Surat Untuk Putri

Afridany Ramli
Karya Afridany Ramli Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 15 Oktober 2017
Surat Untuk Putri

Judul : Surat Untuk Putri
 
Oleh : Afridany Ramli
 
Putri, sebagai adikku kau sudah sepantasnya tahu  apa yang bersarang di dalam hatiku. Setelah kudengar dari ibu bahwa kau menderita penyakit gagal ginjal hatiku tersentak bagai diserbu dentuman peluru, aku lama termenung tentangmu. Terutama sekali tentang kedua orang tua kita yang hendak menjodohkan kita. Bahkan pernah pula rasa sombongmu yang kurindu.

Sampai kapan kau kuat atas kerapuhan  jiwa yang mendera? Sungguh aku tidak bisa membayangkan apalagi menatapmu lama. Siang itu saat hari pernikahan adikmu Eka, kau ingat? Aku sama sekali tidak bisa menatap sorot matamu yang tajam. Meski sesekali kucoba bertahan agar bisa melihatmu, namun semua itu hanya kepura-puraan semata agar orang-orang mengerti bahwa aku tak sanggup melihat kesedihan di dirimu.

Wajahmu yang teduh benar-benar pucat sekali. Guratan di pipimu, mempertandakan kau sudah tua putri. Tapi kau belum melahirkan seorang anakpun. Bagaimana pun, aku memikirkan itu. Tentu saja aku berpikir sampai kapan penyakit itu mampu kau tampung sebagai teman hidupmu. Begitu juga suamimu. Kesetiaan apa yang akan dipersembahkan olehnya untukmu hingga begitu sabar mendampingimu.

Aku berbicara tentangmu, pada saudara kita Bang Dedi, katanya kau lebih baik berobat obat kampung, karena sudah banyak yang gagal yang berobat di rumah sakit akibat penyakit ginjal menyerang mereka. Aku juga tahu bagaimana batin ibumu menjerit dalam tangis seorang diri.

“Andai saja aku punya ginjal lebih bang, kudonorkan padanya.” Kataku lirih. Bang Dedi tersenyum. Kadang aku berpikir tidak normal tentangmu. Aku mengandai-andai—saja orang sedesamu mau mengumpulkan dana dan memberli ginjal untukmu, pasti kau akan sembuh, sayang.

Selesai menyaksikan rombongan linto baro yang sedang berhadir, aku masih terpaku dalam relung penderitaanmu seorang diri, menatapmu. Kau memakai kerudung hijau. Gaun putih berenda yang kau kenakan memikatku pada sang waktu yang ingin kembali. Tapi itu tidak mungkin terjadi kurasa, pertama sekali aku sudah memiliki anak serta keluarga. 

Hei...! Putri kau ingat tidak, takdir kita. Rencana perjodohan yang lucu. Sekarang diwariskan Bang Dedi saudara kita. Putri lupakan pada keputusan Tuhan yang tidak adil padamu. Kenapa penyakit itu bersarang dalam denyut nadimu? Lupakan saja. Masih banyak yang buta dan belum bisa melihat bentuk dunia ini sekalipun.

Putri, setelah tamu undangan yang berhadir mulai berkurang, dan yang tersisa hanya satu persatu, aku masih mengingatmu. Setelah itu aku mencari sebuah tempat yang nyaman. Aku menemukan sebuah balai di belakang rumahmu. Aku merebahkan badanku di sana kemudian membayangkan dirimu yang masih melawan kerapuhan dalam jiwamu. Binar matamu yang berseri-seri, kurasa kau sedang melupakan sakitmu di hari kebahagiaan adikmu itu.

Sambil sesekali aku merasakan semilir angin berhembus sejuk bayang wajahmu yang tirus terus bergelayut memaksaku untuk mengingat tentang penyakitmu itu. Apakah masih ada jalan untuk kehidupanmu yang sempurna. Terkadang aku berpikir terlalu jauh, itu salah kau mengejar lelah dengan bidang studi mata kuliah pelajaranmu. Untuk apa gelar itu jika semua itu berlaku pada tubuhmu, sayang.
Terlalu naif jika kukatakan begitu bukan. Ada sedikit penyesalan yang terdalam jika kuingat. Semua sudah terlanjur  terjadi. Ah, di saat semua sudah begini. Roda kehidupan memang selalu berputas. Putri, sebagai pesanku untukmu, dan bila kau tidak keberatan, jemputlah pagimu lebih awal, hiruplah udara pagi seutuhnya menjadi milikmu sebelum embun dijemput mentari karena aku yakin akan ada sedikit sisa untuk obat bagi penyakitmu itu.

Lupakan tentang melahirkan, kurasa kau tak akan bisa untuk itu. Memang seorang perempuan akan lebih menderita jika hidup tanpa kasih sayang untuk berbagi dengan seorang anak. Kehadiran mereka akan memberikan sedikit nuansa baru dalam kehidupanmu, kan. Kuharap Putri tidak perlu bersedih. Lawan saja takdir itu. 

