Kisah Klasik Bag. 1

Sabeena Naya
Karya Sabeena Naya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Desember 2016
Kisah Klasik Bag. 1

Siapa tahu..

Segala pertengkaran dan ejekan waktu itu membuat mereka saling menyisihkan tempat khusus dalam hati

Siapa tahu…

Bahkan mereka saling berbicara tentang arti rindu dalam tiap pahitnya tutur kata.

 

“Ah tidak… ini hanya rasa semu yang akan hilang seiring berjalannya waktu” pikir Nabila.

 

Namun, Tuhan berkata lain..

Tuhan kemudian meminta mereka memahami pertemuan mereka sekali lagi.

“Oh tidak!! Kenapa dia bisa ada disini? Aku tak pernah mengatakan kepada siapapun kalau aku akan berpindah di SMP ini!! Ah tak apa. Kita takkan pernah bertemu karena kita di lain kelas dan di lain gedung!! Batin Nabila.

 Namun… lagi – lagi mereka harus bertemu.

Reyhan telah menyadari bahwa ada Nabila disana. Ia benar –benar yakin bahwa perempuan yang dilihatnya adalah Nabila yang ia kenal di SD dulu. “OK. Aku akan memastikannya lagi. Aku akan menunggunya berangkat sekolah di depan masjid asrama!!” Yakin Reyhan dalam hati.

Keesokan harinya, Reyhan pun benar – benar melakukan apa yang ia katakan kemarin. Ia duduk didepan masjid asrama sembari menyelidik tentang kebenaran Nabila yang ia kenal.

15 menit kemudian, Nabila berjalan tenang bersama teman – temannya sambil sesekali tersenyum. Namun, hatinya terasa berbeda hari itu. Ia merasa seolah ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dengan sedikit takut, ia mengedarkan pandang ke arah masjid asrama di depannya. “Astaghfirullohal Adziim!! Reyhan?” pekiknya dalam diam. “Ah benarkah itu dia? Tidak – tidak. Aku harus bersikap seolah aku tak melihatnya!”

Sedang Reyhan pun tampak menatap Nabila sembari menahan keterkejutannya. “OK!! Aku benar dia Nabila. Dan tunggu… Ah sial!! Dia juga di kelas unggulan?!!” lagi – lagi Reyhan masih merasa tersaingi setelah mengetahui kelas Nabila di SMP tersebut.

Keduanya pun merasa jantungnya bergemuruh. Entah rasa tersaingi itu muncul lagi atau dengan rasa yang lain. Terdengar tabu sebenarnya tapi itulah yang mereka rasakan.

Dan tanpa ada satu kesepakatan sebelumnya, Reyhan seolah selalu menunggu Nabila berangkat sekolah. Ia selalu ingin memastikan bahwa Nabila sudah melewati asramanya. Sedang Nabila selalu ingin mengangkat arah pandangnya ke masjid asrama hanya untuk memastikan Reyhan memperhatikannya. Dan selalu, pandangan mereka bertemu.

 

Suatu ketika,

Nabila dan Reyhan harus bertemu di salah satu acara sekolahnya, Farewell Party for Arabic and English Class. Keduanya tak pernah terpikir akan bertemu dengan sengaja. Mereka pun saling mengedarkan pandangan untuk memastikan keberadaan masing – masing. “Apakah Nabila akan menjadi juara di kelas Arabic? Atau English?” tanya Reyhan dalam hati. “Apakah Reyhan akan menjadi juara di kelas Arabic? Atau English? batin Nabila. Lagi, mereka seolah tak mau kalah unggul diantara yang lain.

 

DIPERHATIKAN SEMUA!!

JUARA 1 DALAM ARABIC CLASS PUTRI DIRAIH OLEH.. NABILA. DAN JUARA 1 DALAM ENGLISH CLASS PUTRI DIRAIH OLEH.. LINDA FEBRIANI. UNTUK SELANJUTNYA KELAS PUTRA. JUARA 1 ARABIC CLASS DIRAIH OLEH FAHMI HIDAYAT DAN JUARA 1 ENGLISH CLASS DIRAIH OLEH DODI KUSUMA.

 

“Oh OK!! Kau menang di Arabic class, Nabila! Selamat buat kamu.” Ketus Reyhan. “hmm.. sepertinya dia tak tampak sekarang!!” seringai Nabila walau sebenarnya ada sedikit rasa tak enak ketika menyadari bahwa Reyhan tak menjadi juara di kelas tambahan itu.

