Untukmu Lelaki yang Mengajarkanku Menjadi Laki-Laki

Afsohi Latif
Karya Afsohi Latif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 September 2016
Untukmu Lelaki yang Mengajarkanku Menjadi Laki-Laki


 Sebuah kisah klasik pemutaran otak, nostalgia tepatnya. khusus untuk laki-laki yang memang saudaraku tercinta.
Salam sejahterah untuk mu kakak.
Salam cinta dari adikmu yang belum sesuai harapan.
Salam hangat sehangat matahari mencumbui pagi.
Terlalu repot memang mengurus bocah yang seharusnya masih dalam pengawasan orang tua, karena satu atau dua hal malah masuk pesantren, tapi kamu tidak takut menempatkanku tepat di bawah pengawasanmu, kamu selalu membantuku dari mencuci baju, membantu mengerjakan PR atau malah menyiapkan buku. Terlepas dari resiko adanya adik yang selalu menganggu, tapi aku bersukur karna kamu selalu ada saat itu.
Sesekali aku menangis haru ketika ingat dimalam aku menangis terlalu keras dan membangunkanmu, kau yang harusnya istirahat karena lelah rela mengorbankan malam hanya untuk mengajakku keluar. Aku juga pernah mencubit tanganmu terlalu keras karena mengganggu aku menangis, saat itu sama sekali tidak tampak raut muka marah ingin memukul, justru raut wajahmu tetap sayu dan sedih seolah kamu ikut menangis. Aku tersentuh jika mengingatnya, tapi maaf bocah waktu itu terlalu kecil untuk memahami beban yang kau rasakan.
Masih jelas terpampang pertama kali kamu marah sejadi-jadinya karena kesalahanku mencuri uang temanmu, tapi lagi-lagi kamu takluk dengan tangisku yang pecah, dan kamu tidak jadi memukulku. Bocah yang merepotkan bukan ?.
Bertambahnya umurpun aku masih saja merepotkanmu, membuatmu kesal, kadang malah mepermalukan. Namun saat itu kau tetap tangguh mengurusku.
Darimu aku belajar banyak hal, sesuatu yang berat seperti caranya bergaul dengan sesama, hingga sesuatu yang remeh seperti caranya tersenyum tapi memberi dampak yang hebat.
Aku bangga padamu dari semua hal, dari berbagai sisi, bahkan setiap sudut.
Caramu mencampur bahasa indonesia dan Madura yang lucu menurut sebagian orang tetap terlihat kerren di mataku. Cara bicara cepat yang mungkin beberapa orang tidak faham apa yang kau maksud dan kamu selalu berdalih " itu adalah taktik dan politik ". Masih terlihat hebat bagiku.
Maaf aku masih sering berbohong sampai sekarang.
Maaf aku bukan adik yang baik.
Maaf aku tidak biasa membanggakan.
Maaf aku pernah mengambil beberapa uangmu dulu.
Maaf untuk maaf yang ku utarakan.

Adakah kau tersenyum membacanya ??
SEMOGA


                                           Bangkalan, 19 09 16

  • view 219