Bungsuku, Kebanggaanku

Bungsuku, Kebanggaanku

Sabeena Naya
Karya Sabeena Naya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juli 2016
Bungsuku, Kebanggaanku

Kemarin, terdengar seorang ibu bercerita tentang putri bungsunya yang berusia 15 tahun. Meskipun dia tinggal di daerah terpencil, namun ia bangga pada anaknya yang bisa berpartisipasi dalam lomba Kompetisi Matematika dan Bahasa Inggris hingga ke Yogyakarta. Meskipun mendapatkan C+ namun itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi keluarga kecilnya. Sang ibu menceritakan prestasi bungsunya itu kepada sanak saudara nya saat lebaran kemarin.

Sayangnya, sang putri tak bisa meneruskan sekolahnya. Bukan tentang keuangan yang harus ditanggung. Namun, karena ada keluarga lelaki yang sudah mengantarkan tanggal perjodohannya. Sang calon bisa dikatakan mapan karena ia bekerja di sebuah perkapalan luar negeri. “Lalu, apakah putri ibu menerima perjodohan ini?” tanyaku. “Sebenarnya, aku tahu bahwa dia masih sangat ingin berkumpul dengan teman – temannya dan belajar tentang kegemarannya, Bahasa Inggris. Biaya masuk SMA nya pun sudah kusiapkan. Namun, karena tanggal pertunangan sudah ditentukan aku tak bisa apa – apa. Tak ada guna jika harus melakukan keduanya. Uang akan terbuang sia – sia karena dia akan segera menikah 6 bulan kedepan.” Aku pun hanya tersenyum mendengarnya.

Pernah salah seorang penduduk dari daerah tersebut berkata bahwa jika satu lamaran datang dan ditolak, takkan pernah ada lamaran – lamaran yang lain.

Kupikir, setiap daerah pasti memiliki satu adat dan kepercayaan masing – masing. Hanya saja, untuk menjalani suatu kehidupan yang masih terus berkembang, menjalankan adat saja dirasa tak akan cukup. Akan lebih baik adat bisa berjalan bersamaan dengan perkembangan zaman. Saling melengkapi. Yang baik diambil, yang buruk ditinggalkan.

Dan semoga si putri bungsu bahagia di kehidupan baru nya. Aamiin aamiin ya robbal ‘Aalamiin.      

Habeebah,  15 Juli 2016.

  • view 297