Cerita Dari Pojok Jalanan

Ajen Feriandi Kurniawan
Karya Ajen Feriandi Kurniawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
Cerita Dari Pojok Jalanan

"anjing!" katanya sambil mengangkat seloki itu, entah itu kali keberapa puluhnya tak ingat lagi aku pun semakin tak sadar abidin yang kami mix dari bir dan anggur merah yang kami tambahi batu es agar sempurna namanya: abidin; anggur-bir-dingin. Sementara botol-botol yang sudah di tinggal pergi isinya yang kami biarkan tergeletak kosong, terisi udara dan mungkin juga resah dan rintihan kecilnya sempat masuk dalam botol itu sebelum pergi dan hilang menjadi sunyi dan kenangan. sepertinya botol itu jauh lebih memahami kesedihannya ketimbang sahabatnya yang sudah mendengar keluhnya sama puluhan kali dan aku yang untuk pertama kalinys sebab kits mulai tak fokus dengan omongannya yang mungkin sama kosongnya dengan botol-botol itu
"kamu pernah makan anjing" tanyanya di sela aku angkat abidin dalam selokiku itu, ku hujam matanya dari bening seloki, tak ada gurat canda. Aku lepas kan gelas jauh dari bibirku setelah ku masuk kan abdin dalam lambungku yang segera berkenalan dengan makanan yang lebih dulu masuk dan segera mejadi kotoran. lalu aku beku beberapa waktu. "saya tanya anjing, kamu pernah gak?"
"anjing? saya gak pernah, kalau ayam hampir tiap hari, lagian saya masih hamba Tuhan yang patuh dan masih jadi pemeluk agama yang benar walau mungkin tidak baik" jawabku bercanda sekenanya
"saya pernah dan itu dua kali" ucapnya disana dimatanya aku melihat ada penyesalan dan kesedihan juga kilat kemarahan mungkin juga dendam.
"kalau saja Tuhan mengizin kan saya bertemu anjing itu akan saya tempuki kepalanya dengan sepuluh biji batu bata lalu saya akan kuliti0 kulitnya dengan sisa,sisa nyawanya, memangang dia dalam sekaratnya biar dia tahu betapa nerakanya menjadi anjing seperti ini. Lalu pecah lah tangisnya, menangis lah kawan menangis lah kataku. Yah dia memang benar-benar pernah makan anjing, itu terjadi waktu dia terpaksa harus hidup seperti anjing jalanan, semua itu terjadi setelah ia dikhianati sahabatnya dan kehilangan kepercayaan dari keluarganya semua bermula dari sepeda motornya yang dibawa kabur sahabatnya dan pulang ke rumah memberi tahu keluarganya dan memang akan sulit dipercaya oleh orang waras dengan cerita anaknya yang mungkin agak tidak waras otaknya, yang saban malam mabuk-mabukkan, berkelahi dengan tak jarang menyobek perut lawannya dengan pisau kecilnys, memalak orang-orang seenak maunya, mengganggu anak gadis orang sesuka birahinya. Dia memang preman bahkan dia adalah kepalanya ditakuti oleh preman-preman lain, saya tidak tahu pasti sejak kapan ia menjadi preman yang jelas sejak kecil ia sudah menunjukkan tabiat dan bakat antagonisnya sebagai berandal dan kini dia benar-benar tumbuh menjadi bajingan dengan kebanggaan sekaligus kemuakkan di mata kawan lawan dan orang-orang. Saya membuka lagi dompetku dan membanting duit tiga lembar Seratus ribuan. "itu belikan semua" kataku sahabat kepala preman itu langsung mengambilnya. "ehg anjing jangan ambil semua satu saja balikkin" perintahnya. "tak apa kawan anggap saja kau memalakku dan konpensasinya kau membagi ceritamu padaku" kataku "tapi kau masih dalam perjalanan pulang" katanya lagi " santai saja kawan bensinku masih cukup mengantarku sampai dirumah" kataku lagi.
Semua bermula waktu saya keluar dari sebuah mini market di kota A untuk membeli ai mineral, di sela aku duduk itu aku di hampiri tiga orang berandal saya tahu ini aroma tidak baik, maka aku segera saja berdiri dan mengawali pembicaraan. "permisi bang boleh tanya yang jual minuman disini dimana, kalau boleh tahu sambil ke selonjorkan tanganku "Feri" kataku, dia menyambut tanganku dan berucap "Haliq" ucapnya tegas dan kaku. " boleh kah saya minta tolong ditemani beli dan mau kah abang-abang minum denganku" kataku dengan segera saya membuka dompet dan mengeluarkan tiga lembar duit 50an ribu dan dua lembar duit 200an. "ini bang" kuberikan duit itu. "kamu boleh mau kemana?" tanya preman "saya mau kekota B mau ngelayat keluargaku, saya bisa nginap di rumah abang sambil ngobrol santai dengan abang dan teman-temannya." Pintahku. "Tapi kau mau melayat orang mati apa tidak sebaiknya kau teruskan perjalananmu? Kata kepala preman itu, "tidak apa-apa bang yang mau di kunjungi sudah pergi dan tidur dirumahnya selamanya, dia sudah di kebumikan tadi sore" kataku. "turut berduka bang" kata preman itu. "trimakasih bang" kataku.
