Tak ada lagi nyanyian: gunu naa teekona amaijo asalamua

Ajen Feriandi Kurniawan
Karya Ajen Feriandi Kurniawan Kategori Lainnya
dipublikasikan 17 Februari 2016
Tak ada lagi nyanyian: gunu naa teekona amaijo asalamua

Ini bukan banjir, ini cuma hujan yang tumpah terlalu banyak. Ini bukan banjir sebab banjir sifatnya menenggelamkan bukan merepotkan sedikit. Setidaknya kita tahu kita hanya dibikin repot sedikit saja cuma sedkit tidak banyak. Tapi sadar kah kita hal yang sedikit saja ini sudah cukup bikin kita kalang kabut. Seingatku sepanjang umurku saya belum pernah bertemu banjir ditanah kelahiranku ini belum pernah paling cuma hujan yang melebihi kapasitas selokkan sehingga hanya akan sedikit meluap dijalan-jalan atau paling parah banjir rop itu pun tidak teramat sering dan bisa lah saya katakan itu tidak parah karna belum pernah dalam sejarah desaku orang mati karna banjir rop kenapa saya katakan itu tidak parah yah karna pada umumnya rumah-rumah penduduk adalah rumah dengan tiang(ditempatku disebut rumah panggung) yah paling parah banjir rop itu hanya akan membikin sedikit kerugian kecil misalnya sandal harus hanyut dibawa rop dan kita hanya perlu mencari kalau ketemu atau mengiklaskan dan membeli lagi yang baru atau lebih bagus sekalian. Tapi sadar kah kita akan semua itu, sederhana saja sebenarnya mari kita flashback lagi jauh sebelum hutan dan gunung kita di gundulkan dan di keruk tanahnya yang konon itu banyak kandungan nikelnya katanya begitu, dan kita bangga akan hal itu tentu saja betapa tidak desa kita akan dikenal sebagai desa penghasil nikel seingatku tidak ada banjir itu dalam budaya dan sejarah udik kita. Paling yah paling jika pancaroba seperti ini kita hanya bisa melihat banjir dari televisi yang memberitakan desa-desa di jawa atau di pulau lain tapi nazubillah itu bukan desa kita bukan. Dimana kita menontonnya hanya cukup berkata kasihan sambil menikmati kopi dan pisang goreng dalam rumah bersama keluarga kita, atau paling tidak kita akan berkomentar skeptis bahkna memfonis dengan dalih jawa itu kotor. Kotor segala-galanya wajar kalau Tuhan marah dan mau membersih kotoran-kotoran itu. Paham kah kita bahwa desa kita kini pun telah kotor segala-segalnnya kotor baik karna sikap masa bodoh kita dan kotor karna keserahkahan kita. Bukan kah kita juga semua tahu bahwa kotor itu tidak baik kotor itu akan mendekati kerusakan dan kerusakkan akan mendekati bahaya dan bahaya akan selalu bersifat mengancam. Yah sadar atau tidak kini kenyamanan dan keamanan kita sudah terancam desa kita sudah jadi ancaman siapa yang mengancam? Bukan alam tapi kita yang mengundang alam untuk datang mengancam kita. Kini lihatlah setelah perusahaan asing itu datang membikin gunung kita seplontos kepala saulin lalu mereka tinggalkan begitu saja setelah mereka asik mengeruk tanahnya menumbangkan pohonnya dan sekarang apa yang kita dapatkan? Hutan dan pohon untuk tumbuh lagi butuh bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun bukan semuda bandung bodowoso membangun prambanan dalam semalam. Pun jika pohonnya akan tumbuh apa kah yakin ia bisa kembali seperti adanya sedangkan tanahnya diangkut setiap hari dibawa keluar negri. Begitu lah imbasnya kalau politisi bertemu dengan pembisinis orientasinya tak lain hanya mencari keuntungan dan yang diuntungkan tak lain jelas itu kedua belah pihak. Kita cuma dapat secuil keuntungan selebihnya hanya ampas dan apes yang didapat. Tolong lah tuan jangan lagi datang jangan lagi imingi kami dengan pekerjaan dengan gaji yang banyak jika itu hanya untuk merusak desaku sendiri. Lihat lah tuan-tuan sekarang kami hanya bisa berdoa agar bah tak benar-benar datang. Sedang tuan-tuan sekarang dimana? Sudah lah sekarang kita bisa apa beritual buang sial pun serasa percuma dan sia-sia saja. Sadar kah kita bahwa secara tidak langsung kita membiarkan perusahaan masuk didesa kita seperti kita tengah menanam boom waktu dan barangkali sekarang kita tengah menikmati letusannya pelan-pelan tapi siapa yang bisa menjamin bahwa semuanya akan baik-baik setelah semuanya jadi begini. Sekarang kita bisa apa? Mau memperbaiki dengan menghijau kan kembali? atau kita mengucapkan selamat datang lagi pada perusahaan tambang berikutnya?

  • view 158