jejak misterius di hutan Nianam Desa Fatu'ulan

afriana tamonob
Karya afriana tamonob Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Januari 2018
jejak misterius di hutan Nianam Desa Fatu'ulan

JEJAK MISTERIUS DI HUTAN NIANAM DESA FATU’ULAN
OLEH : AFRIANA TAMONOB
KELAS : A/VII
Hari minggu,merupakan hari yang kami tunggu-tunggu,hari kebebasan kami dari dunia pendidikan hari kemerdekaan bagi anak-anak kampung Desa Fatu Ulan yang disebut negeri diatas awan. hari bermain.aku Joni,Risto,Deki dan Randi sudah menyiapkan peralatan,hari itu kami akan mencari ubi hutan dihutan terlarang.ini diluar jadwal kami minggu lalu, jadwal awalnya kami akan bermain pasolah,karena persediaan makanan dirumah habis,memaksa kami untuk mencari ubi hutan disekitar hutan terlarang.
Kami bergesak kehutan terlarang,sekitar hutan terlarang sudah hampir kami sangat kenal,hampir setiap hari,sepulang sekolah,kami mencari ubi hutan,bahkan jejak hewan atau manusia bisa, kami bedakan lama atau baru.Namun satu hal yang tidak pernah kami ketahui adalah hutan terlarang,setiap orang dilarang masuk kedalam, mencari ubi hutan pun hanya melewati garis pembatas.
Menurut cerita ayah dan ibu ,hutan itu hanya tua adat dan pada ratu maupun yang boleh masuk,itu pun setahun sekali atau ada acara adat semacamnya ,jadi sebelum ritual (akan dilaksanakan harus minta restu dari leluhur yang tinggal didalam hutan tersebut. Lain hal acara ritual penyembuhan orang sakit atau yang masih ringan,cukup memberikan persembahan didalam kampung sudah ada altar yang sudah disiapkan,bahan-bahannya diambil dari hutan terlarang tersebut……
Sang surya tersudah tepat diatas kepala kami, namun ubi yang kami cari belum banyak.Aku mulai gelisa,cacing dalam perutku mulai mencabik sedikit demi sedikit isi perutku sehingga sakit,
“ Randi ,sini sebentar” Joni memanggilku.
“Ada apa?”
“ Kamu perhatikan jejak ini, masuk dalam hutan”
“Ini jejak orang dewasa,tapi ada jejak sepatu juga”.
“ Bukankah ritualnya masih satu minggu lagi ?”
“Betul”
“Itu jejak orang asing,tua adat dan para rato tidak mengunakan alas kaki.”
Kami dilanda kegelisahan, jejak-jejak itu membuat kami tidak tenang,hutan itu adalah hutan yang sangat angker,bahkan setiap pinggir hutan sudah dipasang papan penberitahuan serta batas yang boleh dimasuki dan tidak boleh dimasuki.
“Randi, bagaimana? Harus kita laporkan diketua adat.”
“ Jangan! Kita ikuti jejak-jejak itu.”
“Apa ? kau gila,apa kau mau mati dihutan itu ?”
“ Tidak mau!” Deki dan Risto tampak protes
“ dasar pengecut.”
“ Ayo Joni,kita masuk.”

