KurinduITD - Lupakah Kita dengan Bhinneka Tunggal Ika ?

Afdhilulhaq
Karya Afdhilulhaq  Kategori Renungan
dipublikasikan 16 November 2016
KurinduITD - Lupakah Kita dengan Bhinneka Tunggal Ika ?

Nenek moyang bangsa kita telah punya nilai-nilai tenggang rasa, kerukunan, dan ketentraman dalam keberagaman. Sampai-sampai kita punya semboyan bersama “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda namun tetap satu jua. Nilai-nilai itu terejawantahkan dalam peribahasa nusantara. Peribahasa sebagai refleksi dari budaya bangsa.

Biarlah kami berikan sedikit banyaknya peribahasa dari berbagai suku bangsa Indonesia yang begitu luarbiasa, agar kita ingat atau tahu atau sadar kembali akan pribadi bangsa kita sendiri, yang membuktikan Indonesia begitu menoleransi akan keberagaman.

 

Peribahasa Batak, Sumatera Utara

Muba dolok, muba duhutna, muba huta, muba uhuma

Artinya : lain gunung lain rumputnya, lain kampung lain hukumnya. Peribahasa ini menggambarkan kesadaran masyarakat tradisional Batak mengenai keberagaman. Misalnya, adat istiadat. Setiap masyarakat memiliki adat istiadat berbeda dan tidak dapat diseragamkan. Contohnya adat tradisi di Batak berbeda dengan Riau, berbeda pula dengan Sunda, dst.

 

Peribahasa Lampung, Lampung

Pak huma pak sapu, pak jalma pak samapu

Artinya : empat ladang, empat gubuknya, empat orang, empat macam pula perilakunya. Menggambarkan bahwa manusia itu jalan pikirannya tidak sama, sifatnya pun bermaca-ragam, walaupun mereka memiliki adat, kepercayaan, budaya, serta tinggal dalam satu lingkungan yang sama.

 

Peribahasa Minangkabau, Sumatera Barat

Dimano Bumi dipijak, disinan langik dijunjuang, dimano sumua dikali, disina aia disauak

Artinya : dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, dimana sumur digali disitu air disauk (diambil). Gamabaran dari kesadaran orang minang dalam menghormati dn memnerima nilai serta adat budaya lain dimana dirinya berada saat itu.

 

Tukang indak mambuang kayu, na buto pahambuih lasuang, nan pakak palpeh badia, nan lumpuah pauni rumah, nan kuwek pambao baban, nan binguang ka disuruah-suruah, nan cadiaklawan barundiang.

Artinya : tukang tidak membuang kayu, yang buta penghembus lesung, yang tuli pelepas tembakan senapan, yang lumpuh penunggu rumah, yang kuat pembawa beban, yang bingung disuruh-suruh, yang cerdik lawan berunding. Pepatah yang juga mengisyaratkan tingginya sikap kemanusiaan orang minang. Juga mengingatkan perlunya menjalin hubungan kerja sama antar manusia dalam komunitasnya. Bahwa setiap orang mempunyai potensi pribadi sendiri-sendiri yang dapat berguna dalam melangsungkan hidup bermasyarakat.

 

Peribahasa Palembang, Sumatera Selatan

Seluang moodeek

Artinya : seluang mudik. Anjuran agar selalu hidup rukun dan damai tanpa saling bermusuhan satu dengan yang lain.

 

Peribahasa Riau, Riau

Tanda idup di dunio, tumbuonyo bebangso-bangso, tando idup bangso-bangso, duduok togak samo tingginyo

Artinya : tanda hidup di dunia, tumbuhnya berbagai bangsa, tanda hidup berbangsa-bangsa, duduk tegak sama tinggi. Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa masyarakat riau pada umumnya mengakui keberadaan suku bangsa lain dan menjunjung tinggi sikap saling menghormati antar suku.

 

Peribahasa Jawa, Jawa

Desa mawa cara, negara mawa tata

Artinya : desa mempunyai adat sendiri, negara mempunyai hukum sendiri. Pandangan kalangan tradisional di Jawa yang menghargai adanya keberagaman. Dimana masing-masing lingkungan wajar jika mempunyai adat kebiasaan yang berbeda-beda. Kaitannya dengan negara, desa telah membentuk kebiasaan untuk lingkungan sendiri yang cenderung lebih luntur. Sedangkan negara memerlukan hukum yang lebih tegas namun bersumber pada adat istiadat yang tumbuh berkembang di masyarakat.

