Gelar Sarjana di Persimpangan Dilema

Afifah  Khoirunnisa
Karya Afifah  Khoirunnisa Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Maret 2018
Gelar Sarjana di Persimpangan Dilema

Euforia wisuda meledak bak kembang api yang diletuskan pada malam tahun baru. Haru biru mewarnai siapa-siapa yang menyempatkan hadir menjabat kata “selamat”. Lulus perguruan tinggi, menyandang gelar sarjana, lengkap indeks prestasi berlabel ‘sangat memuaskan’ adalah pencapaian yang paling membanggakan. Rangkuman susah-senang masa perkuliahan selama kurang atau lebih dari empat tahun.

Fresh graduate, begitu kata orang-orang. Acapkali dijatuhi dilema saat menjejaki dunia baru sebagai jobseeker. Beberapa pertanyaan wira-wiri dari berbagai pihak. “Sudah daftar mana? Ambil bagian apa? Sudah beberapa kali wawancara? Kenapa nggak jadi PNS aja” dsb. Daftar lowongan pekerjaan yang ramai terpublikasi melalui lini masa menjadi peluang acak. Layaknya mengisi soal pilihan ganda boleh mengisi lebih dari satu. Belum lagi tempat-tempat yang menyelenggarakan job fair, sudah pasti desak-desakan demi secarik formulir menjadi cerita tersendiri. Apply sana-sini, menunggu panggilan wawancara konon lebih menyiksa dibanding menunggu kedatangan jodoh (eh). Apalagi masih ada modus penipuan. Berdalih perusahaan A membuka lowongan untuk beberapa bagian pekerjaan, namun justru setelah dikonfirmasi pemberitahuan itu tidak resmi. Atau panggilan wawancara dengan embel-embel biaya administrasi sekian ratus dan jaminan memperoleh kursi jabatan yang diincar.

Bukan lagi berita baru, jika angka lulusan sarjana di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat selaras dengan angka pengangguran (jobless). Dikutip dari laman Kompas.com, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, di Indonesia ada 9,5 persen total penganggur adalah alumni perguruan tinggi. Banyak perusahaan besar membuka lowongan, namun hanya diperlukan beberapa orang dari sekian ribu atau juta pelamar yang lolos kualifikasi dan seleksi. Karena perkembangan informasi dan komunikasi telah menuntut persaingan yang semakin ketat. Bermacam faktor menjadi jurang lulusan sarjana lekat dengan sebutan pengangguran dimana;
  • Pertumbuhan ekonomi kurang berjalan baik. Perusahaan enggan melakukan ekspansi tenaga kerja. Sehingga terjadi ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang diperlukan perusahaan. Hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014, 8 dari 10 perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan sarjana yang siap pakai. Karena tidak punya skill dan critical skill.
  • Per Januari 2018 lulusan sarjana bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara ASEAN. Hal ini sebagai dampak berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
  • Lulusan SMA/SMK lebih banyak diserap perusahaan.
Sandangan baru sebagai fresh graduate sebenarnya cukup membikin kelu. Mana kala, memikirkan alasan-alasan logis untuk menentukan perusahaan mana yang akan disasar. Masa perkuliahan yang telah berlalu bukan menitikberatkan pada seberapa banyak teori yang dihafal, melainkan seberapa banyak praktek yang dikuasai. Perusahaan akan mempertanyakan kemampuan apa yang bisa kita yakinkan jika diri kita layak dipertahankan.
 
Idealisme Usai Bergelar Sarjana

Setelah seorang mahasiwa lulus sebagai sarjana, babak pertempuran baru segera menghampiri. Perjuangan semasa merebut satu kursi perguruan tinggi negeri akan kalah dengan perjuangan mendapatkan pekerjaan. Karl Marx mengatakan kita telah diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan. Itu tanda keistimewaan yang dimiliki manusia diatas segala ciptaannya. Pilihan di sini adalah pilihan dalam memilih arah dan arus. Akan memilih perusahaan mana? Akan mengambil posisi sebagai apa? Menuruti kata hati atau kata orang lain? dsb. Semua itu tergantung kewenangan setiap individu. Titik acuannya adalah idealisme. Idealisme secara rasional muncul dari hasil perenungan dan proses penempaan diri. Namun, rata-rata idealisme dapat terpatahkan oleh pola pikir realistis dan doktrin-doktrin yang dipercaya.

