#sumpahpemuda2017: Melarik Makna Berbahasa dan Berkarya

Afifah  Khoirunnisa
Karya Afifah  Khoirunnisa Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 November 2017
#sumpahpemuda2017:  Melarik Makna Berbahasa dan Berkarya

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
- Bangun Pemudi Pemuda karya A. Simanjuntak

Pagi itu, saya nostalgia berjalan kaki menyusuri area pecinan Magelang. Rindu masa-masa SMA. Suasana masih lengang. Jajaran pertokoan masih menutup rapat lapaknya. Dan hiruk-pikuk kota masih belum tampak ramai oleh kendaraan. Tak jauh, seorang anak berusia 10 tahun duduk di salah satu selasar toko. Di sebelahnya terdapat satu box besar donat yang tertata rapi untuk dijajakan. Sepagi ini dia ikut membantu ibunya. Tidak bersekolah seperti anak lain karena keterbatasan biaya. Akhirnya, saya membeli beberapa donat - menjadi pembeli pertama agar harapannya tetap menyala. Harapan pulang nanti, dagangannya sudah laris manis.

Dari jarak 100 meter, terdengar nyanyian bait pertama lagu Bangun Pemudi Pemuda dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sejenak saya merasakan kembali semangat para pemuda pendahulu. 28 Oktober 1982 merupakan cacatan sejarah dari para pemuda se-Indonesia yang bersama-sama mendeklarasikan rasa cinta dan bangga mereka dalam bertanah air, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Dulu, kita mengenal ungkapan Bhineka Tunggal Ika, “Berbeda-beda tetapi Tetap Satu”. Giliran dekade sekarang Bapak Media kita – Presiden Jokowi menggagas satu ungkapan baru, “Kita Tidak Sama, Kita Kerjasama”. Keduanya tetap bermakna sama bahwa keanekaragaman suku, budaya, adat istiadat, daerah dsb, tetap mampu dipersatukan dalam semangat membangun bangsa.

Menilik fenomena generasi millennials, agaknya mampu menjadi wacana yang cukup menarik didiskusikan. Apalagi dalam penggunaan sosial media. Segala sesuatu yang nampak sederhana pun secara masif dapat menjadi viral. Jika saya mengunggah foto bocah penjual donat tadi ke media sosial, dengan membubuhkan caption ringkas mengenai makna kehidupan mungkin akan mengundang rasa simpati dari warganet. Mungkin juga bisa ikut menjadi viral karena like dan share-nya. Namun, bagi saya tak perlu. Tanpa harus membaca cerita yang dibagikan seseorang ke media sosial, seharusnya kita memiliki kepekaan dengan membaca lingkungan sekitar secara nyata. Agar tak terlalu serius memegang gawai kemana dan dimanapun tempatnya.

Beberapa hari lalu, saya membaca postingan opini di line. Lumayan viral mengenai generasi millennials.  Dikatakan bahwa generasi millennials atau kerap disebut kidz zaman now lebih mendamba gaya hidup yang serba mewah. Ikut-ikutan. Lihat saja setiap ada tren terbaru entah makanan atau pakaian pasti laris diserbu, tidak peduli berapa nominal biaya yang harus dikeluarkan. Mereka pun tak menyadari bahwa pengeluaran lebih besar dibanding pemasukan. Hal ini, terjadi karena terbentur oleh sikap gengsi. Sejalan dengan itu, infografis republika memaparkan:
•    80 juta millennials lahir pada 1976 – 2001.
•    Millennials rata-rata mengalihkan perhatiannya dari berbagai gawai, seperti PC, smartphone, tablet, dan televisi  27 kali setiap jamnya. Angka ini meningkat dari 17 kali per jam di generasi sebelumnya.
•    Dalam urusan bekerja, millennial lebih tertarik memiliki pekerjaan yang bermakna ketimbang sekadar bayaran yang besar.
•    Dalam urusan konsumsi hiburan, millennial menghabiskan 18 jam perhari untuk menikmati layanan tontonan on demand, bermain game, atau sekadar menonton televisi konvensional

Rasa skeptis saya kembali muncul menanyakan bagaimana generasi millennials sekarang dalam berbahasa dan merealisasikan karyanya. Bukan sekadar menjadi pengikut (followers). Karena, itu tetap menjadi kiblat kuno yang dipercaya lebih menyukseskan daripada merangkak dengan menciptakan sesuatu yang baru.

