Dialektika Ihwal Pernikahan

Afifah  Khoirunnisa
Karya Afifah  Khoirunnisa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 April 2018
Dialektika Ihwal Pernikahan

Sudah lama sekali saya ingin menuliskan ini. Sebuah topik yang sedikit sensitif dibicarakan. Yap, pernikahan. Beberapa waktu lalu sempat lihat videonya gitasav “What I Think About Marriage”. Lalu membaca salah satu thread viral di twitter seputar “nikah muda – following the trend atau keputusan dari hati?” Pendapat mereka saya sepakati.

Berangkat dari kebosanan menanggapi beberapa teman yang akhir-akhir ini membahas topik soal pernikahan. Hingga semakin akrab dengan pertanyaan semacam, target nikah usia berapa, ideal type someone yang akan jadi future husband, punya anak berapa, nikahnya kayak gimana dsb. Saya nggak menampik, di usia 21+ obrolan seperti ini akan menjadi menu utama atau selingan ketika bertemu dengan siapa aja. Bahkan akan semakin bervariasi saat mendekati usia 25+.

Problematika Perempuan

Perempuan. Masyarakat awam masih menggariskan ideal age perempuan menikah, karir dan pendidikan beserta pandangan khusus lainnya. Sedikit intermezzo, saya kadang kerap kesal ketika ada orang yang bilang,

“Perempuan itu jangan sekolah tinggi-tinggi. Toh juga pasti bakal balik ke dapur. Udah cukup S1 aja. Atau SMA juga ga apa-apa. Kerjanya nggak usah muluk-muluk”
“Tuh liat si A usianya udah 28 tahun nggak nikah-nikah. Yaiyalah ambil S2 dulu. Laki-laki bakalan mundur teratur karena pendidikannya lebih tinggi.”
“Kalau perempuan punya jabatan tinggi terlebih pendidikannya pun bisa payah, laki-laki (suaminya) bakal diremehin dan nggak dihargai”

Justifikasi tersebut melekat pada beberapa orang yang hanya melihat suatu realitas dalam dimensi yang kecil saja – dari sekitarnya. Sehingga tidak menilik realitas lainnya. Kesetaraan gender memang sudah digaungkan R.A Kartini sejak lama tapi seakan-akan masih dibuat kabur dengan batasan-batasan tertentu. Ah, lagipula nggak semua perempuan akan berlaku seperti itu, jika dia memaknai kodratnya secara utuh. Karena bagaimana pun laki-laki tetaplah pemimpin, bukan?

Dalam kepercayaan orang jawa, perempuan dianjurkan menikah di bawah usia 25 tahun. Wajar, kala itu nenek saya mengalami situasi perjodohan di usia belia. Sekarang jaman sudah berkembang, sayangnya pola pikir masyarakatnya belum berkembang (dalam satu sisi lho ya). Saya mengatakan begini karena merasakan suatu hal yang kotradiktif pasca lulus sebagai sarjana.
Baru satu bulan lulus, tak kunjung mendapat pekerjaan tetap, harus menelan cuap-cuap dari tetangga, “Nggak usah kerja nggak apa-apa. Nikah aja. Udah pas umurnya. Cari laki-laki yang mapan kamu ntar hidup bahagia.” (dalem hati, yaelah bu semua solusinya ke nikah-nikah mulu deh ya semenjak diriku nggarap skripsi)

“Waduh anaknya Bu, sudah gadis. Bentar lagi mantu nih. Ditunggu undangannya ya” (Weleh calon aja belum punya)

Masalah perempuan making a decision untuk jalan hidupnya seperti, berkarir lebih dulu, mengenyam pendidikan, berumahtangga, atau sebaliknya harus dipahami sebagai pilihan murni tanpa ada intervensi dari siapapun. Mengapa terlalu ambil pusing untuk ikut mengurusi, toh yang menjalani pilihan tersebut ya perempuan itu sendiri.

Esensi Pernikahan

Oke, jadi nikah itu apa? Pernikahan menurut saya pribadi adalah suatu ikatan janji yang sakral, komitmen tertinggi antara diri kita, pasangan dan Tuhan. Pertanggungjawabannya lebih bertingkat. Jadi nggak bisa dijadikan lelucon like, do you want to be my girl/boy friend? No. Atau pernikahan hanya dijadikan ajang menantang keseriusan namun tak berlanjut ke pelaminan. Jangan juga ya.. (Hellooo anak orang, jangan dimainin perasaannya)

Nikah itu bukan sekadar halal, bukan semata cinta, bukan perkara harta ataupun tahta. Dimensi pernikahan lebih luas. Keseragaman visi & misi perlu, bagaimana dia (pasanganmu) mampu menerima your strength and weakness, berjalan beriringan dan bisa mengelola emosi dengan bijak. Karena nanti, akan melibatkan diri kita pada aspek-aspek yang jauh lebih kompleks dibandingkan semasa kita lajang. So, kalau ingin memutuskan menikah, ada baiknya banyak berkonsultasi dengan mereka yang usia pernikahannya lama (re: misal orang tua).  Perlu banyak menelaah ilmunya pula.