 

Aja drengki, wong urip tunggal sabumi.

Artinya : jangan dengki, orang hidup dalam satu bumi. Dalam masyarakat yang penduduknya menganut berbagai paham dan agama atau kepercayaan, perlulah kerukunan hidup di bina dengan hormat menghormati dan kerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan-kepercayaan yang berbeda-beda itu. Saling mencintai sesamanya dan mengembangkan sikap tenggang rasa, serta menjauhkan sikap permusuhan.

 

Peribahasa Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah

Ela mimbit supak kabuat

Artinya : jangan membawa ukuran beras sendiri, atau jangan membawa adat pribadi. Menggambarkan orang yang tidak dapat menyesuaikan tindak perbuatannya dengan lingkungan dimana berada. Dalam pandangan adat, sikap ini dinilai buruk karena membuat perbedaan sikap tajam dengan orang-orang di sekitarnya.

 

Peribahasa Dayak Kendayan, Kalimantan Barat

Saparati timpurukng naik pahar

Artinya : seperti tempurung naik di atas pagar. Nasihat agar yang kaya jangan hidup bermewah-mewah ditengah mereka yang miskin. Sikap seperti itu dinilai buruk dan tidak memiliki tenggang rasa dengan sesama warga dalam masyarakatnya.

 

Peribahasa Bugis, Sulawesi Selatan

Olakku kuassuseki, olakmu muassuseki

Artinya : takaranku ku jadikan ukuran, takaranmu kamu jadikan ukuran. Setiap orang mempunyai prinsip atau landasan berpikir sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu. Oleh karena itu harus ada saling pengertian atau tenggang rasa supaya tak terjadi pertikaian.

 

Peribahasa Mandar, Sulawesi Barat

Akkei parammu rupa tau onna nakakkeqtoqio

Artinya : angkatlah sesamamu agar engkau ditopang. Jika engkau menghormati orang lain, niscaya mereka juga akan menghormatimu. Salah satu sikap yang harus diwujudkan dalam bermasyarakat adalah membangun kerukunan dan ketentraman lingkungan hidup antar individu. Karena masing-masing orang tidak sama dalam berbagai hal (agama, ras, kedudukan, kekayaan, dll) maka satu sama lain harus saling menghormati atau menghargai perbedaan tersebut.

 

Ungketur untamporok wo ulembe masuat uman

Artinya : Puncak gunung dan lembah sama saja. Maksudnya, jangan membedakan manusia yang satu dengan yang lain, tanpa memandang suku, golongan dan agama.

 

Peribahasa Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

Tumon bembe bo tumon karembaan

Artinya : berlagak kambing dan berlagak kerbau.Dalam pergaulan harus pandai-pandai membawa diri atau menyesuaikan terhadap adat istiadat yang berlaku di suatu tempat dan masyarakat dimana berada

 

Peribahasa Ternate, Nusa Tenggara Timur

Sadang teo se ake, jame ma rasai sala

Artinya : ibarat air laut dan air tawar, rasanya tidak sama. Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam banyak hal tidak dapat terelakkan di dalam kehidupan bersama. Maka, masing-masing orang hendaknya membekal sikap menghargai dan menghormati orang lain meliputi penghargaan terhadap segala haknya yang dilindungi oleh undang-undang, adat istiadat, dan syariat agama.

 

Peribahasa Kei, Maluku

Adat ni dok nain ne hukum ni wai

Artinya : adat punya kedudukan, hukum punya tempat. Ungkapan yang mengingatkan agar orang selalu taat pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dimana ia berada.

 

 

Kami harap itu menyentuh rasa kita, kami harap itu menggugah jiwa kita dan kami harap itu menyadarkan kita bahwa Bangsa ini sepenuhnya menerima keberagaman. Kita bangsa yang sangat toleran. Kita sepenuhnya menolak diskriminasi.

 

Namun yang kita dapati sekarang diskriminasi banyak terjadi. Diskriminasi akan suatu kaum minor, diskriminasi pada hukum, diskriminasi pada sebuah kelompok agama, diskriminasi akan suku, diskriminasi gender, diskriminasi kelompok dan ekonomi.

 

Lupakah kita dengan semua peribahasa diatas ?

Lupakah kita dengan budaya bangsa sendiri ?

Lupakah kita dengan Bhinneka Tunggal Ika ?

 

Untuk itu kami kembali ingin bersuara lantang “Kami Rindu Indonesia Tanpa Diskriminasi”

  • view 327