Bahasa di Jari-Jari Millennials

Saya tidak berniat memaparkan bahasa gaul yang kerap digunakan para millennials. Aneh tapi lucu sih seperti cabs, kuy, dsb. Dalam pembahasan ini saya lebih jauh menanyakan bagaimana generasi millennials berbahasa indonesia yang sesuai dengan tata bakunya. Fokus saya pada sesuatu yang terdikotomi, ketika seseorang menuliskan kalimat menggunakan bahasa asing (bahasa inggris) tapi tak sengaja typo (salah ketik) malah menjadi bual-bualan sampai dikomentari habis-habisan misal,

“Eh, gausah bikin caption pakai bahasa inggris deh. Malu-maluin lu banyak typonya”
“Biar ga salah nyingkatnya pakai kata ‘Does not’ aja. Kurang  tanda petiknya tuh”

Lain halnya dengan seseorang yang menuliskan kalimat menggunakan bahasa indonesia. Kadang tanpa sadar kita sering menggunakan kata-kata tidak baku dan kesalahan pemaknaan pada kata-kata tertentu. Jarang sekali ada celetukan komentar yang berkicau seperti ini,

“Mbak buka KBBInya kata acuh itu artinya peduli bukan tidak peduli.”
“Yang bener itu sekejap, bukan sekejab. Bukan sekedar tapi sekadar”

Nggak bisa dipungkiri saya pun kadang juga masih salah dalam penggunaan kata baku. Cuma jarang dikomentarin. Paling tidak sebelumnya saya sudah ngecek  dulu lewat aplikasi KBBI di gawai.
Dalam butir ke tiga sumpah pemuda yakni “Kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean bahasa Indonesia” jelas pemuda pendahulu mengharapkan kita untuk lebih mencintai bahasa indonesia baik dalam hal bertutur kata, penulisan baku, dan pemaknaan. Namun, orang tua sekarang lebih bangga memberikan kursus bahasa inggris pada anak-anaknya. Sehingga adik-adik kita jadi, lebih fasih berbahasa asing tetapi, sulit berbahasa indonesia dengan baik dan benar. Dalam mata pelajaran bahasa di sekolah, kita kadang lebih senang jika mendapatkan nilai bahasa inggris diatas rata-rata dibandingkan bahasa indonesia.

Saya mengambil salah satu riset kecil dari LPM Kentingan. Riset ini melibatkan 200 mahasiswa di UNS dari berbagai fakultas secara random sampling pada 23-25 Oktober kemarin. Riset ini mengangkat tentang pemahaman dan penggunaan kata baku seperti gawai, daring, lini masa, laman, dan swafoto. Hasilnya rata-rata responden sekitar 21%-43% masih asing menerapkan kata baku tersebut. Bagi saya pribadi, kata baku di atas memang masih kalah ciamik dibanding menyebutnya dengan gadget, internet, timeline, website dan selfie. Padahal, kita hanya tidak terbiasa dan lebih dulu terdoktrin dengan kata serapan. Sehingga dalam kehidupan nyata, kata-kata tersebut relatif sering digunakan dan dipahami dalam komunikasi baik melalui pesan personal maupun percakapan langsung. Namun, setidaknya gunakanlah kata-kata tersebut sesekali.

Merealisasikan Masa Depan Melalui Karya Anak Bangsa

Dari masa ke masa pastilah terjadi suatu pergeseran dalam berbagai aspek. Sekarang adalah era media. Semua orang secara bebas boleh unjuk kebolehan apa saja. Ingin menjadi artis sosial media pun tak perlu susah-susah asal kreatif dalam mengemas suatu konten yang menarik, orang akan dengan cepatnya mengikuti. Saya rasa ini merupakan titik baiknya kemudahan era digital. Generasi millennials hanya dituntut kreatif dan inovatif dalam berkarya. Ingin menjadi penulis juga tak perlu susah-susah, hanya bermodal konsisten menggunakan media sosial sebagai lahan menumpahkan kata-kata.

