Trainer Story #2 - KESALAHAN TERBESAR

Afif Luthfi
Karya Afif Luthfi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Januari 2017
Trainer Story #2 - KESALAHAN TERBESAR

Okay, jadi sudah bisa nebak belum apa kesalahan terbesar saya? (Plis jangan singgung tentang kumis, uban, umur, dan jodoh) karena itu sama sekali banyak hubungannya! Hehehe.
 
Kesalahan terbesar saya adalah:
 
Saya ngga ngerti apa yang saya lakuin. Waktu itu saya belum bisa membedakan antara motivator dan trainer. Buat saya, kedua hal itu sama saja. Toh publik juga banyak yang menganggap serupa. Pokoknya kalau saya diundang untuk bicara memberikan inspirasi, berarti saya adalah trainer, juga boleh dibilang motivator. Ternyata saya juga engga ngerti apa bedanya training, coaching, consulting, counseling, dan mentoring. Gubrak!
 
Memang bedanya apa, kang?
 
Saya terangkan sedikit ya supaya temen-temen juga bisa menyamakan persepsi, simpelnya begini:
 
a. Training adalah upaya terencana untuk memfasilitasi pembelajaran orang lain terkait kompetensi (knowledge, skill, attitude) di pekerjaannya. Training mengandung aktivitas berlatih, untuk apa? untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dibutuhkan. Ok? sekarang begini contohnya, misalkan ada acara bernama training motivasi, maka setidaknya ketiga aspek ini harus jelas: Pengetahuan apa yang diberikan? Kemampuan apa yang dilatih? Sikap apa yang coba ditanam? Jikalau ada training public speaking tapi yang lebih banyak bicara adalah “trainernya”, apakah bisa disebut training? Training Menjemput Jodoh, kira-kira apa yang dilatih?
 
b. Coaching ini pendekatannya khas. Coaching bisa disebut sebagai seni memfasilitasi pembelajaran seseorang melalui percakapan di mana coach lebih banyak mengajukan serangkaian pertanyaan terstruktur daripada arahan / nasihat. Seorang coach tidak memberikan solusi tapi justru lebih banyak menggali. Solusi justru datang dari coachee-nya (sebutan untuk orang yang di-coach).
 
c. Consulting lebih kepada pemberian saran/nasihat oleh konsultan untuk memecahkan suatu masalah berdasarkan pengetahuan atau model (framework) yang terbukti berhasil menjadi solusi dalam bidang keahlian tertentu.
 
d. Counseling adalah upaya bantuan koselor kepada kliennya untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaan di masa depan yang dapat ia ciptakan dengan potensinya. Konseling lebih membahas masalah psikologis dan pribadi yang berkaitan dengan situasi emosional kliennya.
 
e. Mentoring adalah aktivitas membagikan pengetahuan dan keterampilan dari mentor kepada mentee di mana mentor harus lebih berpengalaman (expert) dibanding menteenya yang punya pengalaman lebih sedikit.
Nah, sekarang sudah mulai terang benderang, kan? :)
 
Dari segi profesi, motivator berarti pekerjaan seseorang dalam memberikan nasihat, insight, ide, pencerahan sehingga muncul “Aha Moment”-nya dari seseorang. Apakah pencerahan itu bisa muncul atau tidak tergantung pada orang tersebut, apa yang paling memotivasi dia? Tidak bisa disamaratakan. Maka dari itu banyak orang yang ketika ikut acara “training motivasi”, besoknya semangat, minggu depan biasa lagi. Acara motivasi itu seperti mandi. Jangan sering-sering, cukup saja, yang penting banyak action-nya. Motivator ini murni public speaker. Namun dari segi aktivitas, seorang trainer bisa sekaligus memotivasi orang lain (saat itulah ia berperan sebagai motivator).
 
Kesimpulannya, jika kamu ingin menjadi pembicara, tentukan dulu mau menjadi apa? Sehingga jelas peran dan tanggung jawabnya. Jangan asal sebut training, padahal cuma seminar. Jangan asal jadi trainer, padahal motivator. Semoga bermanfaat :)
 
Afif Luthfi

  • view 192