Di Kejar Babi Hutan

Ai Fika Rohmatillah Romdoni
Karya Ai Fika Rohmatillah Romdoni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Maret 2018
Di Kejar Babi Hutan

Pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya yaitu ketika saya duduk di bangku sekolah Dasar. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 2008, pada saat itu saya adalah seorang siswa kelas 6 sekolah dasar.

Masyarakat di kampung tempat dimana saya tinggal  memiliki kebiasaan atau terbiasa mencuci dan mandi di sungai.  Pada saat itu seperti biasanya setelah pulang sekolah saya main ke rumah teman saya Siti. Siti adalah teman sekelas saya yang  rumahnya dekat dengan saya. Pada saat itu saya sama Siti bermain di rumah Siti. Karena merasa bosan terus berdiam diri di rumah dan kebetulan pada saat itu orang tua saya tidak ada di rumah  akhirnya saya dan Siti memutuskan untuk main di sungai untuk menangkap ikan-ikan kecil yang kemudian akan di masukan ke dalam empang-empangan kecil yang kami buat di sungai. Sungai yang saya datangi itu tidak jauh dari rumah saya dan Siti. Hanya beberapa menit saja jalan kaki kita sudah sampai di sungai.

Sebelum pergi ke sungai, saya dan Siti menyiapkan peralatan yang di butuhkan untuk menangkap ikan. Saya membawa saringan kecil untuk dijadikan alat untuk menangkap ikan, dan siti membawa piring kecil sebagai tempat untuk menyimpan ikan sebelum ikan tersebut di masukan ke dalam empang kecil yang kami buat.

Pada saat itu kira-kiara pukul 2 siang. Siang menjelang sore. Pada saat itu cuaca lumayan panas karena pada saat itu tengah musim kemarau. Sehingga air di sungai surut dan apabila air sungai surut maka di dalamnya terdapat banyak ikan termasuk ikan-ikan kecil yang biasa di cari oleh anak-anak dan masyarakat di kampung saya.

Setelah kami sampai di sungai. Di sungai sangat ramai karena seperti yang telah di sebutkan di atas bahwa masyarakat di kampung saya  menggunakan sungai untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci baju, piring dan mandi. Pada saat itu banyak sekali warga yang tengah beraktifitas. Seperti ada ibu-ibu yang sedang mencuci piring, baju dan mandi. Selain ibu-ibu ada juga bapak-bapak yang tengah berlalu lalang menyebrangi sungai untuk pergi ke sawah, pulang dari sawah, dan juga ada bapak-bapak yang tengah mengambil pasir dan mengangkat batu-batu ke dalam mobil  serta mengurus empang yang mereka buat di sungai. Selain orang tua, di sungai juga banyak sekali anak-anak yang tengah bermain, mandi dan juga menangkap ikan.

Setelah saya dan Siti sampai di sungai, tanpa berfikir panjang lagi kami langsung berkeliling mencari tempat yang banyak ikannya. Kami berkeliling kesana kemari mencari ikan -ikan kecil yang tengah berenang kesana kemari. Setelah kami mendapatkan ikan yang cukup banyak kami meletakan ikan-ikan tersebut ke dalam empang yang kami buat. Hal anichs menerus kami lakukan setiap kami mendapatkan ikan yang banyak.

Ketika kami sedang asyik-asyiknya berkeliling untuk mencari ikan-ikan kecil yang sedang berenang. Saya menemukan sesuatu berupa gantungan kunci yang berbentuk motor-motoran yang sangat bagus. Kami berdua sangat mengagumi gantungan kunci tersebut. Ketika kami tengah mengagumi gantungan kunci tersebut kami melihat anak-anak yang tengah bermain dan bapak bapak yang sedangg mengangkut pasir berlari-lari sambil berteriak-teriak. Namun kami tidak memperdulikannya, kami hanya berfikir bahwa mereka itu sedang bermain kejar-kejaran.

Setelah puas mengagumi gantungan kunci tersebut kami hendak berkeliling lagi untuk mencari ikan-ikan kecil, tanpa di sengaja saya melihat binatang yang sangat besar, hitam dan menyeramkan tengah berlari ke arah kami. Seketika itu pun aku bertanya pada Siti binatang apakah itu, dan ternyata binatang yang berlari ke arah kami adalah babi hutan yang sangat besar dan liar turun dari hutan ke sungai karena kehausan.  Seketika itu juga kami berlari dari tempat tersebut. Ketika kami tengah berlari kami bertemu dengan seorang nenek-nenek yang hendak menyebrangi sungai. Kami memberitahu nenek tersebut bahwa ada babi hutan yang berlari ke arah kami. Seketikan nenek tersebut berlari kencang menyebrangi sungai ke arah sawah. Bodohnya kami, kami tidak mengikuti nenek-nenek tersbut berlari ke arah sawah. Kami terus  berlari ke depan ke arah perkampungan  dan babi hutan itu pun terus mengejar kami. Warga-warga yang tengah mandi, mencuci, dan sebagainya beteriak pada kami untuk terus berlari ke arah mereka. Namun, kami tidak menghiraukan mereka. Karena panik kami terus berlari  hingga pada saat itu karena terlalu panik saya sempat meninggalkan Siti dan pergi ke arah atau jalan yang menuju perkampungan. Siti berteriak pada saya untuk menunggunya dan dia pun memberitahu saya bahwa jalan  yang saya pilih adalah jalan buntu. Saya panik mencari jalan keluar sementara itu siti tengah ketakutan karena dia masih berada di selokan dan babi hutan itu sedikit lagi sampai pada dia.

Karena batu-batu yang berada di selokan itu licin, Siti pun terjatuh dan babi hutan  itu pun berlari ke jalan yang lain dan kemudian berlari ke arah perumahan atau perkampungan tempat kami tinggal. Banyak warga yang mengejar babi tersebut karena khawatir akan mengganggu anak-anak yang tengah bermain. Sementara warga mengejar babi hutan tersebut. Kami berdua dengan kaki yang gemetaran dan panik langsung berlari ke arah jalan pulang yang lain. Kami berdua lari ke rumah saya. Kebetulan orang tua saya belum pulang. Seketika sampai di rumah saya, saya dan Siti langsung mengunci pintu dan bersembunyi. Sementara itu ternyata babi hutan tersebut berlari ke kebun yang dekat dengan rumah saya dan Siti. Warga kemudian berhasil menangkap babi hutan tersebut.

Selang beberapa hari setelah kejadian tersebut, saya merasa sangat ketakutan jika pergi ke sungai sendirian. Satu minggu saya merasakan hal tersebut. Setiap saya pergi ke sungai ketika mendengar suara orang yang berteriak saya merasa panik dan takut dan seketika melihat ke berbagai arah karena takut kejadian tersebut terulang lagi. Kejadain tersebut juga membuat saya dan Siti di olok-olok oleh teman sekelas kami, tapi kami tidak memperdulikan perkataan mereka, kami hanya tertawa ketika mereka mengolok-olok kami tentang kejadian tersebut.

Selang beberapa hari setelah kejadian tersebut saya dan Siti pergi ke sungai berdua, dan kami mengingat-ingat kejadian itu. Tanpa disadari ketika kami pergi ke sungai,  ternyata kami memakai baju yang sama seperti saat kami sedang di kejar babi hutan. Saya dan siti pun kaget dan kami pun langsung berlari pulang sambil tertawa terbahak-bahak.  

  • view 71