Sanitasi kebutuhan utama yang terlupakan

Ainna Fisabilla
Karya Ainna Fisabilla Kategori Kesehatan
dipublikasikan 02 September 2016
Sanitasi kebutuhan utama yang terlupakan

Salah satu dari tujuh belas poin SDGs yang dicanangkan oleh PBB adalah kesetaraan akses air bersih dan sanitasi dasar. Hal ini menjadi point penting dalam SDGs karena air bersih adalah kebutuhan mendasar bagi setiap orang dan juga termasuk ke dalam hak asasi manusia. Ada lebih dari 1.8 milyar orang di dunia yang  mengonsumsi air yang tidak bersih , dan  ada 2.4 milyar orang di dunia yang tidak memiliki aksessama sekali kepada sanitasi dasar.

 Indonesia sendiri masih menjadi negara dunia ketiga yang mana tingkat sanitasinya tidak sebaik negara tetangga terdekat seperti Malaysia dan Singapura. Padahal sebagaimana dipaparkan dalam SDGs, pada tahun 2030 Indonesia harus dapat memenuhi target akses 100% sanitasi dasar kepada penduduknya. Hal ini diturunkan dalam RPJMN 2015 – 2019 karena dibutuhkan investasi sebesar 273,3 triliun rupiah agar dapat mencapai target tersebut. Investasi ini dapat berasal dari dana APBN, APBD, Partisipasi masyarakat dan pihak lainnya.

Sanitasi sebagai kebutuhan dasar seharusnya menjadi sesuatu yang inklusif bagi pemerintah itu sendiri karena sanitasi sangat berdampak pada kehidupan lainnya. Ketiadaan sanitasi dasar, jamban pada khususnya, menyebabkan penyakit yang cukup fatal, salah satunya adalah diare. Transmisi penyakit dari feses menuju makanan yang dibawa oleh lalat adalah penyebab utamanya. Walau terlihat sangat sepele, diare adalah penyakit pembunuh nomor satu bagi anak dibawah lima tahun di Indonesia. Ketidakpunyaan jamban, membuat masyarakat sekitar melakukan buang air besar sembarangan, di kebun maupun di sungai.

Buang air besar sembarang (BABS) adalah salah satu masalah terbesar sanitasi di Indonesia karena kita adalah nomor dua terbanyak melakukan BABS setelah India. Masalah BABS di Indonesia disebabkan oleh dua hal utama, yaitu ketidakmampuan finasisal dan budaya. Lebih jauh lagi, setelah saya analisa, budaya memiliki peranan yang lebih besar dibandingkan masalah finansial. Banyak dari masyarakat Indonesia yang telah memiliki parabola di rumahnya, namun tetap tidak memiliki jamban.

Hal ini terjadi karena ketidaksadaran mereka tentang pentingnya jamban. Mereka tidak meletakkan jamban sebagai prioritas kehidupan mereka. Mungkin bagi sebagian besar orang itu  terlihat, aneh, namun ini terjadi karena mereka telah terbiasa melakukan hal tersebut sehingga mengakar dan jadilah budaya. Sehingga, yang seharusnya dirubah adalah cara berpikir mereka. Bagaimana kita dapat menyadarkan mereka tentang pentingnya memiliki jamban. Bagaimana kita dapat mendobrak kebiasaan tersebut.

Tentu merubah itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, banyak tahap yang harus dilakukan. Namun, sejauh yang saya tahu dari beberapa literature yang saya baca, metode CLTS (Community Led Total Sanitation)adalah metode yang paling tepat untuk memberantas kebiasan BABS. Pada metode ini, masyarakat diberikan heli view sehingga dapat melihat secara holistic tentang bahaya BABS. Metode ini tidak seperti penyuluhan konvensional yang menggurui, metode ini menuntut partisipasi aktif masyarakat sehingga dengan sendirinya masyarakat tersadar akan kebiasaan buruk ini.

CLTS atau STBM (sanitasi total berbasis masyarakat) di Indonesia, merupakan hal yang sangat penting dan harus dapat di duplikasi di daerah-daerah lain di Indonesia, agar Indonesia bebas buang air besar sembarangan 2030 tidak akan hanya sebagai wacana saja. Karena sesungguhnya masalah sanitasi - khususnya eliminasi- menjadi kebutuhan mendasar yang bahkan disepakati oleh Abraham Maslow.

  • view 202