Don't Panic Veteran

Ajen Feriandi Kurniawan
Karya Ajen Feriandi Kurniawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Maret 2016
Don't Panic Veteran

Jika menjadi mahasiswa seperti antrian orang menunggu jatah raskin atau semacamnya, mungkin saya sedang ada diantaranya diantara perasaan penuh harap bercampur cemas. Saya berharap kalau-kalau waktuku akan segera datang, datang untukku. yah dia akan datang diwaktunya untukku, dan ditepatnya, tepat di waktunya. bukan kah dalam harap itu ada satu ruang yang disebut menanti. Yah saya ada disitu bercokol dalam penantian yang entah kapan kunjungnya. Juga tak bisa ditampik jika disana ada kecemasan yang tiap saat begitu kerap menyambangiku-paling tidak ini yang saya alami begitu entah ini cuma perasaan personal saya sebagai mahasiswa siaga mendekati bahaya renim entah lah; toga kau "mungkin!" Ku katakan itu pada diriku setidaknya saya percaya dalam hidup yang tak mungkin itu tidak ada yah tidak ada kecuali kau berpikir hendak menjadi Tuhan itu baru benar-benar tidak mungkin. Toga I'm coming!-Yah saya harus akui saya gusar beraduk campur dengan gamang mendekati ketakutan seperti kopi yang di mix dengan susu dan jahe.
Ahg sudah lah saya menikmati kiniku saat ini, menikmati sementaraku sembari mencoba menetralisir kemungkinan buruk yang selalu saya angapi dalam kebaikan-kebaikkan dalam optimisme. Bukan kah demikian kata Tuhan ia akan selalu mengamini tiap-tiap niat baik hamba-hambaNya.
Tuhan saya tak mau berbicara banyak tentangMu, sebab menyebutMu yang teramat Besar dalam kekerdilanku, dalam keamburadulan jiwaku sebagai hambaMu sepeti pendoa yang meminta surga usai menjadi pendosa ribuan tahun hidupnya. Cukup saya tahu bahwa kau masih memberiku hidup, memberi hidup juga pada semua yang saya sayangi itu lebih dari cukup bagiku. Trimakasih Tuhan sebab kau masih memberiku kewarasan dalam menghadapi kegilaan-kegilaan hidup yang selalu meneror logikaku medekati batas normalnya. Trimakasih untuk kewajaran ujiMu yang masih bisa ku sanggupi melewatinya sejauh ini.
Hagh! Maaf jika saya mengadrik hidup dengan seruan semacam itu, memalukan memang melihat apa yg sudah saya buang sejauh ini, apa yang terlalu saya bengkalaikan dan mengingat lagi tak ada yang dapat saya ambil. Tidak ada!, Harapan-harapan dari mereka-orang tua-yang terlalu meninggi dulunya. saya akui kini semua itu harapan mereka perlahan meleleh seperti bongkahan salju yang diserab terik matahari, aku hanya takut jika harapan itu benar-benar amblas dan tak bersisa selain aku menyadari dan meratapi kesialan ku sebagai manusia gagal. Ahg menjadi manusia percuma dan sia-sia itu lebih berharga Tuhan menakdirkan kambing menjadi hewan yang hanya tau mengembek. Don't panic veteran, hidup hanya perlu kau jalani, menjadi apa hanya tergantung dari kau berbuat apa untuk hidupmu, Bukan dari apa yang kau harapkan tanpa berbuat apa-apa dalam hidupmu.
Maaf Ma, Pa! maafkan bocah nakalmu yang tak kunjung berhenti dari kebandelannya ini. Saya percaya tak ada yang sia-sia dalam hidup ini sebab Tuhan tak pernah menjadi kan apa yang ia jadikan dengan sengaja pun denganku. Saya tahu Tuhan telah menjadikanku, kini tinggal saya yang harus berjalan menuju ke-saya-ku seperti yang telah Tuhan takdirkan.
Sudah lah mari ngopi lagi kita tak perlu merecoki hidup dengan pengandain yang tidak-tidak, mari berspekulasi untuk hidup setidanya dengan begitu kita tak kan perlu merasa rugi dengan apa yang telah kita perjuangkan jika itu tak jadi. Ia kopiku hari ini jauh dari manisnya mungkin karna lidahku terlalu peka mengcap kepahitan hidup sore ini. Tidak-tidak saya hanya bercanda kopiku pahit karna tak bergula 100%, mungkin.

  • view 121