Kisah Klasik Bag. 3

Sabeena Naya
Karya Sabeena Naya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Januari 2017
Kisah Klasik Bag. 3

1 tahun kemudian, ponsel Nabila bordering.

Nabila             : “Nomor baru? Batin Nabila. “Hmmm Hallo?” sapa Nabila hati – hati. Namun,

Penelpon        : ………………………. (hening)

Nabila             : “Hallo?” sapanya sekali lagi. “Sekali lagi aku sapa tak menjawab ku tutup telepon ini. Ada – ada aja yang iseng   zaman sekarang!” gerutu    Nabila

Penelpon        : “Hallo.”

Dan kemudian… tut.. tut.. tut.. tut

Nabila                         : “Loh? Kug malah terputus? Aneh!!”

Namun, 5 menit kemudian ponselnya berdering lagi dengan nomor telepon yang sama

Nabila             : “Hallo? Sekali lagi kamu main – main aku tutup teleponnya!” ancam Nabila pada penelepon

Penelpon        : “Ini aku.. Reyhan. Tadi teleponnya tiba – tiba terputus. Sorry.”

Nabila             : “Oh”

Penelpon        : “hm iya. Mengganggu kah?”

Nabila             : “Tergantung. Kalau kamu mau ngomong sesuatu yang penting, aku akan dengerin kamu. Tapi kalau cuman iseng kayak tadi… aku tutup teleponnya.”

Penelpon        : “Bagiku penting. Entah bagimu. Bagaimana?”

Nabila             : “OK. Aku bakal dengerin kamu. Sekarang cepat bilang mau ngomong apa!” ucap Nabila sedikit ketus

Penelpon        : “Kamu ketus banget? Masih marah?”

Nabila             : “Marah? Kenapa harus marah?”

Penelpon        : “Nada bicaramu tak nyaman di dengar, Bil. Aku nggak suka dengernya.”

Nabila             :“Terserah aku dong mau pakek nada yang kayak gimana. Sekarang cepetan kamu bilang mau ngomong apa. Nggak usah berbelit – belit kayak gini.”

Penelpon        : “OK OK. Apa kabar kamu?”

Nabila             : “Aku? Alhamdulillah baik.”

Penelpon        : “Syukurlah kalau begitu.”

Nabila             : ………………………………………..

Penelpon        : “Kamu nggak tanya kabar aku disini?”

Nabila             : “Kurasa kamu baik – baik aja.”

Penelpon        : “OK lah. Kita bicara yang laen saja.”

Nabila             : “Silahkan”

Penelpon        : “Kamu masih inget Mia? Temen deket aku dulu di SD?”

Nabila             : “Hmm.. kenapa?”

Penelpon        : “Hmm.. aku suka dia.”

Nabila             : “Lalu?”

Penelpon        : “Ya aku bilang aku suka dia. Are you OK with that?”

Nabila             : “Yes, I am fine. No problem with me. Kenapa harus aku yang ditanya?”

Penelpon        : “Ya kupikir kamu bakal marah atau yang lain. Cemburu mungkin?”

Nabila             : “Aduh Rey, kalau kamu bahas hal kayak ginian sama aku.. aku masih punya banyak hal lain yang harus diselesaikan.  Kalau kamu memang suka dia, bilang aja langsung ke orangnya. Simple kan?”

Penelpon        : “Hmm kamu bener.”

Nabila             : “Ya”

Penelpon        : “Tapi, kita gak musuhan seperti dulu lagi kan?”

Nabila             : “Musuhan? Aku nggak pernah berpikir kita akan bermusuhan selama itu. Kupikir kita udah terlalu gedhe untuk menganggap sikap kita selama ini musuhan.”

Penelpon        : “Yap.. I agree with you. So kita temenan?”

Nabila             : “Sejak lama kita memang berteman.”

Penelpon        : “Tapi saat ini aku mau kita lebih dari teman.”

Nabila             : “Maksud?”

Penelpon        : “Lebih dari teman. Teman dekat. Teman tapi Mesra mungkin?”