 Malam harinya,

“Nabila.. kamu disuruh datang ke kantor. Katanya kak Nila ada telpon dari paman kamu. Cepet!!” panggil Nayla, teman seasrama Nabila. Ia pun kemudian pergi menuju kantor sembari bergumam dalam hati “Paman? Paman yang mana? Kurasa tak pernah paman telepon kemari. Atau ada sesuatu yang mendesak? Ah.. semoga saja tidak!!” Nabila berpikir macam – macam. Sesampainya di kantor kak Nila pun memberikan telepon itu kepadanya. “Halo.. paman?” panggil Nabila. “hem.. ini aku, Reyhan. Jangan terkejut. Bersikaplah seperti biasa dan jangan sampai ada yang tahu kalau aku menghubungimu. Selamat buat yang tadi siang. Aku ikut senang mendengarnya. Dan nanti malam pukul 11 kamu telepon aku di asrama. Ok?” Nabila terdiam tak menyangka siapa yang sedang berbicara di telepon itu. “Halo.. kau disana? Cepat jawab!!” Nabila pun seolah tersadar dari keterkejutannya “Ah iya. Memang kenapa aku harus meneleponmu?” tanya Nabila ingin tahu. “Lakukan apa yang aku minta. Jika tidak aku akan marah!!” seketika telepon di seberang sudah terputus. “Apa- apaan ini? Sekalinya dia bicara denganku, diapun memaksa seenak hatinya!” gerutu Nabila marah. “Ada apa Nabila? Ada yang serius? Apa yang dibicarakan pamanmu? Kamu tampak tak baik setelah telepon tadi?” tanya kak Nila khawatir. “Mati aku!” pekik Nabila dalam hati. “Ah tidak ada yang serius kak. Aku hanya terkejut kalau paman yang satu ini meneleponku. Biasanya dia tak banyak bicara denganku sebelumnya. Terimakasih ya kak. Aku ke kamar dulu.” Jawab Nabila asal sembari berusaha segera pergi dari pertanyaan – pertanyaan lain dari kak Nila.

 

Lalu, apa kalian pikir Nabila akan melakukan permintaan Reyhan? Ya ? atau tidak?

 

Jawabannya TIDAK. Nabila tak menelepon Reyhan karena dia takut ketahuan oleh kakak – kakak asramanya. Ia juga khawatir berita ini terdengar oleh kakak perempuan Reyhan yang juga menjadi teman akrab Nabila. “Entahlah. Yang jelas aku punya banyak pertimbangan untuk meneleponmu, Rey. Sorry. Dan besok aku akan memastikan apakah Reyhan akan marah atau tidak setelah tau aku tak melakukan permintaanya.”

 

Dan.. benar. Reyhan masih menunggu Nabila seperti biasa. Namun, ada sedikit yang berbeda. Reyhan tak memperhatikan Nabila. Dia hanya duduk – duduk di masjid asrama dengan teman – temannya. Ketika ia menyadari Nabila melintas didepannya, ia seketika berdiri tanpa menoleh ke arah Nabila. Saat pulang sekolah pun, Reyhan tak menunggu lewatnya Nabila. “Benar.. Reyhan marah padanya. Tapi? Apa peduliku? Dan adalah hak ku untuk melakukan permintaannya atau tidak.” Bela Nabila meski hatinya sedikit tak enak dengan sikapnya.

1 hari… masih sama. Reyhan malah tak menunggu Nabila berangkat ataupun pulang sekolah. 2 hari, 3 hari, seminggu. Sedang Nabila merasa ada yang hilang. Ia merasa bersalah karena tidak menuruti permintaannya. “Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus meneleponnya?” tanya Nabila

 Malamnya..

“Halo.. Assalamu’alaikum? Bisa bicara dengan Reyhan Firdausi? Saya saudaranya dari Surabaya. OK. Ditunggu.” 1 menit.. 2 menit.. 5 menit.. Nabila menunggu teleponnya di angkat dengan semu khawatir. “Halo.. mau bicara dengan siapa?”, “Lo.. hmm,, Reyhan Firdausi nya ada? Saya sedang menunggunya.” Sahut Nabila. “Oh maaf. Sepertinya Reyhan sedang keluar. Ada pesan? Nanti saya sampaikan.” “tapi.. ini suara Reyhan sepertinya. Iya.. aku kenal suaranya. Tapi kenapa dia malah seolah menjadi orang lain?” batin Nabila. “ah tidak usah. Nanti saya akan telepon lagi. Salam buat Reyhan kalau begitu. Terimakasih. Assalamu’alaikum.” Nabila mengakhiri teleponnya sembari ragu apakah tadi adalah kakak asrama Reyhan atau Reyhan sendiri. Ia yakin kalau tadi yang didengarnya adalah suara Reyhan. “Maaf kalau kamu masih marah, Rey.” Sesal Nabila dalam hati.  

  • view 182