Seremoni Kesedihan

Ajen Feriandi Kurniawan
Karya Ajen Feriandi Kurniawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
Seremoni Kesedihan

Ku tekan lagi tombol Play dalam ingatanku, entah ini sudah kali keberapa ratus ribu bahkan mungkin juta aku mengulang-ngulang judul dan cerita yang sama "Tentangmu". Ku putar kembali lalu segalanya bermain begitu. kau yang mula-mula bukan siapa-siapa bagiku dan dimataku tak lebih kau hanya perempuan biasa, sebab semua perempuan akan sama saja sebelum ia menjadi berbeda setelah ia menempati satu ruang istimewa dimata lelakinya pun kau bagiku tak berbeda. lalu ku simak lagi suatu momen sebagai awal dari rangkain kita saling menepaki jalan hati yang sama dalam sejauh itu, kita coba biarkan tangan kita erat menyatu seperti kembar siam pun itu yang kita hendaki tak jauh samanya dengan mereka. jika bisa kita tak ingin sekedar tak terpisahkan dalam satu jiwa tapi jika bisa kita wajib menyatu dalam satu raga yang sama. Bukan kah cinta itu begitu, membikin si penikmatnya benar-benar lupa diri membikin si pecintanya tak pernah befikir ada yang tak bisa dihadapan cinta, dan menjadikan si pecinta larut dalam imajinasinya yang indah bahkan mereka tanpa ragu-ragu akan berkata dengan bangga bahwa dunia ini diciptakan Tuhan dengan sengaja hanya untuk membikin mereka yang bercinta bahagia tak lebih. Pun kita yang pernah larut dalam mimpi dan angan-angan kita yang indah waktu cinta tengah menjadi kan kau dan aku sepasang sayapnya yang bebas terbang menikmati keindahan dan membiarkan angin menderu mengelus halus sayap-sayap kita dengan teduhnya, memasrahkan sayap-sayap kita pada arah kemana ia akan mengayun kita terserah kita tak peduli, dan dimana cinta bukan sekedar sarang untuk pulang bagi lelah kita tapi surga dimana segalanya begitu ada dan nyata. Tidak kah kau tahu bahwa terkadang cinta bisa lebih ajaib dari topi dan tongkat sang pesulap. Tapi itu dulu sebelum cinta membalikan 180 derajat segalanya menjadi luka dan kepedihan. Lalu sampai lah aku menyimak suatu adegan barangkali ini adalah Intermissionnya. aku tarik nafasku sepajang aku menghabumburkannya berharap ia akan segera pergi menyatu bersama udara nyatanya tidak ia kembali lagi masuk memenuhi ruang hatiku yang bagiku ia lebih sempit dari apa pun yang bisa aku bandingkan ?dengan apa saja yang terkecil yang ada disemesta ini. Yah! Sesak itu adalah hari dimana aku harus pergi dan mengakhirinya bukan lantaran tak lagi ada cinta tapi lebih pada aku harus betkata persetan pada cinta. Apa pentingnya cinta? Bagi laki-laki harga dirinya adalah cinta gilanya maaf jika emosi waktu itu membuatku kalut dan mungkin salah. Betapa tidak, nanas muda dan obat-obatan diatas meja yang sama tergeletaknya denganmu diatas kasur. Kau tahu waktu itu bahkan aku tak bisa lagi bicara tapi kau cukup tahu airmataku yang jatuh dan kangkuhanku sebagai laki-laki yang katanya laki-laki pantang menangis. Kau tahu semua tak bisa aku tahan aku runtuh bersama deraiku yang pecah. Itu adalah hari dimana bukan lagi bibirku yang berkata selamat tinggal tapi airmataku yang tumpah dihadapanmu lah yang mengucapkan itu semua. Lalu disekarangku ini, Aku coba mencari detik dimana wajahmu pernah sendu dan basah karna rindu yang sarat padaku: Aku temukan. lalu suegera saja aku menekan tombol Pause ingatanku. aku diamkan beberapa waktu aku biarkan rindu-rindu itu mengobrak-abrikku dengan pahit dan manisnya, aku biarkan emosi mempermainkan perasaanku membikin airmataku jatuh sama seringnya dengan hujan dipancaroba dan juga senyum yang sama riangnya dengan badut. Aku mengenangmu barangkali itu hanya semcam seremoni, atau mungkin ritual bahwa aku juga pernah bahagia juga aku pernah luka seluka-lukannya. Yah cinta memang seperti dua mata pisau yang tiap ujungnya adalah dua kemungkinan untuk menusuk hati dengan bahagia atau sebaliknya. Ahg sudah lah, aku terlalu lelah maka aku tekan kembali tombol Stop ingatanku aku biarkan layar itu senyap lalu hitam

  • view 173