Masa kuliah telah membawa pola pikir bagi sebagian mahasiswa untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bidang/kajian ilmunya. Terlebih jika semasa kuliah aktif berorganisasi, selalu melibatkan diri dalam berbagai event, atau mendalami passion yang disukai. Karena inilah modal sekaligus bekal yang mampu mendatangkan keuntungan. Dari idealisme tersebut, ada mahasiswa yang tak terlalu terburu. Hingga menjatuhkan pilihan sementara pada pekerjaan freelance. Namun, menjadi berbeda bagi mereka yang dulu hanya berorientasi pada akademik. Jarang mengembangkan kemampuan atau malah bingung dengan apa yang disuka. Monoton. Bahkan kerap dijuluki mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang). Setelah lulus bertambah bimbang atas kemampuannya. Dan puas dengan prinsip semua bisa dipelajari ketika sudah menjalani. Hingga menjajal banyak lowongan menjadi peluang peruntungan antara diterima atau dicoba lagi.

Sebagian mahasiswa lain mencoba mematahkan idealisme kala berkuliah dulu. Gengsi terhadap gelar yang tersemat di belakang namanya. Jika mendapat jabatan biasa-biasa saja. Berlaku realistis dengan memilih pekerjaan-pekerjaan di luar bidang/ilmu yang ditekuni. Terlebih soal pendapatan yang akan menunjang finansialnya secara tetap di masa depan. Maka, tak salah jika bekerja di instansi pemerintahan (BUMN/BUMD) masih menjadi prioritas pilihan dambaan. Ditambah, hal tersebut masih menjadi doktrin kuat yang disemai oleh kebanyakan orang.

Harapan yang Terbelah

Hidup tak berlaku stagnan hanya kadang terlalu banyak perbandingan saja, ketika siapa-siapa yang disebut terpandang adalah mereka yang berprofesi nyata. Oh, bukankah lintasan tiap orang berbeda-beda beserta keberuntungannya?

Orang tua mulai sedikit cemas. Sang anak tak juga mendapat pekerjaan. Lagi-lagi saat sang anak memutuskan mendaftar lowongan pekerjaan di perusahaan X (notabene tak terlalu dikenal secara umum), mereka langsung mengernyitkan dahi. Lalu memborong banyak tanya.

“Perusahaan apa itu? Ambil posisi apa? Gajinya berapa?”
“Udahlah nggak jelas, pilih lainnya saja. Coba yang lebih ngasih kepastian. Biar orang-orang memandang kamu berhasil. Pilih kerja di wilayah pemerintahan kan jadi jaminan di hari tua.”
“Lhah gajinya cuma segitu. Terlalu rendah. Mbok ya, pikir biaya kuliahmu itu berapa. Harus sebanding dong sama gelarnya”
“Kerja tetap itu keliatan kalau kamu serius dan tanggungjawab. Karena nanti bakal ada tanggungjawab lain yang harus kamu pikirkan dan itu melibatkan orang lain”

Tidak menjadi masalah ketika harapan orang tua dengan anak harus menciptakan dua sisi yang bertolak belakang. Karena orang tua selayaknya menginginkan sang anak mendapatkan suatu hal yang lebih ketimbang orang tuanya. Mereka pun juga menginginkan kehidupan anaknya lebih maju tanpa ragu di masa depan akan seperti apa. Lagi-lagi keputusan dalam menjalani setiap porsi kehidupan adalah utuh dirasakan individu itu sendiri. Mau egois atau tidak tergantung pemahaman masing-masing. Tentunya, sebuah pekerjaan apapun itu harus disesuaikan dengan apakah diri kita betah atau tidak dan bagaimana adaptasi diri kita di sana. Lalu, perihal gelar barangkali bisa direnungkan, apakah sebatas untuk memenuhi kualifikasi tanpa ilmu yang mumpuni atau benar-benar memiliki output yang patut dibuktikan.

Tanggungjawab selepas sarjana akan berbeda kala masih mahasiswa. Orang akan melabeli sarjana sebagai seorang akademisi nan intelek. Orang akan melihat bagaimana kedewasaan sarjana dalam bersikap atau mengelola suatu masalah secara konkrit. Perrtanyaan akan bekerja dimana dan sebagai apa, seharusnya dimaknai dengan upaya penerimaan diri dan upaya untuk menganggap lalu orang-orang yang mengutuk pekerjaan kita tak sesuai harapan, misalnya. Ya, katakanlah mereka tak banyak mengenal pekerjaan kita seperti apa.  

Jangan nyerah kalau ikhtiar masih juga kabur-kaburan. Pesimis kagak dapet kerja. Pesimis sama potensi diri, lalu bilang “Nikah aja yuk”. Hahaha masalahmu nggak akan berkurang, ini soal menempa diri. Lho Tuhan memang suka kalau hamba-Nya banyak sabar to? Makanya terus-terusan dikasih ujian yang bertahap. Coba deh, liat orang-orang sukses di sana mereka bisa gitu nggak secara cuma-cuma. Tapi dengan konsistensi yang dibangun sejak nol. Selamat menyatu dengan ombak. Kamu adalah survivor bagi dirimu sendiri.

Semoga bermanfaat! :)
 
sumber foto/ilustrasi: google.com

  • view 91