"jadi bagaimana?" Tanyaku "yah sudah lim kamu beli sana saya deluan ke markas sama abang ini" perintah kepala preman itu. "ini beli apa?" tanya yang di panggil lim tadi sambil menatap kearahku kepala preman juga, aku paham mereka butuh jawaban. "terserah asal bisa memabukan dan yang pasti tidak bikin kita mati berjamaah, maaf bang becanda. Apa saja terserah lah" kataku sambil bercanda yang di ikuti senyum kecil para preman. "yah sudah beli anggur sama birnya jangan lupa birnya angkat satu krak anggur secukupnya, kamu bisa perkirakan tambah uangmu kalau tidak cukup. Kalau tidak cukup lagi bilang saja seperti biasa Haliq" kata preman itu mengaba-abahi kedua anak buahnya. "Ok meluncur bos" kata salah satu anak buah preman itu. Dalam perjalanan menuju markas mereka sang preman bertanya lagi padaku "kalau boleh tahu siapamu yang meninggal bang? "adik sepupuku kemarin sore kecelakaan tabrak lari, ini terlalu cepat terakhir kami bertemu baru beberapa tahun setelah belasan tahun yang lalu kami tak saling mengetahui kabar. Dia baik sekali, dia selalu mengajak saya ngoborol bertanya banyak hal tentang masa kecilku disana bagaimana, kenakalan yang tak di sukai orang tua waktu kecil, dia seorang perempuan yang baik. Dia yang selalu mengingatkan saya untuk ingat Tuhan, dia sudah menikah dan punya seorang jagosn kecil yang lucu. Lin nama adikku itu, dan ponakkanku yang malang itu Icang namanya, ponakkanku yang menyedihkan itu yang harus menjadi yatim diumurnya yang masih begitu beliannya" jelasku panjang. Aku pun tak menyangka harus menceritakan kesedihanku pada preman ini dan harus didengar olehnya. "Kamu masih kuat minum?" tanya preman itu. Sampai besok juga kuat kok cuma minum kan bukan disuruh mati. Candaku "hahahaha anjing tadi saya mikirnya kamu gak bakal setangguh ini, ternyata saya ditantangin dewa mabuk malam ini" celetuk preman itu. "kamu belajar minum sejak kapan?" tanya preman itu lagi. "sejak lahir saya sudah minum ASI dari ibuku pastinya bukan dari anjing" candaku
"hahahaha anjing, trus kamu pikir saya menyusuh sama anjing?" kata preman itu, agak terpancing entah aku dapat keberanian bercanda senekat ini dari mana. Aku bicara lagi, "bukan kita yang anjing tapi mereka yang bawa kabur motormu dan yang nabrak lari adikku mereka anjing asli benar-benar anjing dibesarkan oleh anjing, dan didik dengan cara anjing mendidik anak-anak mereka" kataku "seloki ini untuk adikmu di surga bang dan untuk anjing yang bawa motorku jika dia sudah mati semoga dia benar-benar terbakar di neraka." kata preman yang namanya mirip nama lain Tuhan itu. "bego dineraka itu gak ada api anjing, yang ada dia beku di neraka jadi es, dingin kaya abidin ini" celetuk salah seorang anak buah preman itu. "kamu yang bego memang neraka kaya eropa ada pergantian musim gitu. Neraka yah neraka membayangkannya adalah kengerian yang bikin kita takut sekali pun ia preman yang menakut kan membayangkan neraka tetap saja menakutkan" jelas kepala preman itu. "jadi kamu juga takut neraka?" tanya anak buah preman itu. "tergantung kalo Tuhan suruh mati secepatnya dan harus ke neraka sekarang saya pasti takut, takut gak bisa bareng kalian, gak bisa kaya gini lagi sama kalian" kata kepala preman. Lalu pecah lah tawa itu diikuti pelukkan tanpa aba-aba membentuk lingkaran persis seperti keseblasan sepak bola memulai pertandingan. "kok kita jadi kaya bencong gini kita ini preman gak boleh melankoli gini" kata salah satu preman disitu. Lalu pecah lagi tawa itu begitu riang. "hegh! ni giliran siapa? Ayo putar lagi minumnya anjing" kata salah satu preman itu. "ehg bang kok dari tadi gak ngerokok?" iyah saya bukan perokok cuma peminum. Satu-satu lah memilih profesi itu biar gak pusing" candaku lalu tertawa lah semunya dengan garingnya. "iyah kalian ngerokok sejak kapan sih?"