Contoh konkrit, mulai merambahnya sastra cyber. Berhamburan karya - karya indie. Ada penulis yang karyanya lahir melalui penerbit indie misalnya Azhar Nurun Ala dan Kurniawan Gunandi. Dahulu, orang ingin menjadi penulis harus mengirimkan naskahnya ke penerbit melalui kantor pos tanpa jaminan naskah tersebut lolos seleksi atau tidak. Sedangkan sekarang, beberapa penerbit mulai menyasar sosial media untuk mencari penulis baru dan populer.

Ada pula band dan musik indie seperti Bara Suara, Banda Neira, Batas Senja dan lain sebagainya. Di dunia vlogger ada Gita Savira dengan konten-kontennya yang begitu inspiratif. Dan ada pula, Eka Gurtiwana, seorang penulis lagu, produser rekaman dan komposer ucapan pertama di Indonesia, di mana rekaman perkataan atau ucapan seseorang diubah menjadi suatu komposisi musik. Serta masih banyak lagi. Karya mereka adalah salah satu contoh karya yang memiliki ciri khas tersendiri. Mereka meramu potensi yang ada sepenuh hati, mengembangkannya secara terus menerus agar diminati.

Lalu bagaimana dengan diri kita? Sudahkah berkarya? Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan negara kepadamu, coba tanyakan apa yang bisa kau beri pada bangsamu. Menjadi generasi millennials jangan terlalu menginginkan segalanya secara instan. Kita perlu menerjemahkan hidup yang diterapkan orang-orang dahulu. Merasakan fase sulit. Supaya saat kita menjalani masa depan nanti, tidak terlalu khawatir dengan kegagalan. Meskipun suku berbeda, adat berbeda dan adat istiadat berbeda, kita memikul tanggungjawab bersama mengarahkan posisi bangsa ini kemana di mata dunia.  

Kerjasama yang dimaksud bukan hanya menyoal bagaimana membangun negeri ini lebih baik lagi. Apalagi dengan menciptakan karya yang bermanfaat dan menginspirasi banyak orang. Kita pun harus membangun karakter sendiri. Mengikuti tren boleh asal tidak berlebihan. Asal mampu mengatur keuangan secara bijak. Nanti kita juga akan menjadi orang tua, maka kita pun juga harus membentuk karakter anak-anak kita seperti apa. Ingin dimanja dengan kemudahan atau diajarkan untuk merasakan kesederhanaan?

Saya kadang geli dengan ungkapan generasi micin. Penyuka makanan ber-MSG. Jika diartikan sebenarnya cukup menampar. Kata orang, generasi ini yang tidak mau banyak memikirkan hal-hal rumit – yang gampang saja. Bisa disimpulkan dalam mengambil keputusan secara cepat tanpa perkiraan. Asal apa yang diinginkan terwujud. Asal targetnya tertuju penuh. Tanpa mengukur kemungkinan pahitnya.

Dan yaah.. perjalanan menyusuri area pecinan Magelang berakhir dengan rasa lelah. Lalu saya pulang ke rumah mengendarai angkutan umum. Maka, kata sumpah pemuda, bukanlah seperti gombalan sumpah mati kucinta kau, kekasih. Bukan seperti sumpah anak muda yang menyisipkan janji setia tapi berakhir ingkar kepada perempuannya. Yakin jodoh? Eh.
Tutuplah sejenak gelora cintamu, yang terkesan termehek-mehek itu. Cobalah menggelar sumpah bersama-sama; menciptakan karya-karya yang lebih realistis teruntuk bangsa ini. Bukan karya melukiskan luka di hati seseorang. Hehehe.

Semoga bermanfaat. 

  • view 86