Senja Tak Lagi Bersahaja

Afsohi Latif
Karya Afsohi Latif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2016
Senja Tak Lagi Bersahaja

Aku memiliki kebiasaan, entah itu buruk atau baik, tapi itu candu yang luar biasa dalam hidupku. Aku tidak pernah bertanya pada Psikolog atau Psikiater manapun karena aku takut mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak aku suka, karena ini perihal tentangmu.

Ini lebih dari sekedar rokok, bahkan kokainnya lebih kental dari pada kopi, walau sebenarnya aku tidak pernah merasakan keduanya. Tapi firasatku mengatakan ini lebih dahsyat menggrogoti otak.

Senjaku dulu sangatlah menarik, menghadap ke arah matahari terbenam sambil tersenyum malu karena tergiang wajahmu, ternyata matahari terbenam buatan Tuhan lebih indah dari gambarku sewaktu duduk di sekolah dasar. Entah apa yang membuatnya terlihat lebih magic, senyummu di padu dengan mata bening yang agak sipit atau memang sang pencipta membuat senja lebih menarik.

Gurat mega merah tambahan kanvas tuhan melengkapi suasananya, tak jarang telunjuk kumainkan di atas lagit mengikuti garis merah merona, kupejamkan mata, lagi-lagi aku tersenyum. Dunia memang terlihat sedikit manja kala yang melihat seperti mabuk dengan senyum seseorang. Kali ini hembusan angin dari utara menuju selatan agak terasa dingin, tapi aku mampu menikmati belaian yang ia ciptakan. "heyy, afsohh kemarilah waktunya makan !" teriak temanku dari lantai dua asrama. "Makanlah duluan, senjaku belum berakhir". jawabku tanpa melepaskan pandangan dari matahari yang beberapa senti saja akan menghilang.

5 tahun hampir berlalu, ternyata 4 tahun saja tidak cukup membangun rasa percaya satu sama lain, aku tidak pernah menyalahkanmu yang ternyata lebih nyaman bersama orang lain dibandingkan aku. Apa mau di kata ?, aku hanya santri berpeci hitam, kolot, kuper, tak bisa memperlakukanmu layaknya wanita dengan lelaki pada umumnya. Aku berasal dari kaum bersarung yang lebih sering bermain cinta dalam rangkaian kata, puisi, dan penanya.

Bahkan hingga sekarangpun sepertinya tuhan masih berpihak padamu, sejengkal saja senja yang aku lewati selalu terbayang wajahmu, senyum itu seperti tali mati pada pohon berduri. Bening matamu bagai embun pagi di ujung rumput hijau. Bahkan, jika mataku terpejam bukan hanya gelap yang tersirat, tapi ujung jari lentik dengan cincin emas milikmu serasa membelai.

Apa kabar sayang ?.
Masih ingat aku ?.
Iya, aku.
Selamat menikmati senja.
Silahkan menangis, tapi jangan bersedih. 

Bangkalan, 28, 11, 2016

  • view 223