Tanyaku, lalu keluarlah beragam jawaban sejak sejak bayi lah, SD Lah SMP lah. "hebat yahg itu pake rokok apa panjang banget yah gak habis-habis" celetukku "hahaha sejak SD sampai sekarang rokoknya panjang yah" berucap salah satu preman disitu. "yang lain itu bocah ingusan dari latar belakang keluarga yang beda-beda, ada yang pisah orang tuanya ada yang merasa muak dengan tekanan orang tua, macam-macam." kata preman Hsliq sambil melihat anak buahnya satu-satu yang sudah terkulai ditempatnya masing. "kamu pernah nyimeng?. Saya masih punya sedikit kamu mau? Tanya sang preman. "pernah tapi jarang sekali, boleh saja kalau ada" kataku sang preman berdiri berjalan agak sempoyongan berjalan menuju rak sepatu sambil menunjuk kan cannabis kering yang di bungkus koran bekas dan dililit solasi itu. "kamu tahu ini tips dari saya tempat teraman barang surga kaya gini, tak lain di tempat yang tidak terduga seperti ini. Taruh dalalm sepatu bekas. Dan sejauh ini, ini masih aman dari jangkauan anak-anak dajal ini. Ucapnya sambil berdiri persis kaya usatad menyampaikan khotbanya di hari jum'at. Dan disitu sadarku benar- benar hampir ambruk. Di selah sadar dan mabuk atau apalah namanya itu. Aku bertanya "kenapa kau tidak membawa kabur motorku, padahal kau bisa melakukannya?" " aku memang sudah tak jadi manusia dimata mereka, tapi aku tak pernah ingin menjadikan diriku seperti anjing. Abang sudah terlalu baik mengajak kami seperti ini, dab saya harus balas kebaikkan abang dengan cara Seperti anjing, tidak! Kami hanya preman suka malak tapi untuk membegal sejuah ini kami tidak terlibat." terang preman itu
trimakasih bang, dan maaf saya sudah mengira yang bukan-bukan. kataku. Tak apa wajar jika kamu punya pikiran seperti itu kepada kami dianggap borok yang hanya sudih di hampiri lalat-lalat. Apa abang punya cita-cita? Tanyaku lagi apa bang? Aku bertanya lagi. "membunuh anjing itu, sekali pun saya akan bertemu dia di neraka saya pastikan akan membuatnya mati untuk kedua kalinya. bukan semata-mata karna sakit hati, atau dendam terlebih saya hanya ingin memberinya pelajaran bagaimsna menjadi manusia yang baik yang bisa di percaya. Ingat bang kepercayaan itu mahal harganya sekali kamu kehilangan itu kamu akan rugi seumur hidupmu." terang preman itu. "ingat jangan mudah percaya pada orang lain seperti Hitler yang tak percaya pada siapa pun selain dirinya sendiri, dan contoh lah nabi kita dia orang yang lurus dan bisa dipecaya. Ceramah preman itu. Dari mana pula dia tahu Hitler, ahg preman yang ajaib. Tapi sinkrinisasinya bagaimana? Di suruh menjadi orang tidak mudah percaya pada orang lain, tapi disisi lain di anjurkan jadi orang yang di percaya orang. Benar-benar penuh ke-ambiguitas-an mungkin paradoksnya adalah percaya kata kuncinya tak lain adalah percaya itu. Entah lah ini efek alkohol plus canabis jadi gaya berfikirnya bisa sekelas para Filsuf.
Ke esokkan siangnya saya bangun dan melihat HP dengan puluhan panggilan dari orang tua, pacar. Says terus mengrim pesan singkat "saya tidur dimarkas preman. Dan alhamdulilah masih baik-baik saja. Sampai di rumah baru saya tepon"
Saya masih sempat mandi, lalu bergegas melanjutkan perjalanan menuju rumah duka. Waktu berpamitan saya didekap para preman itu satu-satu. Mereka menangis sungguh, Tuhan ternyata cinta satu malam itu benar-benar ada, dan ini benar-benar cinta yang tumbuh antara aku dan para preman ini dalam semlam, aku bersyukur Tuhan tak menakdirkan aku masuk dalam sarang preman dengan kelamin yang di sukai para pejantan normal dan bersykur dan berterimakasih, mereka lahir sebagai preman dengan gairah seks yang normal. Bukan kaum sodom.
"ini ada sedikit duit tak banyak tapi cukup untuk sarapan Dan minum motormu" trimskasih para preman yang baik.

Jangan pernah menilai hal itu buruk, sekali pun itu tak baik dalam sangkamu, sebab hal yang kau fikirkan itu baik belum tentu iyah akan baik.

  • view 235