“Heh, jangan main-main sama nikah. Jangan asal pingin. Tapi kamu buta. Ngertinya bakal happy ending kayak di dongeng-dongeng. Keliru. Kamu justru bakal ngerasin roller coaster kehidupan yang sebenarnya. Dua kepala, silang karakter tapi harus bisa saling bekerja sama. Nikah itu panggilan hati. Kan bagian dari ibadah juga. Emang udah beneran siap?” (petuah terbaik dari ibu)

Dulu waktu remaja, saya mempunyai target menikah di usia 25 tahun dengan future husband yang mungkin lebih ke orientasi fisik (tinggi, anak basket/teknik, mancung, berkacamata, alis tebel, good looking, rapi) dengan sifat baik/sholeh, perhatian, romantis, tanggungjawab. Dulu masih mikir nikah itu bakal enak. Jalan berdua kemana-mana nggak perlu takut. Tinggal di suatu pulau. Duh halu nih haha. Sekarang udah segede ini baru nyadar kalau nikah itu ya ada pasang surutnya. Dan nggak bisa egois mengeratkan hubungan berdua saja tetapi juga hubungan antar keluarga besar.

Makin ke sini saya nggak lagi berpatok pada target usia tersebut. Makin ke sini bisa mikir bahwa fisik nggak menjamin apa-apa. Dan makin ke sini saya sadar bahwa segala ekspektasi akhirnya runtuh, karena kunci utama adalah mendapatkan sosok yang mampu menerima diri kita apa adanya. Tanpa banyak tuntutan harus begini begitu. Tetapi, banyak belajar dan mempelajari bersama-sama.  Pun ditambah dengan kenyamanan hati yang membawa pada keyakinan,  Oh, He/She is my right person.

Banyak yang bilang saya aneh. Ada temen nikah, lamaran, nyebar undangan , foto prewedding dll nggak merasa baper. Apakah efek karena pernah merasakan patah hati? Hmm mungkin. Saya yakin, setiap orang akan dipertemukan jodohnya di waktu yang tepat. Masalah temen sebaya yang menikah sih, biarlah duluan aja. Ikut berbahagia. Sedangkan saya masih ingin berpetualang, mencari ilmu, memperbaiki kualitas diri dan berkarya tentunya. Karena mencapai satu babak kehidupan baru bukanlah sesuatu yang sepatutnya diperlombakan.

“Kalau nanti usia 25+ belum juga dapet pasangan gimana, kamu nggak galau? Cewek lho, kan jadi omongan orang-orang.”

Saya nggak bisa mengukur idealisme di usia 25+ nanti, karena pasti akan ada satu hal yang sedikit bergeser. Namun, bisa juga tidak. Saya pun juga nggak terlalu mengejar. Biar mengalir tapi nggak sampai membuat diri terlampau hanyut. Hanya menyakinkan diri saya dan berusaha untuk terus berprasangka baik dengan Yang Diatas. Karena galau itu isyarat kalau kita gampang depressed sama suatu hal. Padahal itu buah dari perbuatan pikiran kita sendiri. (Percaya, deh akan ada waktunya)

Menikah At The Young  Age
 
Di tahun 2016 gencar kampanye media sosial dari akun-akun dakwah mengenai gerakan nikah muda. Fenomena ini semakin gencar, setelah banyak pemuda-pemudi menikah di usia muda dan menjadi viral. Mereka cepat menjadi sorotan. Kisah inspiratifnya tak tertahan membuat siapapun iri atau baper. Saya nggak mempermasalahkan, keputusan seseorang untuk menikah muda. Yang perlu ditelaah lebih lanjut adalah jalan hidup dari setiap pasangan. Ya katakanlah mereka menikah dengan kondisi finansial yang belum mumpuni. Tapi berkat keberaniannya menikah muda, membagikan kisahnya sampai viral. Lalu sukses menjadi selebgram misalnya. Semua orang follow up. Apakah mereka pun akan jadi selebgram juga dan tenar? Belum tentu. Apakah semua memiliki kapasitas menebarkan inspirasi. Bisa jadi. Namun, keberuntungan masing-masing memiliki jalur yang berbeda.
 
