakah kamu akan dengan mudah tergoda dengan sikap ku atau malah sebaliknya.”

Nabila             : “Apa hak kamu bersikap seperti itu sama aku? Apa salah aku ke kamu hingga kamu berani berkata seperti itu?”

Reyhan           : “Kamu harus segera mencari pengganti ku, Nabila.”

Nabila             : “Dan kamu nggak berhak atur hidupku. Itu adalah urusanku dan kamu nggak perlu tahu. Dan satu lagi, selamat buat hubungan kamu dengan dia yang baru. Kuharap kamu nggak akan ngetes dia layaknya aku.” Nabila menangis namun terus menahan agar tak terisak

Reyhan           : “Kamu baik – baik saja?”

Nabila             : “Ya.. aku baik – baik saja. Aku malah bahagia mendengar kamu sudah memiliki yang baru. Sekali lagi selamat.”

Reyhan           : “Terimakasih. Dan Nabila, maafin aku.”

Nabila             : “No worries. I am fine. Assalamu’alaikum.”

 

Telepon terputus.

Namun, Tangis Nabila semakin deras dan tak tertahan. Baru kali ini hatinya benar – benar terluka. Baru kali ini hatinya benar – benar hancur. Baru kali ini ia benar – benar di permainkan disaat hatinya sudah benar – benar merasa hampa tanpa Reyhan. Ya… Nabila merasa hampa tanpa Reyhan. Nabila merindukan suara Reyhan. Nabila merindukan pertengkaran – pertengkaran yang timbul di setiap komunikasinya dengan Reyhan. Ironisnya, Nabila pun baru menyadari bahwa pertengkarannya adalah sarana nya untuk bertemu dengan Reyhan.  

    

“Semoga aku cepat memiliki penggantimu kamu bilang? Ngetes. Itu juga kamu bilang tentang kita sejak lama? Mudah sekali. Jahat kamu Rey.” Rintih Nabila tak tertahan lagi. Matanya bengkak menangis semalaman. Ia merasa kepalanya dihujani berton – ton batu besar. Kepalanya pusing akibat menangis berkepanjangan.

 

“Dan bodohnya aku, aku baru sadar kalau aku butuh kamu selalu, Rey.” Gumam Nabila terbata – bata.

 

                                   

  • view 88