GALAU (Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan)

Afif Luthfi
Karya Afif Luthfi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 September 2016
GALAU (Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan)

Apakah kamu GALAU karena orang tua lebih menyetujui pernikahanmu dengan A daripada pilihanmu yaitu B? Bagaimana mengatasinya?

Sambil saya menjawabnya, perhatikan dengan saksama hal-hal berikut. Jika ini terjadi pada pria tentu kamu tidak boleh menikah jika wali dari perempuan tidak merestuinya. Maka yang perlu kamu dapatkan adalah jelas, restu dari wali.

Ada yang langsung mendapat restu begitu taaruf, alhamdulillah. Ada yang harus ikuti syaratnya dulu, misalnya harus solat subuh berjamaah di masjid selama sebulan tanpa putus kayak film pendek "Cinta Subuh 3", hhe. Ada yang harus hapal surat-surat di dalam Al Quran. Juga harus sudah dapat pekerjaan. Macem-macem. Ya, selama masih bisa diusahakan, perjuangkan. Kalau bukan hal yg melanggar prinsip, berdasar, bisa diikhtiarkan, lakukan semampunya. Orang tua yang lebih mengerti tentu lebih paham bahwa syarat meminang itu sebetulnya sederhana. Selama agamanya bagus, hal-hal yang lain itu bisa diusahakan sambil berjalan. Insya Allah rezeki setelah menikah itu mengalir. Allah yang janji. Jangan khawatir.

Masalahnya kami sudah saling mencintai tapi orang tua tetap tidak setuju, mereka lebih memilih si dia, pria lain. Bagaimana?

Pertama, coba kamu gali lagi dari orang tua bagian mana yang membuat belum setuju. Lalu apa yang bisa membuatnya setuju. Jika masih bisa dikomunikasikan dan dinegosiasikan, lakukan. Coba diusahakan.

Kedua, tetaplah santun selama membangun pengertian dengan orang tua. Jangan sampai jadi naik emosi.

Ketiga, jika keinginan dari orang tua tidak masuk akal berarti mereka hanya memberikan ketegasan lewat isyarat lain bahwa mereka tetap tidak setuju kecuali ada sesuatu yang menguntungkan mereka. Ada yang seperti itu. Jangan memaksakan diri untuk memenuhinya.

Keempat, ternyata kamu tetap tidak dapat restu dari orang tua maka mendekatlah lagi pada Allah, ikhlaskan. Karena kamu pasti butuh waktu banyak dan kekuatan besar untuk mengikhlaskan. Jangan sampai ribut lalu melakukan sikap durhaka kepada mereka. Yakinilah itu yang terbaik dari Allah. Bisa jadi kita tidak mengetahui sedangkan Allah lebih mengetahui bahwa ada yang lebih baik dan lebih tepat tapi kita belum lihat. Atau Allah ingin menghindarkan kita sari sesuatu yang belum kita tahu. Berprasangka baiklah. Meski tidak mudah tapi tidak ada jalan yang lebih baik selain berserah kepada-Nya. Mungkin jodohmu akan tetap dia, tapi persetujuannya datang di waktu yang lain. Tidak ada yang tahu.

Karena menikah lalu orang tua juga tidak ridho buat apa. Khawatir tidak mendatangkan keberkahan.

Namun kita sebagai calon orang tua selanjutnya ingatlah ini. Sejak awal bangunlah komunikasi dan keterbukaan bahkan sejak ia sudah mulai dewasa, tentang jodoh dan masa depan. Bangun kedekatan dari hati ke hati. Anak yang akan menjalani pernikahan berhak memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya, lalu kita serta merta membimbing dan mengarahkannya kepada sebaik-baiknya pilihan. Pengertian itu agar terbangun sejak lama, saling memahami dan mengerti apa yang anak mau.

Sebelum "sah" terucap, tetap jaga hati dan senang sewajarnya. Begitulah jika berurusan dengan perasaan dan cinta pada makhluk, akan ada kemelekatan, ketergantungan, dan keterikatan, fana. Hanya jika kita kembali mengharap ridho-Nya, kepasrahan itu akan melerai dan mengurai semua kemelekatan. Berdoalah agar Allah hanya jatuh cintakan hati ini kepada jodoh sebenarnya.

Afif Luthfi

 

sumber gambar