Jika Ia Bukan Suami Terbaik di Dunia

Afif Luthfi
Karya Afif Luthfi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Februari 2016
Jika Ia Bukan Suami Terbaik di Dunia

Banyak sekali teman-teman saya yang bilang bahwa SMA adalah masa-masa terbaik saat sekolah. Saya setuju. Tapi kalau boleh bertanya, apa anugerah terindah dari seorang murid yang baru masuk SMA? Bisa jadi itu adalah: Sekolah yang bagus, teman-teman yang menyenangkan, guru-guru yang baik, kegiatan yang seru, dan perasaan bahagia ketika mulai merasakan ?cinta? kepada seseorang. Dengan segala kenangan dan perasaan yang tercurah selama bersekolah di sana bertahun-tahun lamanya, saya yakin sekolah itu telah menjadi sekolah terbaik dalam hidupmu walau statusnya biasa-biasa saja dalam penilaian nasional. Bagaimana tidak, perjuangan, kasih sayang, hal konyol, suka dan duka pernah dirasakan semuanya.

Suatu hari ia akan lulus dengan perasaan bangga sekaligus berat hati mengenang semua hal yang pernah ia alami di sekolah itu selama bertahun-tahun. Perpisahan pasti terjadi dan beberapa orang menyesal mengapa saya waktu itu tidak melakukan semua upaya terbaik, mengapa saya kurang bergaul, mengekspresikan diri, meraih prestasi-prestasi. Namun jangan heran, ada juga teman-teman kita yang biasa-biasa saja dalam studi, bahkan terbilang lebih sering main, baginya sekolah itu adalah tetap sekolah terbaik. Darinya banyak kesenangan dan sahabat-sahabat yang didapat.

Bagaimana jika hal yang sama terjadi pada suamimu. Di pikiran masing-masing wanita, ada dunia dengan segala standarnya sendiri. Mereka tahu persis mana yang ideal, mana yang sebaiknya, mana yang seharusnya (ada) pada diri seseorang yang disebut suami. Pernikahan ibarat memasuki sekolah baru tempat belajar. Babak baru dalam hidup. Dan kedua pasangan ini akan terus saling mengenal hingga mereka menemui perpisahan di akhir usianya.

Bagaimana jika ia bukan suami terbaik di dunia. Dengan segala hal yang ideal di dalam standar keharusanmu. Ternyata dia bukan seorang yang humoris, jarang sekali membuatmu tertawa. Bahkan saat engkau bercerita kepadanya, ia tampak tidak mengerti sepenuhnya perasaanmu meski ia mendengarkan dengan penuh cinta. Sesekali ia belajar memutuskan sebuah tindakan dan engkau merasa kecewa karena kekurangpekaannya. Namun pada akhirnya, tertawa bersama menjadi obat segalanya, pelerai semua kegelisahanmu, pembahagia keindahan jiwamu.

Bagaimana jika ia bukan suami terbaik di dunia. Dengan segala hal yang sempurna di dalam kriteriamu. Ternyata dia bukan seorang pegawai berpangkat tinggi, impiannya membersamaimu pergi ke luar negeri dengan kerja kerasnya. Bahkan saat engkau mulai bosan harus mencintai orang yang sama setiap hari, ia terus mencari cara agar senyummu selalu ada setiap pagi. Sesekali ia belajar bagaimana caranya romantis, namun engkau kecewa karena tidak pernah ada setangkai bunga. Namun pada akhirnya, malaikat tahu bahwa setiap malam ia mengecup keningmu, mendoakanmu, memupuk cinta bersama kesabarannya.

Bagaimana jika ia bukan suami terbaik di dunia. Dengan segala hal yang semestinya begini dan begitu di dalam benakmu. Ternyata ia masih harus diberitahu, dinasihati, didekap, dan didukung, sering sekali membuatmu mengeluh. Tanpa terasa, engkau menua bersamanya. Lalu sambil menyelimuti dirinya yang terlelap di atas meja, engkau tersenyum dan berteman dalam hening. Mendengarkan suara hati yang terus bersyukur, bahwa setiap detik dengannya adalah kebahagiaan terindah. Sekaligus perasaan menyesal mengapa waktu berlalu begitu cepat. Sepertinya banyak hal yang masih ingin dilakukan bersamanya. Senja selalu menjadi waktu yang paling spesial antara aku, dia, teh manis, obrolan hangat, dan matahari yang mulai kuning meredup.

Aku telah berubah pikiran, batinmu berbisik. Aku hidup sepenuhnya dengan segala perasaanku padamu. Hingga kita berpisah aku baru menyadari, bahwa engkau adalah suami terbaik di dunia, pelengkap yang paling sempurna, dengan segala kekurangan dan kelebihan, dengan segala canda, dengan segala rindu, dengan segala duka, yang mengalir pada sebuah laut yang sama bernama cinta. Cinta dari dua hati yang berlayar.

Afif Luthfi

Dilihat 224