Kisah Klasik Bag. 2

Sabeena Naya
Karya Sabeena Naya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Desember 2016
Kisah Klasik Bag. 2

Tapi, esok harinya Nabila tersenyum sendiri melihat Reyhan yang kembali menunggunya saat berangkat sekolah. Tak hanya itu, ia pun memperhatikan Nabila saat pulang sekolah. Ya, Reyhan kembali dengan kebiasaan nya dan itu tandanya dia sudah tak marah lagi pada Nabila. “Terimakasih, Rey.“

 Liburan tiba. Semua yang ada di asrama diperbolehkan pulang. Mereka pun diharuskan berpikir benar kemana mereka akan melanjutkan sekolahnya setelah ini. Sebagian dari mereka ada yang terus melanjutkan di Yogyakarta bersama teman asrama lamanya dan sebagian ada yang lebih memilih kota baru dengan suasana baru. Agar tak bosan katanya.

 “Nabila.. ada telepon.” Panggil Shanti, mama Nabila. Nabila pun segera mengangkat telepon tersebut. Ia tak suka membuat siapapun yang meneleponnya menunggu lama.

Nabila                         : “Hallo… siapa ini?”

Penelpon                   : “Hhm.. Hey bil.. ini aku, Kikan.”

Nabila                         : “Oh hey Kikan. Apa kabar?”

Penelpon                   : “(uhuk uhuk…) ah aku baik tapi sedikit batuk. Kamu apa kabar?”

Nabila                         : “Ah aku Alhamdulillah baik, Kikan. Kamu sakit?”

Penelpon                   : “Ah ndak.. hanya batuk kecil. Nanti juga sembuh. Kamu lagi apa bil?”

Nabila                         : “Ah aku lagi nonton TV sama mama. Kamu?”

Penelpon                   : “Owh.. kamu nggak pengen jalan, bil? Pumpung liburan nih…”

Nabila             : “Ehm.. kayaknya ndak Kikan. Aku dirumah aja sama mama papa. Jarang bisa libur panjang kayak gini hehehe. Mungkin kamu kapan – kapan main kesini?”

Penelpon        : ……………………..

Nabila             : “Kikan? Kamu disana? Kamu baik – baik aja kan?”

Penelpon        : “Hmm.. hey Nabila. Ini Reyhan. Kamu inget?”

Nabila             : “Loh? Tadi kurasa aku lagi bicara sama Kikan. Kok sekarang jadi kamu, Rey?

Penelpon        : “Nggak ada Kikan disini, bil. Ni aku.. Reyhan.”

Nabila             : “Kamu ngerjain aku, Rey?” (tanya Nabila sedikit ketus)

Penelpon        : “HMmm.. okey aku minta maaf karena udah ngerjain kamu tadi. Kupikir aku sedikit takut buat menghubungi kamu dengan suara asliku.”

Nabila             : “Mama aku nggak sejahat itu, Rey. Dia selalu terima baik semua temen – temen aku. Aku nggak suka dikerjain kayak gini!”

Penelpon        : “Iya Nabila, aku minta maaf. Aku janji nggak akan begini lagi. OK?”

Nabila             : …………………………….

Penelpon        : “Bil? Kamu masih disana? Kamu masih marah tentang tadi?

Nabila             : …………………………….

Penelpon      : “Ok. Kamu cukup dengerin aku sekarang. Aku mau minta maaf tentang semuanya. Tentang yang dulu aku lakuin ke kamu dan tentang ini.”

Nabila             : “Tentang yang dulu? Maksud kamu?”

Penelpon        : “Iya.. tentang semua sikap  jahat aku ke kamu selama SD.”

Nabila             :”Sikap jahat kamu? Yang bagaimana itu?”

Penelpon        : “Apa aku kudu sebutin satu – satu bil?

Nabila             : “Itu lebih baik. Minta maaf takkan sepenuhnya diterima jika yang salah tidak menyebutkan semua kesalahannya kan?” (pinta Nabila jahil)

Penelpon        : “Kamu serius minta aku sebutin semuanya?

Nabila             :”Iya!” (jawab Nabila tegas)

Penelpon        : “OK. Tentang aku yang bilang kamu babi. Tentang saingan kita. Tentang……”

Nabila             :”tentang?”

