Seharusnya Aku Pulang

Afifah Nurlaila
Karya Afifah Nurlaila Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
Seharusnya Aku Pulang

Berulang kali layar handphone ku berkedip-kedip. Beberapa panggilan sengaja tak kujawab. Banyak sebab yang membuatku enggan berbicara. Linangan air mata yang tak kunjung reda hingga pesan singkat ibu yang menyuruhku segera pulang.
?
Entah panggilan yang keberapa, layar bening itu masih juga berkedip-kedip. Umi calling. Aku ragu mengangkatnya. Bergegas aku pun berlari menuju toilet. Lalu, membasuh muka dengan air. Aku melakukannya begitu khidmat. Karena aku yakin air dapat menghapuskan segala keraguan. Setelah merasa tenang, aku kembali menuju bangku kantor. Kulihat layar handphone tak lagi berkedip-kedip.
?
Aku berganti menelepon ibu. Panggilan tunggu. Barulah beberapa menit kemudian tersambung. Suara sengau terdengar di seberang sana. Ibu, apa kabar? Sehat kan, Bu? Seperti kebanyakan orang, aku memulai obrolan dengan bertanya kabar. Karena katanya, bertanya kabar berarti kangen. Sungguh aku kangen ibu stadium akut :? Alhamdulillah, ibu sehat Nak. Kamu juga sehat, kan? Setelah basa-basi bertanya kabar, ibu kembali membujukku persis seperti yang ditulisnya pada message. Segera pulang ya Sayang, ibu butuh teman. Banyak yang ingin ibu sampaikan. Aku terdiam mendengarnya. Permintaan klise yang sering dikatakannya akhir-akhir ini.
?
Aku bingung harus mengutarakan apa. Ingin bergegas pulang, tapi masih banyak juga kewajiban yang belum kuselesaikan di sini. Aku pun menjawab sekenanya. InsyaaLlah setelah semua kewajiban terselesaikan, aku akan pulang. Doakan saja Bu. Tak berselang lama, ibu menyahut. Ada nada getir yang kutangkap dari sana. Apa tidak bisa kewajibanmu itu dipercepat? Sungguh banyak hal terjadi setelah kau pergi. Ibu ingin mendiskusikannya denganmu. Dan kau tahu apa kabar ibu sesungguhnya? Fisik ibu memang sehat, tapi bagimana dengan hati ibu Nak? Tahukah kau hati ibu sekarang ibarat buah apel yang tengah dimakan ulat. Dan itu sudah setengah berjalan. Barangkali setengah berikutnya, hati ibu akan habis dimakan ulat-ulat itu. Sampai di kalimat itu, Ibu berhenti. Aku kembali mendengar hembusan nafas panjang dari seberang. Sementara aku, tak kuasa menahan air mata yang terus bercucuran.
?
Ibuuu, yang kuat dan sabar ya. Allah bersama kita. Aku hanya mampu menanggapinya demikian. Setelah ini, ibu pasti akan menggiring kembali perbincangan ke topik ?pulang?. Ya, seperti pesan berantai yang dikirimnya beberapa minggu lalu.
?
Sejenak hening. Tinggalah hembusan angin menemani obrolan jarak jauh itu.
?
Ibu kembali mengeraskan suaranya. Kau tahu apa sebab hati ibu seperti dimakan ulat, Nak? Andaikan ibu boleh menggambarkan, ulat-ulat itu adalah perilaku adikmu yang kembali arogan. Balik ke tabiat awal. Tak lagi mau mendengarkan wejangan ibu apalagi bapak. Disisi lain, ulat-ulat itu seumpama fatamargona jarak yang kau ciptakan. Penantian rindu yang tak juga berbalas. Isakan itu semakin deras mengalir. Ibu mendengarnya. Ya sudah selamat melanjutkan aktivitas lagi ya Nak. Air matanya jangan lupa dibersihkan. Bikin kotor. Ibu minta doakan adik dalam sujud panjangmu. Satu lagi, segera pulang ya. Ibu tunggu. Kalimat yang diucapkannya barusan terdengar lebih renyah.
?
Sebelum obrolan nirkabel itu terputus, ibu sempat berpesan. Oh ya satu lagi, jaga diri baik-baik ya Nak. Selamat hidup jauh, semoga setelah ini segera ada yang ngajakin hidup jauh.
?
***
?
Setelah moment itu, aku bertekad menyelesaikan kewajibanku sebelum deadline. Bug yang kemarin-kemarin terlihat buntu, seketika begitu mudah kuselesaikan. Pertolongan demi pertolongan pun datang secara tak terduga. Sungguh benar firman Tuhan, setelah kesulitan pasti datang kemudahan. Aku semakin optimis dapat segera pulang sebelum deadline.
?
Dan benar saja, tangan Tuhan kembali ikut berkuasa. Melalui lika-likunya perjalanan, aku dapat mempersingkatnya menjadi tiga hari. Dari yang seharusnya, proyek berakhir dua pekan kemudian. Alhamdulillah. Setelah mempresentasikannya di depan pembimbing, barulah aku diperkenankan pulang.
?
Keesokan paginya, saat mentari belum juga meninggi dan jalanan ibukota masih terlihat lengang, aku telah sampai di terminal. Bermodalkan tiket bus di tangan, aku sudah tak sabar lagi segera bertemu ibu dan anggota keluarga lainnya. Banyak yang ingin kuceritakan nanti. Tentang kerabat baru yang telah bersedia menemani hingga orang-orang berhati malaikat yang sudi menjagaku disini.
?
Belum selesai aku memikirkannya, nada panggilan masuk berdering. Nomor tak dikenal. Segera saja, aku mengangkatnya. Assalamu?alaikum. Suara diseberang sana menyahut. Bebarengan dengan jawaban salam, terdengar dentuman keras dari balik telepon. Seharusnya kemarin kamu pulang. Dari nadanya, tak asing lagi. Ada apa mbak disana? Aku bertanya was-was. Adik, adikmuu. Adik kenapa? Panggilan tetiba terputus. Tak ada lagi jawaban. Adik, kamu bikin ulah apa lagi sih?

  • view 122