Di dorong oleh rasa penasaran yang begitu besar,aku dan Joni mengikuti jejak-jejak itu.dan jejak-jejak itu makin jelas. Kurang lebih sudah satu jam kami mengikuti jejak-jejak tersebut,hutan itu semakin lebat,berbagai macam tumbuhan ada disitu dan pohon-pohonnya sangat tinggi dan besar.nyali kami agak kecut,suasananya sepi.mulut Joni tampak komat kamit membaca mandra.kami harus hati-hati agar tidak tergores semak berduri.
Di tengah hutan kami melihat seekor babi hutan di lilit ular piton yang sangat besar,tanpa diberi aba-aba kami lari terbirit-birut.kami terus berlari tampak menghiraukan semak belukar didepan. Ketakutan kami lebih kuat pada goresan semak belukar.sambil terterengah-engah kami mengatur napas dibawah, napas kami belum teratur,dikejutkan dengan suara sayup dan suara itu semakin jelas.kami mengendap-endap mencari sumber suara itu. Didepan kami ada sebuah Goa,di sisi kanan dan kiri dibagun gubuk kecil,semacam rumah juga.aku dan Joni saling pangang,dan jelas wajah kami pucak.
“Masih ada keberanian ?”Joni menantangku
“ Karena kita sudah disisni,harus tau apa yang terjadi.”
“ Ayo masuk !”
Aku dan Joni masuk dalam Goa,suara yang kami dengar sudah lama menghilang,kami semakin jauh masuk kedalam,tidak bisa lagi membedakan malam dan siang,Goa itu hanya diterangi beberapa obor dan lampu pelita.Dan hal yang tidak dapat dipercaya,kami menemukan ruangan yang besar,serta altar pemuja yang besar,altar itu sangat mirip didesa kami untuk menyembah arwa leluhur,yang membedakan altar ini lebih besar dan di apit dua batu pipi yang besar,yang biasanya untuk menyimpan persembahan.
Saat aku dan Joni mengamati altar,dari kejauhankami mendengar suara orang mungkin sekitar enam atau tujuh orang,mungkin juga lebih.Kami segera sembunyi dibatu besar.Selang beberapa saat,kami melihat beberapa bayangan manusia muncul dari sisi kiri dan sisi kanan altar.Gerombolan itu dengan serentak menghadap altar lalu duduk bersila,keadaannya menjadi hening,seorang laki-laki berdiri dan menyalakan beberapa obor,ruangan menjadi terang,
Aku dan Joni seperti disambar petir disiang bolong dan kami tidak yakin,apa yang telah disaksikan. Mata kami melotot ke empat sosok bayangan.Wajah mereka tampak berseri-seri,belum habis rasa kaget,dari belakang altar muncul sosok bayangan manusia yang penuh dengan wibawa dan karisma yang sangat kuat,aku dan Joni muncul rasa kagum pada sosok tersebut.sosok itu tersenyium,lalu duduk bersila menghadap kerombolan manusia itu. Dibelakangnya ada beberapa sosok bayangan manusia yang sangat kami kenal. Secara serentak orang-orang sangat mencium tangannya,lalu kembali ketempat masing-masing .
“ Randi kenapa orang tua kita disini ?”
“ Bukan Cuma itu,lihat dibelakangnya,kepala desa,tua adat dan para rato juga ada!”
“ jadi ini alasan, kita larang masuk kedalam hutan ?”
“ entahlah.”

Sosok itu sangat terang, wajahnya putih bersih dan berseri,suasana hening kembali. Secara perlahan menutup kedua matanya,mulutnya komat-kamit, sekitar lima belas menit kemudian,ia membuka matanya, dan tersenyium.
“ hidup yang mulia.”
“saudara- saudaraku tolong sebut permintaannya satu persatu.”
“ Aku ingin kaya.”
“ Aku inggin panen yang melimpah.”
“Aku ingin naik jabatan.”
“ Aku ingin menang judi.”
“Aku ingin usahaku sukses.”
“ Aku ingin angka bagus.”
Ruangan menjadi gaduh.
“Randi bagaimana ini?”
“Aku tidk mengerti apa yang terjadi!”
Pembicaraan kami belum habis,tampak bayangan manusia berdiri disamping kami berdua,wajah kami pucat,belum sempat berpikir,secepat terkaman macam,sosok itu mencoba menangkap kami.sekuat tenaga kami berlari, dua orang itu terus mengejar kami,hingga kami kehabisan tenaga,aku dan Joni jatuh saat melewati jalan agak curang,kesadaranku menipis tapi masih semangat melihat Joni yang pingsan karena kepalanya terbentur batu,sedangkan dua orang sosok manusia sudah berdiri.

            “Aku tidk mengerti apa yang terjadi!”

   Pembicaraan kami belum habis,tampak bayangan manusia berdiri disamping kami berdua,wajah kami pucat,belum sempat berpikir,secepat terkaman macam,sosok itu mencoba menangkap kami.sekuat tenaga kami berlari, dua orang itu terus mengejar kami,hingga kami kehabisan tenaga,aku dan Joni jatuh saat melewati jalan agak curang,kesadaranku menipis tapi masih semangat melihat Joni yang pingsan karena kepalanya terbentur batu,sedangkan dua orang sosok manusia sudah berdiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 













  • view 34