Penelpon        : “Itu sudah aku sebutkan. Dan sekarang tugas kamu maafin aku.”

Nabila             : “Kamu maksa?”

Penelpon        : ……………………………………….

Nabila             :” Rey, kamu masih disana?”

Penelpon        :”hmm”

Nabila             : “Kamu marah?”

Penelpon        : …………………………..

Nabila             : “Harusnya aku yang marah saat ini. Bukan kamu. Kamu minta maaf dengan memaksa aku maafin kamu.”

Penelpon        : “Dan kamu berbelit – belit. Harusnya kamu langsung jawab perminta maafan aku. Kamu maafin aku apa nggak. Selesai kan?”

Nabila             :…………………………….

Penelpon        : “Dan sekarang kamu diem lagi? Marah lagi?”

Nabila             : ……………………………

Penelpon        : “Pertengkaran kita ngaak akan pernah selesai kalau kita terus seperti ini, Bil..

Nabila             : “Hhhffft, OK, iya aku maafin kamu, sudah? Puas?”

Penelpon        : “Hmmm OK. Thanks.”

Nabila             : “Hm”

Penelpon        : “Yang ikhlas dong maafinnya..”

Nabila             : “Iya Reyhan.. aku maafin kamu. Puas?”

Penelpon        : “Gitu kan bagus…”

                          “Oh iya, kamu lagi dimana sekarang?”

Nabila             : “Di rumah. Kenapa?”

Penelpon        : “Hmm gini. Sebenarnya ada reuni SD angkatan kita. Tapi kita nggak ada tempat. Rumah anak – anak pada ada acara semua. So, di rumah kamu bagaimana?”

Nabila             : “Apa? Di rumahku?”

Penelpon        : “Iya… ya kali aja rumah kamu nggaka da acara minggu ini.”

Nabila             : “Sorry Rey… di rumah memang nggak ada acara cuman, Mama papa nyuruh aku fokus belajar untuk tes masuk SMA di Djogja.”

Penelpon        : “Tes masuk SMA? Di Djogja lagi?”

Nabila             : “He’emb. Kenapa?”

Penelpon        : “Kamu nggak bosen sekolah SMA di sana lagi? SMP disana SMA juga mau disana juga? Nggak habis pikir aku sama kamu!”

Nabila             : “Maksud kamu?”

Penelpon        : “Iya… kamu tuh nggak bosen apa sekolah 6 tahun disana?”

Nabila             : “Rey.. tunggu. Ni tentang aku sekolah dimana. Mau aku sekolah dimana itu terserah aku kan? Kenapa kamu yang marah?”

Penelpon        : “Iya aku tahu itu terserah kamu cuman kalau aku jadi kamu, aku nggak bakal sekolah di Djogja lagi!”

Nabila             : “OK. Kenapa?”

Penelpon        : “Karena disana aku dapet kenangan buruk sama kamu. Tau bahwa aku di sekolah yang sama dengan kamu seolah mimpi buruk buat aku. Aku nggak bisa bebas. Semua yang aku lakuin selalu di sangkut pautkan dengan kamu. Terlebih temen deket kamu, Rizka.”

Nabila             : “Oh jadi sekarang kamu mau nyalahin aku lagi karena buat kamu nggak bisa bebas di Djogja? Harusnya Kalau kamu memang Nggak suka, kamu pergi. Nggak usah kamu hiraukan apa kata mereka. bukan malah nyalahin ke aku semuanya sekarang!”

Penelpon        : “Hhhffft”

Nabila             : “Aku nggak habis pikir sama kamu, Rey. Baru aja kamu minta maaf ke aku dan sekarang kamu malah buat masalah lagi!”

Penelpon        : “Yaudahlah… terserah kamu. Aku minta maaf kalau tadi nyakitin kamu! Aku tutup. Assalamu’alaikum.”

Setelah telepon terputus, Nabila lagi – lagi tidak menyangka akan menjadi panas lagi hubungannya dengan Reyhan.

1 bulan kemudian terdengar kabar bahwa Reyhan melanjutkan SMA di Surabaya. “Syukurlah… setidaknya aku tak perlu bertengkar tak jelas lagi dengannya.” Batin Nabila.

  • view 177