Aku teringat masa kecil kita. Kau sombong sekali denganku, kenapa Putri? Kau orang kaya ya? Kurasa kau tidak perlu menaruh simpati pada pria ingusan sepertiku bukan? Aku yakin sekali padamu. Saat itu kau benar-benar membuat aku malu bila berada di hadapanmu Putri. Sekarang aku kuat berada di hadapanmu. Kau pasti dapat merasakannya.

Katakan saja Putri, apa yang sedang kau alami. Katakan pada orang-orang bahwa kau sedang membutuhkan sebuah ginjal untuk hidupmu. Kata ibuku, setiap seminggu sekali kau harus mencuci darah. Itu tipuan para dokter Putri. Aku tidak sanggup membayangkan bila selang yang di ujungnya terdapat jarum yang menusuk menjalar darah dalam nadimu.

Kau tahu Putri sepanjang malam kehidupan yang berlalu aku terus membayangkan tentangmu. Hingga cerita ini kutulis. Agar semua orang tahu, kuharap kau tak perlu marah. Tidak perlu memarahiku sama sekali. banyak cerita orang-orang di dunia ini sepertimu. Tapi mereka berterus terang pada orang-orang. Karena permasalahan di dunia tak akan pernah menemui jalan keluar bila luput dari perhatian mencurahkan pada orang-orang. Seperti sakitmu. Dan yakinlah bahwa sebelum takdir berkehendak kau masih akan sembuh.

Abangmu ini, sudah tak berdaya Putri, sudah beruban. Tak ada jalan untuk memberikanmu sesuatu yang lebih selain hanya merangkai kata ini untukmu. Supaya kau masih bisa tersenyum padaku. Meski terkadang aku tak sanggup melihatmu. Setidaknya, masih ada rasa bahagia di antara kita. Waktu itu ketika kau diboncengi di belakang sepeda motor ayahmu dan sampai di rumahku. Aku yakin bahwa kau begitu manja dengan mereka. Semua sayang padamu.

Putri tak usah khawatir, aku masih sebagai saudaramu, kok. Selagi aku masih bisa berkunjung, aku tetap akan melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, menanti adikku dalam dekapan kasih sayang. Kapanpun itu. Dalam hal ini, aku benar-benar tidak bisa menerimamu sebagai adikku, bila kau tak mau berobat dengan sungguh-sungguh. Berobatlah apapun caranya. Aku ingin melihat kau kembali sombong padaku. Dan sesekali kita bertengkar layaknya musuh bebuyutan. Terkadang pertengkaran denganmu dapat menciptakan kenangan yang tak terlupakan bagiku.
Jika malam tiba saat mataku hendak berpejam sulit sekali aku terlelap, karena sebahagian tentangmu bergelayut laksana petir mengkilat ditengah mendung yang pekat; bergemuruh, berdentum sebelum hujan mengguyur dari langit. Aku yakin sekali dari sekian banyak yang mengenalmu hanya batinku yang menjerit sama dengan batinmu, sayang.
 
Kau jangan menipu dirimu sendiri Putri. Katakan pada dirimu bahwa kau benar-benar rapuh dalam melawan penyakitmu itu. Buang senyum getir itu. Sekali lagi, katakan pada dirimu agar malaikat turun menghidupkan kembali denyut-denyut ginjalmu.

Jika saja kau percaya pada Tuhan maka lakukan saja apa yang kukatakan padamu. Jangan menyerah putri. Menyerah hanya milik pecundang, sedangkan melawan penyakit adalah milik pejuang sejati yang tertindas. Kurasa demikian yang kau alami.

Aku ingin pulang Putri. Jam sudah pukul empat, hari sudah sore. Apalagi yang harus kutunggu. Tamu-tamu sudah pulang. Hanya beberapa sesi pemotretan yang kurasa tak begitu penting bagiku. Doa ku untuk Eka adikmu sudah terijabah. 

Sebenarnya keinginanku berat sekali untuk berbicara denganmu antar empat mata. Kulihat kau sibuk sekali. Senyum yang kau suguhkan pada tamu undangan begitu buram tiada bersinar aura kesungguhan. Biarkan sekali saja kubetulkan hidupmu. Perasaan semacam itu terus saja mengehentak-hentak kepalaku. Kenapa begitu runyamnya perasaan semacam ini Putri. Kenapa harus sekarang itu hadir. Apakah kau memang benar-benar sedang membutuhkan abangmu ini.

Aku ingat sekarang. Kau pernah mengatakan bahwa abangmu ini jahat bukan. Kau mengirimkan sebuah pesan singkat yang menggoreskan hatiku saat aku bermasalah dengan keluarga kita waktu itu. Permasalah uang yang kupinjam dari ibumu dan sebuah kereta usang yang kugadaikan kau memarahiku melupakan sopan santun bahkan. Kau tidak perlu memperpanjang lagi. Sudah kumaafkan semua salah itu. Maaf milik orang-orang baik. Anggap saja setiap permasalahan adalah bunga-bunga rampai dalam kehidupan sejati yang sedang tumbuh di taman pengalaman.