Saya agak kurang setuju dengan campaign ini meski pesannya bagus mencegah keinginan anak muda untuk pacaran. Yang tidak saya suka adalah cara penyampaiannya yang terkesan provokatif. Jika diamati segala macam postingannya sebatas repetisi yang melingkar pada itu-itu saja. Padahal, message reception tiap orang akan berbeda-beda. Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap postingan. Padahal, harus diimbangi dengan realitas nyata. Bahwa menikah harus berlandas pada mampu (secara finansial dan tanggungjawab). Pun secara lahir dan batin. "Lho Yang Diatas akan menjamin rejeki kita kalau menikah". Jelas saya tahu. Menyoal kesiapan ditanyakan sekian kali orang pasti akan berdalih mengatakan belum siap. Karena menikah itu lebih menilik keberanian dan keyakinan yang sepenuhnya bahwa kita akan menerima resiko apapun dalam menghadapi kehidupan ke depan. Tak perlu juga membandingkan, relationship goals dari figur di luar sana. Jika jatuhnya nggak sama, sudah amat berharap - eh tidak sesuai malah membuatmu kalang kabut menyesal.
 
“Kamu baper nggak, kalau didekati lawan jenis, sering ketemu dalam berbagai situasi. Apalagi beberapa kali dia kasih perhatian?”, tanya seorang teman.
“Kamu nggak baper, liat temen nikah duluan? Nikah muda lagi. Kan anjurannya emang gitu buat ngehindarin zina, biar ibadahnya lebih sempurna. Aku aja sering baper.”, tambahnya.

Bagiku semua itu tergantung diri kita menyikapi dan mampu menahan diri. Toh semua juga bergantung pada niat. Masalah sering bertemu dengan lawan jenis. Lalu semisal dia memberi perhatian yang lebih. Ada satu hal yang saya tekankan bahwa ada orang yang menaruh simpati dan kebaikan hati kepada siapapun. (Ya jangan GRlah ya, bisa jadi dia baik ke siapa aja). Jika sulit baiknya memang membatasi.
 
Menikah at the young age bukan sekadar solusi untuk terhindar dari zina, dsb. Silakan nikah muda, cuma jangan karena follow the trend. Ngerasa nggak sih? Some people kalau liat temennya nikah mereka akan ngerasa pressure even tough we know that setiap orang punya level kedewasaannya masing-masing. (pencapaian lain, some people liat temen udah wisuda atau dapet kerjaan. Lalu ngerasa pressure sendiri. Pun minder. Satu sisi emang bisa dijadiin motivasi biar kita tetep usaha. Tapi satu sisi justru bisa jadi penyakit hati – iri dan tambah bikin down).

Mungkin mereka yang memutuskan nikah muda itu, udah tau apa yang harus dilakukan in the future. Sampai menyusun perkiraan atau perencanaan tertentu. Namun dalam beberapa perspektif apakah sudah benar-benar siap? Kalau perempuan mikir dengan menikah segala tanggungjawab apapun hingga menyangkut keluarganya (orang tua dan saudara kandungnya) akan ditanggung si laki-laki. Lalu membatasi tanggungjawab si laki-laki ke keluarganya (it’s means orang tua dan saudara kandungnya). Dan kalau laki-laki mikir dengan menikah segala urusan rumah tangga akan beres di tangan si perempuan. Sedangkan ia cukup bekerja saja, menurut saya keliru. Karena tanggungjawab dalam membangun rumah tangga itu adalah tanggung jawab bersama. Keduanya mampu menjadi patner yang solid, transparan dan saling melengkapi satu sama lain. Setiap ada masalah tidak diselesaikan dengan emosi. Setiap masalah diselesaikan dengan solusi dan komunikasi yang pas.

Saya ingat film "Demi Ucok". Syarat makna sekali, peran utamanya perempuan berusia 27 tahun. Belum mau menikah. Karena masih ingin berkarir. Namun, sang ibu terus-terusan menekannya agar segera menikah. Sedangkan dia tetap berprinsip, bahwa ia akan menikah suatu hari nanti karena memang berniat mengikat keseriusan. Bukan paksaan dari siapa-siapa.
 
Selaras juga dengan pesan ibu saya;
Menikahlah jika itu panggilan hati.  Menikahlah jika kamu benar-benar siap dan berani. Jangan menikah jika belum berniat mengikat suatu keseriusan.

Seluruh opini ini adalah akumulasi dari apapun yang saya baca, lihat dan pahami. Sekarang, belum ada keinginan ke sana. Ada prioritas yang saya dahulukan; membahagiakan orang tua sembari belajar mencintai diri sendiri.

Sekian. Semoga bermanfaat.

sumber ilustrasi/foto: femalist.com

  • view 74