Nabila             : “Teman tapi Mesra kamu bilang? Aku masih lebih memilih fokus sama sekolah aku. Kuliah aku nanti dan seterusnya. Aku nggak suka main – main tentang hidupku.”

Penelpon        : “Ya, aku paham apa yang kamu mau. Kamu sejak dulu memang good at education. Aku salut buat kamu. Tapi, tentang kita.. maksudku teman tapi mesra itu bukan tentang seperti orang – orang. Kita hanya perlu sering berkomunikasi seperti ini.”

Nabila             : “Terserah kamu”

Penelpon        : “Jadi kamu setuju?”

Nabila             : “No comment.”

Penelpon        : “So, kamu kapan balik ke asrama?”

Nabila             : “1 minggu lagi”

Penelpon        : “OK. Seneng bisa ngobrol santai bareng kamu. Diterusin belajarnya. Bye”

Nabila             : “hmm”

 

Apa yang harus dirasakan Nabila? Senang kah? Terkesima kah? Ntah. Yang pasti dia tak henti – hentinya tersenyum dan mengingat – ingat percakapan yang terjadi barusan. Dan, tak terasa 5 hari kemudian dia merindukan moment seperti sebelumnya bersama Reyhan. Namun, Reyhan tak pernah menghubunginya lagi. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencoba menghubungi Reyhan terlebih dahulu.

 

Nabila                         : “Hallo, Assalamu’alaikum?”

Penelpon                   : “Wa’alaikumsalam”

Nabila                         : “Bisa bicara dengan Nia?” Ia terpaksa harus berbohong seolah tak tahu nomor telepon Reyhan. Ia masih berpikir keras tentang harga diri.

Penelpon                  : “Nia? Salah sambung.”

Dan tut…tut…tut. Telepon lagi – lagi terputus. “Apa- apaan ni? Aku cuman ngetes apa dia masih jutek atau udah berubah.  Dia pasti punya nomorku juga kan? Eh.. Malah semakin jahat seperti ini.” Gumam Nabila marah. Ia pun semakin ragu dengan perubahan – perubahan pada Reyhan. Sesaat sebelum meletakkan ponselnya, terdengar SMS masuk dari nomor Reyhan.

“Matamu kemana? Buta lo?”

“Lo? Kug dia malah semakin kasar sama aku?” Nabila malah semakin marah dengan perkataan Reyhan. Tak sabar ia pun memanggil nomor pengirim pesan kasar itu.

Nabila               : “Hallo! Maksud kamu apa ngomong kasar kayak gitu sama aku?”

Penelpon        : “Iya. Kamu yang salah. Sudah jelas itu nomorku dan kamu bilang cari Nia?”

Nabila             : “kalau itu masalahnya. Kenapa nggak langsung benerin aja kalau aku salah? Jadi kamu nggak perlu sampek ngomong kasar sama aku kayak tadi.!

Penelpon        : “Jadi sekarang aku yang salah?”

Nabila             : “Entah. Yang pasti aku sekarang ngaku kalau aku salah. Aku juga nggak tahu kalau itu nomor kamu!”

Penelpon        : “Terserah mau apa. Hanya JANGAN HUBUNGI AKU LAGI. AKU UDAH PUNYA PACAR.”

Dan sekali lagi telepon seketika terputus.

“REYHAN!!!! Aku nggak pernah bisa ngerti kamu! Kadang kamu baik kadang kamu ngeselin seperti ini. OK! Mau kamu udah punya pacar atau nggak apa urusannya denganku? Toh aku juga gak punya perasaan apa – apa sama kamu!!”  Marah Nabila tak tertahan lagi. “Dan aku kudu bisa lupa sama yang namanya Reyhan.” Tambahnya.

Sejak awal, Nabila memang tak pernah berniat untuk memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis sekalipun Reyhan yang selalu tiba – tiba mengusik prinsip nya. Karena dia adalah anak tunggal hingga ia harus menjadi yang terbaik untuk kehidupannya dan kedua orang tuanya. Tak jauh berbeda dengan prinsip Reyhan meski kadang ia berbelok dari prinsipnya walau hanya sekejap.

  • view 102