Dalam ikatan keluarga hal-hal semacam itu ada baiknya lupakan saja Putri. Memang terkadang jika kupetimbangkan tak perlu aku mengurusmu. Kau punya suami dan tanggung jawab yang lebih darinya. Terlepas dari rasa cinta untuk adikku sudah seharusnya kutumpahkan semua perasaan sedih yang berkelindan dalam hatiku.

Aku tidak mungkin memendamnya sendiri seperti yang kau perbuat. Itu sikap konyol Putri. Tak perlu kau melakukan itu. Kau tidak akan mampu memapah penyakit semacam itu sendirian. Ini soal hakikat sebuah kematian Putri. Jangan dulu membuka sebuah pintu mahligai bila penantian belum siap untuk pulang.

Barangkali masih ada Doktor spesialis dari Malaysia yang mampu menangani penyakitmu. Kita bisa berembuk, jalan mana yang harus kita tempuh. Lupakan radangmu  sementara. Kini, terbesit keinginan besar dalam hatiku untuk mendampingimu kembali sebagai adikku. Jelas tidak mungkin terjadi, namun kesungguhan hatiku mendesak rasa Putri. Kita harus berbagai dalam hal itu. Sudah banyak kulakukan pada orang-orang. Membantu mereka yang sakit. Seperti yang kulakukan pada ayahmu malam itu, walaupun hanya sekantong darah saja, bukankah setelah itu dia sembuh.

Semakin kudekapmu dalam diriku semakin aku tersiksa. Kenapa begitu perih Putri. Ataukah memang kesengajaan kau lakukan. Kau sudah pasrah ya? Kalau keputusanmu demikian lengkapnya, maka sempurnalah, baiknya lupakan hubungan kita. Anggap saja aku bukan saudara ayahmu. Kita tak pernah bertemu sama sekali. 
Dik....!Pahit sekali senyummu, bagiku dan entah itu bagi mereka. 
 
Aku tidak peduli apa kata orang setelah menulis cerita ini. Biarlah seluruh dunia orang-orang membacanya. Yang kutahu cintaku kembali melebihi masa dulu, dan itu merekah semenjak kutahu kau menderita penyakit gagal ginjal ini. Aku percaya pada kekuatan cinta bahwa segumpal kasih sayang muncul dalam ruang hatiku hanya untuk kesembuhanmu. Kuingin kau segera bangkit dan sembuh, hanya itu.

Jangan banyak basa-basi Putri. Lupakan kebiasaanmu. Lakukan sesuatu yang baru. Kau cantik Putri, seperti gadis-gadis di Pulau Rubiah. Aku menyesal, menyesal sekali kenapa kutolak lamaran perjodohan kita waktu. Andai saja kita bersama aku bisa merawatmu, kan. Tapi berandai-andai hanya akan melahirkan penghayal. 

Cukup adalah kata pasti yang pantas kuucapkan saat kau menangis berlinang airmata menutupi kesedihan. Kau jangan berbohong lagi. Ingat Putri cerita lama kita yang dulu, masa keceriaan. Kau suka memakai kaca mata. Segenggam debu yang kau lemparkan pada wajahku sekarang menjadi segenggam kesedihan Putri. Kesedihanmu telah merenggut kebahagiaan hidup kami Putri. 

Putri aku pulang ya. Hari semakin sore, aku semakin lemah tersedak kaku. Aku takut basah nanti hujan mengguyur. Tubuhku menggigil riang. Semakin tak kuasa kubendung rasa ini. Mata berkabut pandang melihat  di sekeliling. 

Sebelum aku sampai ke rumah, aku sudah merencakan akan menulis tentangmu. Dan sebagai akhir dari pertemuan kita hari itu, saat aku pulang kau memandangku sungguh lama, sepanjang langkahku berjalan. Hanya tatapanmu yang terakhir yang kubawa pulang. Dalam senyumku, tatapanmu terus terlintas. Sebagai tanda rindu darimu sudah cukup membuat aku gembira. Dan harapan-harapan akan terjadi bahwa kesembuhan penyakitku akan segera datang. Percayalah. Anggap surat untukmu adalah pesan Tuhan yang tidak boleh kita lupakan. Hari boleh berganti bulan Putri, akan tetapi jangan pernah mengingat bahwa kau sedang sakit.***(Paleu, 14 September 2017).
 
 
 
Penulis bernama Afridany Ramli
Tempat Tgl lahir : Bungie 2 Appril 1987
Sekarang menetap di Kembang Tanjong, Sigli, Aceh Indonesia
Kontak Person : Hp 082165109066
Email : Afridany.r@gmail.com.
 

  • view 108