Hijrah Itu Sakit, Hijrah Itu Nikmat

Afif Luthfi
Karya Afif Luthfi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 September 2016
Hijrah Itu Sakit, Hijrah Itu Nikmat

Setan mana yang rela melihat hamba Allah dengan mudahnya melenggang hijrah ke jalan yang lebih baik. Jawabannya adalah tidak ada. Setan akan cemburu, sakit, geram dan akan melakukan usaha apapun agar hamba-Nya batal berubah menjadi insan yang lebih baik. Minimal, dengan bisikan halusnya ia akan merelakan seseorang “hijrah” tapi dengan niat yang melenceng yaitu ingin dilihat baik oleh manusia.
 
Siapa sangka, ternyata bukan setan saja yang merasa sakit. Kita sebagai orang yang sedang dalam proses hijrah pun dapat mengalami rasa sakit meski berbeda bentuk. Suatu saat akan ada teman yang tetap mencibir dan mengata-ngatai kita dengan tendensi negatif, terus menghakimi kita tentang masa lalu, seolah-olah apa yang kita usahakan untuk berbenah diri adalah hanya membuat topeng, mengada-ada, busuk dan cuma sebuah kepura-puraan. Rasanya sakit, bukan?
 
Jangan salah, proses hijrah banyak godaannya. Apakah engkau akan mengatakan begitu saja bahwa engkau beriman sedangkan Allah tidak akan menguji? Begitu firman Allah. Bisa jadi engkau sudah berusaha move on dan melupakan masa lalu tapi ada saja yang terus mengungkit-ungkit kesalahanmu, seolah-olah masih terjadi sampai sekarang. Apa yang engkau lakukan di tahun 2016 ini akan selalu ia nilai sebagai engkau yang masih di beberapa tahun silam. Masih pribadi yang sama. Entah ada berapa gunjingan yang tak engkau dengar di luar sana, bertebaran bagaikan api yang menjalar dan membakar semak kering dengan begitu mudahnya.
 
Aku meyakini bahwa semua orang punya suatu peristiwa di masa lalu yang pernah jadi noda hitamnya. Rekam jejak buruk itu barangkali sering menjadi bayang-bayangnya di setiap sujud, di setiap malam, menjadi penyesalannya yang paling dalam. Sampai ia sudah tidak bisa apa-apa lagi selain berserah dan memohon ampun. Orang yang seperti inilah yang butuh dukungan kita sesama muslim. Menuntunnya, menguatkannya, menjadikannya sahabat untuk sama-sama lebih dekat kepada Allah Yang Maha Penyayang. Kita belum sampai dilempari kotoran seperti baginda Nabi, kan? Bertahanlah, Allah tidak tidur. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa : 100)
 
Bertahanlah, suatu saat kita akan merasakan manisnya iman, manisnya hijrah. Allah akan mengumpulkanmu dengan orang-orang yang baik meski engkau harus sembari menangisi masa lalu yang ingin sekali diperbaiki. Berdoalah agar kita tetap diteguhkan hati dan dibimbing ke mana pun kita pergi. “Yaa muqollibal quluub tsabbit qalbii ‘ala diinik.”
 
Mendapat kehidupan baru yang lebih baik memang tidak mudah karena syaratnya adalah mengubah diri sendiri. Tapi suatu saat kita akan merasakan lezatnya kasih sayang Allah. Sebentar lagi, sedikit lagi. Daripada mempertanyakan seseorang yang sedang berusaha hijrah, lebih baik kita berhusnuzon, mendukung, dan mendoakannya.
 
Mari kita saling menguatkan dengan santun, menuntun, mengingatkan dengan cara yang anggun. Ya? :’)
 
Afif Luthfi